Anger kid by groesel via stock.xchng

Kasus 4 orang anak sekolah kedapatan menggunjingkan guru mereka, dan dianggap menghina pribadi si guru, berujung pada “mutasi” anak-anak tersebut. Menurut laporan detiknews.com, mereka tidak ‘dipecat’ dari sekolah, melainkan dipindahkan. Mereka masih mendapat kesempatan bersekolah di SMU Negeri 4, Tanjungpinang, Kepulauan Riau, hingga mereka mendapat sekolah lain yang mau menerima mereka. Keputusan itu diambil karena si guru, tidak mau memaafkan kelakuan keempat anak tersebut.

Kabarnya, peristiwa ini diduga berawal dari kekesalan si murid terhadap tugas yang mereka nilai terlampau berat. Menurut si guru, waktu itu sudah pertemuan ke lima, dan pada empat pertemuan sebelumnya mereka tidak mengerjakan tugasnya. Guru perempuan itupun memanggil mereka tentang penugasan itu. Entah karena jengkel pada saat dipanggil, salah satu anak membuat status di Facebook, dan bergulirlah ‘diskusi’ menggunakan kata-kata tidak pantas terhadap si guru oleh mereka berempat. Setelah ibu guru itu mengetahui kasus ‘penghinaan’ di Facebook itu, ia memanggil mereka berempat secara baik-baik, dan bertanya perihal ekspresi mereka di Facebook, tapi keempat anak itu tidak berkomentar.

Wakil Kepsek SMU Negeri 4 Tanjungpinang menuturkan, siswa-siswa ini pernah juga membuat masalah dengan guru lain. Polanya sama, dengan menuliskan kalimat yang membuat sang guru merah padam di Facebook. Namun karena kebetulan guru yang diserang waktu itu adalah guru laki-laki yang cukup kuat mental, maka masalah tak diperpanjang.

Berbagai pihak pun bereaksi. Wali Kota Tanjungpinang, Suryatati A Manan menilai, tindakan sekolah yang mengeluarkan empat siswa itu terlalu berlebihan. Anak-anak tersebut seharusnya dibina terlebih dulu sebelum ada tindakan terakhir dari sekolah. “Saya akan panggil Kepala Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang,” kata Suryatati. DPR-RI Komisi X berkomentar senada. Anggota Komisi X (Pendidikan) DPR menilai langkah pihak SMUN 4 Tanjungpinang, mengeluarkan 4 siswanya berlebihan. Semestinya sekolah tidak langsung memberikan keputusan itu.

Tak mau dijadikan pihak yang salah, wakasek membalas para pengkritisi kebijakan sekolah itu, dengan mengatakan bahwa masih untung cuma dikeluarkan, tidak sampai dibawa ke ranah hukum. Tampaknya wakasek ini melihat anak-anak bau kencur yang sedang mencari jati diri itu sudah layak dipidanakan karena kasus penghinaan. “Coba kalau yang dihina keluarga kita sendiri, pasti kita juga kesal. Apa lagi penghinaan itu dilakukan di facebook yang semua orang bisa membanya,” kata Yose.

Ada Apa dengan Masyarakat Kita?

Fakta-fakta di atas, terutama reaksi terakhir dari pihak sekolah mengenai langkah yang seharusnya diambil menyikapi peristiwa ini, tentu tidak terlalu mengejutkan. Pertama, sekolah seringkali tidak mau ambil pusing terhadap anak ‘nakal’. Satu atau dua anak ‘nakal’ adalah pengecualian, dan mengorbankan hak atas pendidikan akibat kenakalan mereka adalah langkah termudah. Kedua, mereka tampaknya tidak benar-benar menyadari, kita sedang dalam berada di masa peralihan menuju peradaban baru.

Peristiwa ini, dan sederet peristiwa yang lalu serta kasus serupa di masa datang, adalah gambaran nyata tentang kesiapan kita memasuki era digital. Teknologi, yang ketika diciptakan berupaya meningkatkan kualitas hidup manusia, pada akhirnya bisa berbalik arah, menistakan kemanusiaan, ketika tidak dipahami benar peruntukannya. Media sosial, bisa disebut sebagai sebuah produk post-modern, karena di satu sisi mengembalikan kita kepada fitrah makhluk sosial beserta kemanusiaannya. Komunikasi multi arah, yang sudah kita kenal sejak lama dalam budaya tradisi, kini dikemas ulang dengan adanya teknologi super canggih.

