12 April, 2011 

Cara Iklan Mengendalikan Anda

Oleh: rahadian p. paramita
Tentang: , ,  –  3 Komentar

Video di bawah ini mencoba menjelaskan bagaimana cara kerja iklan dalam mempengaruhi pemirsa, melalui pendekatan emosional. Melalui penjelasan dari sisi psikologis, video ini memaparkan tentang proses pengkondisian (conditioning), yang lalu dikaitkan dengan proses asosiasi suatu konsep terhadap suatu produk.

Video ini rangkaian dari seri Psychology by Sandy. Topik yang diangkap adalah Mental Association, atau asosiasi secara mental. Dalam psikologi, asosiasi secara mental berkaitan dengan kemampuan kognitif kita dalam menghubungkan gagasan satu dengan lainnya. Dalam istilah lain, Mental Association disebut juga Association of Ideas.

Video ini memulai dengan kuis sederhana, dengan meminta Anda membayangkan sesuatu berdasarkan beberapa kata yang disebutkannya. Meskipun makna kata-kata tersebut tidak berhubungan secara langsung antara satu dengan lainnya, tetapi ternyata kita bisa menemukan hubungannya. Ini karena kita sering menonton iklan, yang telah mengkondisikan hubungan antar akata-kata tersebut. Contohnya, Bir dengan Pantai, atau dengan Wanita.

 

Tampilkan Video »

 

Asosiasi yang terbentuk di benak kita, disengaja oleh iklan sedemikian rupa, agar produk mereka mudah diingat. Misalnya, ketika kita berada di Pantai, kita jadi teringat Bir yang dimaksud. Iklan dengan sengaja memang menciptakan kondisi di mana sebuah situasi atau perasaan tertentu, dapat terasosiasi secara langsung dengan citra atau langsung ke produk mereka. Ini akan sangat memudahkan dalam proses positioning sebuah produk, atau brand tertentu.

Misalnya, ketika kita lapar, apa yang terpikir di otak kita? Apakah restoran cepat saji? Warteg? Atau makanan yang biasa disajikan di rumah sehari-hari? Tergantung seberapa kuat pengkondisian yang kita terima, citra itu akan melekat kuat di benak kita. Meski banyak orang mengatakan mereka tidak pernah atau jarang memperhatikan iklan secara serius, tetapi di bawah sadar, apa yang kita dengar sehari-hari, berulang-ulang, akan menciptakan pengkondisian yang kuat. Masuknya pesan di bawah sadar inilah yang membuatnya menjadi tertanam kuat tanpa kita sadari. Ia hanya akan muncul, segera ketika kita berhadapan dengan asosiasinya.

Teori ini pernah diujicobakan oleh Ivan Pavlov, tentang Associative Learning. Pavlov bereksperimen dengan anjingnya, dengan mengkondisikan suara bel dengan jam waktu makan. Saking seringnya mengalami pengkondisian seperti ini, setiap kali si anjing mendengar suara bel, ia langsung meneteskan air liurnya karena lapar. Ia bisa memahami bahwa suara bel identik dengan jam makan. Gilanya, eksperimen ini dilakukan juga terhadap anak-anak!

Adalah John Watson, seorang psikologis yang meneruskan penelitian ini. Ia bahkan meninggalkan studinya di bidang psikologi, lalu bergabung dengan industri periklanan. Ia salah satu yang paling berpengaruh dalam dunia periklanan, dengan teorinya tentang Behaviorism. Berikut adalah kutipan Watson tentang “The Behaviorist Manifesto” dari wikipedia:

Psychology as the behaviorist views it is a purely objective experimental branch of natural science. Its theoretical goal is the prediction and control of behavior. Introspection forms no essential part of its methods, nor is the scientific value of its data dependent upon the readiness with which they lend themselves to interpretation in terms of consciousness. The behaviorist, in his efforts to get a unitary scheme of animal response, recognizes no dividing line between man and brute. The behavior of man, with all of its refinement and complexity, forms only a part of the behaviorist’s total scheme of investigation.

Watson bergabung dengan J. Walter Thompson, salah satu pionir dalam industri periklanan. Beberapa karyanya sukses, dan membuatnya kaya raya, misalnya iklan Ponds seri Cold Cream, dan the “coffee break” selama kampanye iklan untuk produk kopi, Maxwell House. Ia akhirnya pensiun di usia 65 tahun.

Pendekatan pengkondisian seperti ini jamak digunakan dalam dunia iklan. Banyak produk yang bisa diasosiasikan dengan perasaan tertentu, baik perasaan senang, jatuh cinta, patah hati, sedih, bete, dan lain-lain. Belum lagi yang berkaitan dengan benda atau tempat, bahkan orang. Inilah cara yang paling umum digunakan iklan untuk mengendalikan pikiran kita tentang suatu produk, dengan mengasosiasikannya dengan sesuatu yang lain.

Bersikap kritis terhadap asosiasi ini perlu dilakukan, agar tidak dengan mudah mempercayai asosiasi yang dikondisikan oleh iklan. Misalnya, tidak punya handphone dan kampungan. Citra kampungan terhadap orang yang tidak punya handphone, dibentuk melalui iklan, dan kemudian diterima masyarakat luas sebagai sebuah nilai. Kalau kita percaya begitu saja, maka dengan mudah kita akan “meledek” orang lain yang tidak punya handphone. Meskipun handphone saat penggunaannya ini sudah semakin luar, tetapi banyak orang yang tidak terlalu butuh, menjadi seolah-olah harus memilikinya.

3 Komentar untuk “Cara Iklan Mengendalikan Anda”

  1. Ofan

    Sangat menarik…
    Saya selaku mahasiswa “Periklanan” sangat terenyuh melihat analisa sederhana mengenai iklan di artikel ini. Mungkin itu dampak dari kurang nya kesadaran & modal pengetahuan dari setiap Individu audeince. Karena Iklan sendiri dibuat berdasarkan Psikologi Komunikasi yang tentunya berharap akan merubah pola fikir calon konsumen dari audience.

    Thanks

  2. Putri Sarinande

    “yang tentunya berharap akan merubah pola fikir calon konsumen dari audience”
    yang tentunya berharap akan merubah (mengubah) pola fikir (pikir) calon konsumen dari audience penonton/ audience.

    yaaa, dan tentu saja mendongkrak penjualan bukan? *___*

  3. prajnamu

    Tentu saja 🙂 Konsumen loyal tentu mendatangkan keuntungan bagi brand.

Komentar Anda?


Gabung Melekmedia!