23 October, 2010 

Racun Budaya Populer bagi Remaja Perempuan

Oleh: Pipin Sadikin
Tentang: ,  –  Komentar Anda?

Kenapa perempuan cantik harus langsing dan berkulit putih? Karena itulah citra yang didapat dari berbagai media massa yang mengepung kita. Tentu ini berkaitan dengan budaya setempat pula, dimana pada daerah tertentu ada persepsi yang lebih menghargai wanita-wanita berbadan subur sebagai wanita yang ‘cantik’. Tapi rasanya persepsi itu ada di belahan bumi yang akan sulit kita temui dalam kehidupan sehari-hari kita. Ilustrasi berikut, mungkin jauh lebih nyata:

Seorang anak perempuan berusia 14 tahun, sedang sibuk mematut diri di depan cermin. Di atas meja riasnya, tergeletak sebuah majalah mode terbitan terkini. Dalam pikirannya sedang berkecamuk berbagai harapan tentang kecantikan yang disaksikannya di atas lembaran majalah itu, dan ia mulai membandingkan dengan dirinya, “Coba kalau beratku bisa berkurang 5 kilo lagi. Atau aku memiliki alat kosmetik yang mereka pakai…” Halaman demi halaman dibukanya, dan raut wajahnya justru semakin menyiratkan harapan yang tak kunjung terpenuhi…

Menjadi cantik memang harapan semua perempuan. Entah bagaimana standar mereka tentang kecantikan. Tinggi langsing, berkulit kuning langsat, rambut hitam tergerai berkilauan, atau entah apalagi. Semua gambaran itu persis seerti wujud para model yang tampil menawan di majalah-majalah, tabloid, atau bahkan di layar televisi.

Media menyajikan standar bagi citra ideal, baik terhadap laki-laki maupun perempuan. Terutama pada perempuan, konsep kecantikan yang disajikannya bahkan sudah menjelma bagaikan siksaan bagi pemirsa berjenis kelamin perempuan itu. Menatap kesempurnaan para model di media massa, seolah sama dengan sedang menempatkan diri dalam alat penyiksa seperti Iron Maiden.

Yang mungkin orang sudah tahu tapi tak mau peduli, segala kecantikan dan kesempurnaan itu adalah karya kolaboratif para kru produksinya. Peran fotografer dalam menentukan sudut pandang terbaik, peran juru lampu yang mampu menghasilkan gambar menawan, belum lagi karya para artis komputer grafis yang mampu mengubah atau memodifikasi ‘cacat’ pada profil si model, agar tampak sempurna di mata pemirsanya.

Iklan, sejak lama memang sudah berupaya melahirkan kebutuhan dengan cara menciptakan kebutuhan. Kebutuhan, akan sangat didorong oleh motivasi untuk mencapai sesuatu yang belum dimiliki saat ini. Apapun yang sudah anda miliki, takkan pernah cukup di mata pengiklan. Konsumen yang baik, adalah mereka yang tak pernah selesai dengan kebutuhannya. Maka, iklan bertujuan menciptakan kebutuhan itu, sesumir apapun prioritasnya dalam kehidupan.

Kebutuhan bisa diciptakan dengan membuat suasana hati si konsumen tidak nyaman dengan situasinya saat ini. Kalau kulit Anda kurang putih, rambut Anda kurang lurus, otot Anda kurang atletis, Anda adalah mangsa empuk bagi pengiklan. Sebisa mungkin, kesempurnaan yang diciptakan iklan akan terus menghantui para konsumen, agar tidak tenang dalam hidupnya. Bahkan setelah mengkonsumsi produk yang ditawarkan, itu baru awal dari jebakan lingkaran setan perilaku konsumtif yang diinginkan semua pengiklan.

Banjir informasi belakangan ini dengan maraknya berbagai media massa di sekitar para remaja, dituding sebagai penyebab utama perilaku baru yang mendewakan satu konsep kesempurnaan tubuh. Konsep tunggal ini terus didengungkan, agar menjadi standar bagi siapapun, dan berbagai iklan mendorong orang untuk mencapai standar tersebut. Sementara di satu sisi, standar tersebut akan terus diubah, atau berubah seiring perjalanan waktu. Seperti yang kita tahu, trend fashion atau gaya rambut sebenarnya hanya berputar-putar dari tren satu ke tren yang lain.

Tetapi menyalahkan media saja bukan pula tindakan yang bijaksana. