19 January, 2010 

Hasil Penelitian tentang Kemampuan Melek Media

Oleh: rahadian p. paramita
Tentang: ,  –  Komentar Anda?

Penelitian Isti Prihandini tentang Kemampuan Melek Media Pada Lima Siswa Peserta Mata Pelajaran Media Literacy di Sekolah Dasar Islam Lentera Insan Depok ini bisa dibilang salah satu temuan penting yang sulit kita temui terkait kemampuan melekmedia di Indonesia. Semoga hasil penelitian ini bisa berguna bagi pengembangan pendidikan melekmedia di sekolah.

Butir-butir penting kesimpulan dalam thesis ini antara lain, materi mata pelajaran media literacy pada SD Lentera Insan selaras dengan konsep media literacy menurut Silverblatt’s (1995). Dalam konsep tersebut, Silverblatt’s (1995) menyebutkan ada lima elemen media literacy, yaitu (1) sadar akan dampak media, (2) memahami proses komunikasi, (3) mengembangkan strategi menganalisis dan mendiskusikan pesan media, (4) sadar akan pengaruh media pada budaya kontemporer dan individu, serta (5) menghargai isi media.

Sebagian elemen tersebut sudah tercakup dalam mata pelajaran media literacy. Dengan memberikan materi tentang dampak televisi, para siswa diajak untuk menyadari dampak televisi dan pengaruh televisi. Elemen berikutnya, yaitu kesadaran isi media sebagai teks yang memberikan masukan bagi budaya kontemporer dan diri kita, juga sudah mulai disisipkan dalam mata pelajaran media literacy. Para siswa diajak untuk memahami bahwa suatu tayangan, iklan, atau komedi, berandil membentuk perilaku, nilai, sikap, atau pola pikir yang pada akhirnya membentuk budaya.

Kemampuan berpikir yang diperlihatkan anak-anak usia age of reason juga merupakan modal untuk mencapai skill media literacy. Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan berpendapat. Seperti yang dikatakan Silverblatt’s, bahwa salah satu elemen media literacy adalah kemampuannya untuk mengevaluasi pesan dan mengkomunikasikannya (Baran & Davis, 2000: 359). Dengan metode pengajaran media literacy yang lebih banyak berdiskusi atau menyampaikan pendapat tentang suatu tayangan, maka dapat dikatakan bahwa mata pelajaran tersebut memang layak diberikan untuk anak-anak.

Sikap kritis para informan terhadap tayangan dan skill dalam memilih tayangan yang baik dan tidak baik untuk anak-anak sudah tampak. Kekritisan informan ditampilkan dengan kemampuan berpendapat bahwa tayangan tertentu mengandung unsur rekayasa, iklan mengandung unsur persuasif, televisi membawa dampak tertentu terhadap anak-anak, dan mampu memberikan memberikan pendapat tentang tayangan yang ditonton.Dengan demikian, berarti informan tidak menerima begitu saja apa yang disajikan oleh TV.

Para informan yang rata-rata usianya 7 tahun ini mampu mengkomunikasikan hasil evaluasinya kepada orang lain (secara lisan). Dalam mengevaluasi program TV, para informan mengklasifikasi tayangan menjadi tiga macam, yaitu tayangan baik untuk anak-anak, tayangan tidak baik, dan tayangan bersyarat. Pada umumnya, evaluasi yang disampaikan oleh para informan adalah seputar content atau isi tayangan.

Keluarga juga ikut berperan dalam menanamkan melekmedia pada anak-anak. Latar belakang keluarga informan yang beragam menyebabkan perilaku anak-anaknya juga beragam. Peran orangtua yang jelas terlihat adalah dalam pemberian kesempatan untuk mengakses TV. Inilah yang mempengaruhi jumlah jam menonton para informan.

Dalam keluarga para informan juga ditemukan adanya mediasi orangtua pada saat anak-anaknya menonton TV. Mediasi coviewing (orangtua ikut menonton bersama anak-anak) dilakukan oleh semua orangtua informan, namun intensitasnya berbeda-beda. Informan yang ibunya tidak bekerja di luar rumah (ibu rumah tangga) mendapat mediasi coviewing lebih sering dibanding informan yang ibunya bekerja di luar rumah.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa SD Lentera Insan berhasil menanamkan kemampuan melek media pada para peserta didiknya. Indikasinya adalah munculnya sikap kritis anak-anak terhadap suatu tayangan dan skill memilih tayangan. Sikap kritis para siswa ditunjukkan dengan berpendapat bahwa tayangan tertentu mengandung unsur rekayasa, iklan mengandung unsur persuasif, televisi membawa dampak tertentu terhadap anak-anak, dan mampu memberikan memberikan pendapat tentang tayangan yang ditonton. Skill memilih tayangan ditunjukkan dengan kemampuan para siswa dalam membedakan antara tayangan yang baik, tidak baik, dan bersyarat.

Gagasan pendidikan melekmedia, sebenarnya tidak harus menjadi satu pelajaran tersendiri, tetapi menjadi roh dalam pembelajaran mata pelajaran yang lain. Misalnya bagaimana anak-anak kritis terhadap teks melalui pelajaran bahasa Indonesia, atau belajar Matematika untuk contoh yang nyata, yang biasa dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam mata pelajaran PKN misalnya, yang banyak berbicara tentang nilai, kode etik, bisa dikaitkan dengan tayangan-tayangan di televis yang banyak mengabaikan fakta yang berlaku di masyarakat.

Bagaimanapun, penelitian ini bisa memberi sumbangsih dalam dunia pendidikan melekmedia di Indonesia. Berikut adalah abstract dari penelitian Isti Prihandini tentang Kemampuan Melek Media Pada Lima Siswa Peserta Mata Pelajaran Media Literacy di Sekolah Dasar Islam Lentera Insan Depok.

Abstract
The subject of media literacy is one of subjects thought at Lentera Insan Islamic Elementary School which aims to teach media literacy skill to students. This research purposes learning how succes this subject to building student’s media literacy skill. This research uses media literacy, subject of media literacy, and children cognitive development concept. The subjects are teachers, students in second class between 7th-8th years old, and their parents. This research uses constructivist paradigm and qualitative method. In the researching, it’s found out that student who participate in subject of media literacy have critical attitudes and skills for choosing television programs according developmental aging. The critical attitudes are shown by student understanding about unreal performances, persuasive unsure in advertising, television effects in children life, and opinions about television programs watched. Skill for choosing can be seen with student can differ good or bad children programs, and programs with specific condition. The other indicator is “TV diet” or limited watching TV.

Hasil penelitian selengkapnya bisa Anda baca di blog http://notperfectwoman.blogspot.com.

Komentar Anda?


Gabung Melekmedia!