Makanya tidak terlalu sulit memperkenalkan media sosial kepada masyarakat. Hambatan utama hanyalah persoalan teknologi yang mensyaratkan perangkat dan infrastruktur komunikasi baru. Sisanya, adalah eksplorasi naluri purba manusia untuk berkomunikasi, berbagi, baik dalam bentuk yang paling ilmiah, hingga yang paling ecek-ecek.

Mendadak kita mengalami jet lag. Bukan cuma perubahan teknologi yang harus kita kejar, tetapi juga nilai didalamnya, dan melekat dalam pemanfaatannya. Kalau kita runut, teknologi itu lahir dari lingkungan yang demokrasinya relatif lebih mapan, penegakan hukumnya relatif lebih tegas, dan aturan-aturannya juga relatif lebih jelas. Kedewasaan masyarakatnya, tercermin dalam norma-norma sosial yang berlaku dalam pemanfaatan teknologi tersebut. Soal penyalahgunaan, tidak perlu heran pula. Bahkan di tempat lahirnya, teknologi itu rentan penyalahgunaan. Tapi paling tidak, kesiapan masyarakatnya menjadi antibodi yang ampuh dalam menangkal anomali-anomali tersebut.

Contoh menarik adalah pemanfaatan internet di ranah industri. Sebuah brand yang dikaji dan diberi penilaian miring oleh seseorang, merespon dengan cara menemukan faktanya, lalu secepat mungkin menggunakan hak jawabnya di media yang sama untuk membuat klarifkasi. Bentuknya bisa permintaan maaf, mengajukan saran perbaikan atau solusi, bahkan kesiapan menanggung kerugian. Tentu saja mereka harus rela untuk (terkadang) dimaki oleh konsumen mereka. Sebuah aplikasi online bernama Get Satisfaction – People Powered Customer Service, adalah contoh kongkrit bagaimana industri berinteraksi dengan konsumennya di era baru ini.

Orang boleh bangga memiliki handphone seri terbaru, tapi coba tanya berapa banyak fitur yang dimanfaatkan dari teknologi itu, jawabannya bisa kita pertanyakan ulang.

Sementara penetrasi teknologi seperti tanpa hambatan, prinsip, nilai-nilai dan norma sosial yang melekat dalam teknologi itu tidak serta merta ikut menembus khalayak sasaran. Masyarakat bisa berlomba-lomba memiliki barang-barang telekomunikasi berteknologi tinggi, tapi belum tentu mampu berkomunikasi sesuai dengan tuntutan fitrah teknologi yang digunakannya. Orang boleh bangga memiliki handphone seri terbaru, tapi coba tanya berapa banyak fitur yang dimanfaatkan dari teknologi itu, jawabannya bisa kita pertanyakan ulang.

Perilaku itu harus segera berubah. Bagaimanapun sulitnya, upaya mendewasakan masyarakat harus terus digalakkan. Nasib ke empat siswa di atas, mungkin benar, masih untung daripada harus meringkuk di penjara. Sekolah, yang seharusnya menjadi tulang punggung proses pendewasaan ini, patut berkaca dan intropeksi, apa yang sudah dikontribusikan dalam menjawab tantangan jaman ini. Jangan biarkan para terdakwa membayar mahalnya kegagapan terhadap perubahan ini, karena toh baik korban maupun terdakwa sama-sama harus membayar sangat mahal.

Seperti yang pernah ditulis di artikel Dunia Maya, Hutan Belantara, kemarahan atau frustasi memang bisa termanifestasi dalam beragam cara. Marah itu alamiah, tapi sejatinya cukup sederhana, mereka cuma ingin didengarkan. Ketika pendengar yang baik mampu memahami dan menghayati persoalannya, pendengar lain ada yang memilih tutup kuping atau justru menyiramnya dengan provokasi. Anak-anak ini, biar bagaimanapun adalah anak-anak baik perdefinisi undang-undang maupun secara mental. Mereka masih sangat butuh belajar menghadapi kemarahannya sendiri.

* Baca juga perkembangan internet Indonesia, di blog ini.

* Gambar: by Groesel (via stock.xchng)

2 Komentar untuk “Mahalnya Sebuah Kegagapan Peradaban”

  1. groesel

    Could you please remove the name “jonathan” from the * Gambar: Jonathan-by groesel (via stock.xchng) and also from the name of the picture 🙂
    Would be nice from you!

  2. melekmedia

    Of course. Thank you for visiting 🙂

Komentar Anda?


Gabung Melekmedia!