1 March, 2010 

Efek Media terhadap Citra Diri (Body Image) #2

Oleh: Pipin Sadikin
Tentang: , ,  –  3 Komentar

Bagian kedua dari tulisan sebelumnya, Efek Media pada Anak Gadis Kita: Citra Diri/ Body Image dan Identitas Gender (Pengantar).

Sejak Perang Dunia II, dimulai dari berkembangnya Media Populer (televisi, film, majalah, dll), maka tubuh kurus semakin terangkat sebagai citra yang ideal bagi perempuan. Bahkan kini, kurus dianggap sebagai “semakin sehat secara fisik”. Di kemudian hari, manusia ideal juga disajikan sebagai langsing, tapi berotot.

Dalam berbagai penelitian ditemukan bahwa:

Asosiasi skematik dilakukan secara sistematis. Pada film-film Walt Disney, Rumble, Kas, dan Nashville (2000; dikutip dalam Klein & Shiffman, 2006) menemukan bahwa asosiasi skematik antara daya tarik dan tubuh kurus dengan kebaikan hadir di lebih dari 100 karakter perempuan yang muncul di 23 film animasi Walt Disney (cel cartoons) yang diproduksi dalam kurun waktu 60-tahun.

  • Karakter wanita kurus cenderung lebih digemari. Fouts dan Burggraf (1999, 2000) juga mengamati bahwa karakter wanita kurus di komedi situasi televisi cenderung lebih digemari daripada karakter wanita dengan berat badan lebih berat, untuk dipuji atau dipasangkan dengan karakter pria. Karakter-karakter bertubuh kurus ini lebih kecil kemungkinannya untuk dihina oleh karakter pria dengan cara-cara yang sengaja dikaitkan dengan “kaleng” dan menciptakan tawa penonton. Di Indonesia pun, karakter bertubuh kurus dianggap bersifat lebih baik dan lembut, serta seringkali bernasib malang sehingga mendapat pertolongan orang lain. Sementara itu, sebaliknya karakter bertubuh besar dianggap lebih judes dan berkuasa, atau lucu serta konyol. Hal ini bisa dikatakan sebagai dampak proses asosiasi yang sistematis dalam media.
  • Tubuh manusia yang diobjekkan. Sejak tahun 1980-an, majalah semakin menggambarkan tubuh perempuan dan laki-laki dalam keadaan telanjang yang diobjekkan. Misalnya, tubuh yang “dipahat” atau “dirobek”, atau otot-otot yang didramatisir seolah menjadi besi atau mesin (Halliwell, Dittmar, & Orsborn, 2007; Paus et al., 2000). Di Indonesia iklan dengan pose di majalah cetak khusus bagi wanita, pria atau remaja pun menerapkan strategi yang sama.
  • Tak ada bentuk tubuh yang memuaskan. Field et al. (1999) melaporkan bahwa sebagian besar dari hampir 550 gadis karyawati remaja tidak puas dengan berat badan dan bentuk tubuh mereka. Hampir 70% dari sampel menyatakan bahwa gambar-gambar di majalah mempengaruhi konsepsi mereka tentang bentuk tubuh “sempurna”, dan lebih dari 45% menyatakan bahwa gambar-gambar tersebut memotivasi mereka untuk menurunkan berat badan.

Lebih lanjut, gadis-gadis remaja yang lebih sering membaca majalah-majalah wanita atau remaja lebih mungkin untuk melaporkan bahwa mereka dipengaruhi untuk berpikir tentang tubuh yang sempurna, untuk menjadi tidak puas dengan tubuh mereka sendiri, untuk ingin menurunkan berat badan, dan menjalankan diet. Pada kenyataannya, di Indonesia obat pelangsing berbentuk jamu, pil atau teh pelangsing sangat laku keras. Obat-obatan ini bahkan dikonsumsi tanpa dilihat lagi bahan-bahan pembuatnya berbahaya atau tidak.

Sebagai dampaknya, gadis-gadis usia remaja yang melihat iklan yang menggambarkan kecantikan model wanita bertubuh ideal ‘tipis’ ini menyebabkan mereka merasa tidak percaya diri, lebih marah dan lebih tidak puas dengan berat badan dan penampilan mereka (Hargreaves, 2002).

Dalam sebuah penelitian pada murid kelas lima, anak-anak perempuan dan laki-laki berusia 10 tahun mengatakan bahwa mereka tidak puas dengan tubuh mereka sendiri setelah menonton video musik oleh Britney Spears atau klip dari TV show “Friends” (Mundell, 2002).

Dalam sebuah studi lainnya tentang dampak media terhadap ketidakpuasan remaja pada tubuh mereka, ditemukan pula bahwa:

  1. Remaja yang menonton acara TV opera sabun yang menekankan pada tipe tubuh yang ideal dilaporkan memiliki rasa ketidakpuasan pada tubuh yang lebih lebih tinggi. Hal ini juga berlaku untuk gadis-gadis yang menonton video musik.
  2. Membaca majalah bagi remaja putri atau wanita juga berkorelasi dengan ketidakpuasan pada tubuh bagi para remaja putri ini.
  3. Identifikasi dengan bintang-bintang televisi (untuk anak-anak perempuan dan laki-laki), dan model (anak perempuan) atau atlet (anak laki-laki), berkorelasi secara positif dengan ketidakpuasan pada tubuh sendiri (Hofschire & Greenberg, 2002).

Bagaimana industri mengambil keuntungan dari situasi seperti ini? Dengan meningkatnya ketidakpuasan terhadap tubuh sendiri, maka secara massal hal ini akan memunculkan kebutuhan untuk “menyempurnakan” dirinya. Kebutuhan ini lalu ditangkap oleh industri – misalnya industri kecantikan – yang akan menawarkan janji-janji menuju kesempurnaan melalui produk yang mereka jual. Melalui iklan, produk-produk tersebut kemawarkan kebahagiaan, kesuksesan, dan kesempurnaan yang diimpikan orang karena ketidakpuasan yang timbul akibat pesan iklan pula. Iklan, menjadi salah satu media utama yang mempengaruhi pencitraan tubuh, baik bagi perempuan maupun laki-laki.

Catatan dari Editor:

Jadi, seperti posting sebelumnya tentang peringatan untuk orang tua agar lebih serius mendiskusikan konsep kecantikan bersama putra-putri mereka, temuan-temuan di atas bisa dianggap semacam argumentasi untuk dipertimbangkan. Peradaban baru, peradaban 2.0 ini akan semakin kencang melaju, dan kalau sampai kita kalah cepat, maka kita akan terus terlambat mengantisipasi.

*Gambar: Dummy Poster for Creadtive 2008 by prajnamu

3 Komentar untuk “Efek Media terhadap Citra Diri (Body Image) #2”

Komentar Anda?


Gabung Melekmedia!