19 August, 2010 

Pandangan Akademik tentang Melek Media (1)

Oleh: Melekmedia
Tentang: ,  –  1 Komentar

Artikel ini bagian pertama dari 2 seri Melek Media dari sisi akademik. Bagian kedua artikel ini dapat dibaca di sini: Pandangan Akademik tentang Melek Media (2)

Awal gagasan tentang literasi terkait dengan praktek tekstual yang didasarkan pada perkembangan budaya cetak. Ini mencakup kemampuan dasar literasi – membaca dan menulis (dan berhitung) – yang dipandang sebagai alat komunikasi dan belajar, juga sebagai penanda status sosial. Awal tahun 1970-an, literasi menjadi semakin dilembagakan dan diadopsi sebagai standar ideal pendidikan formal (Lankshear & Knobel, 2006). Pada waktu yang sama definisi literasi diperluas untuk mencakup berbagai keterampilan dan cara hidup yang baru.

Kata melek huruf, bahkan bila digunakan secara informal, bermakna lebih dari sekedar “dapat memproses dan memproduksi bahasa tertulis”. Para ahli dengan perspektif sosial-budaya, menyarankan agar literasi dilihat dari kerangka hubungan sosial yang lebih luas dan mencakup konteks budaya serta sejarah. Dalam gambaran media digital dan pembelajaran, Gee (2009) membuat pembedaan yang jelas antara dua perubahan dalam studi keaksaraan. Yang pertama melibatkan penjelajahan keaksaraan sebagai prestasi sosial budaya, daripada sekedar capaian kognitif. Kedua, menyarankan mencari jenis baru keaksaraan yang melampaui teknologi cetak.

Melek media muncul sebagai bentuk kekhawatiran bahwa media massa dan budaya populer mungkin berdampak buruk terhadap penonton – di beberapa negara, khususnya pada kelompok “rentan”- kelompok sosial yang tidak berpendidikan (Sefton-Green, Alvermann, Gee , & Nixon, 2006). Mereka termasuk kalangan etnis minoritas, perempuan dan anak-anak. Sementara pandangan kontemporer terhadap melek media telah berkembang dari gagasan ini, menuju khalayak yang berdaya, walaupun kekritisan pada pesan media tetap menjadi perhatian utama. Livingstone (2003) bahkan menyarankan bahwa keaksaraan harus mengacu pada interpretasi dan produksi teks simbolis pada media – definisi yang dapat diterapkan pada berbagai format media, dari buku-buku, televisi, hingga media online. Formulasi ini mencakup kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan menciptakan pesan dalam berbagai konteks.

Dalam dua puluh tahun terakhir, baik sistem media dan masyarakat secara keseluruhan telah melalui serangkaian transformasi yang signifikan. Teknologi baru memungkinkan fleksibilitas distribusi yang belum pernah terjadi sebelumnya; kemampuan rekombinasi; kapasitas untuk mempercepat pertukaran informasi, serta volume dan kompleksitas informasi (Castells, 2005). Transformasi sosial juga termasuk, antara lain proses globalisasi dan munculnya generasi digital yang selalu terhubung, serta tumbuhnya nilai-nilai partisipasi dan kolaborasi. Perubahan produksi informasi, penyebaran dan penerimaan sekali lagi mengubah cara berpikir ahli tentang media – dan tentang literasi.

Paradigma baru literasi media/melek media (New Media Literacies – NML), muncul dalam menanggapi perubahan bentuk keterlibatan dan interaksi di dunia maya. Wacana di ranah tersebut, memfokuskan perhatian pada peran individu sebagai peserta aktif dalam kreasi dan distribusi artefak budaya (Jenkins, 2006).

Perspektif NML didasarkan pada studi literasi media dan termasuk pula penekanan pada keterampilan evaluasi kritis dan reflektif (Gee, 2010). Tetapi, perkembangan penting terhadap fokus kajian selalu bisa terjadi. Bagi NML sendiri, fokus utamanya pada kesempatan dan tantangan yang dihadapi oleh pendidikan di lingkungan media digital yang semakin kompleks (Hobbs & Jensen, 2009).

NML memiliki kaitan erat dengan berbagai paradigma, mengeksplorasi peran perangkat digital baik sebagai objek dan piranti pembelajaran. Di antaranya adalah literasi internet, literasi digital, literasi abad ke-21, multi literasi, literasi informasi, dan literasi komputer. Semua bidang tersebut berada di bawah payung “Literasi Baru” (Coiro, Knobel, Lankshear, & Leu, 2008). Studi di ranah ini berasal dari berbagai disiplin ilmu, tapi difokuskan pada pemanfaatan teknologi oleh masyarakat. Menurut Coiro et al, “Literasi Baru” ini cair, multimodal, dan beragam. Alih-alih hanya sebagai melek huruf, Literasi Baru dipandang lebih luas sebagai jaringan dinamis yang dipraktekkan dengan wawasan historis, sosial, dan budaya. (Jewitt, 2008). (Bersambung)

Ognyanova, F. (2010). Talking past each other: Academic and media framing of literacy. Digital Culture & Education, 2:1, XX-XX. URL: http://www.digitalcultureandeducation.com/

Satu Komentar untuk “Pandangan Akademik tentang Melek Media (1)”

Komentar Anda?


Gabung Melekmedia!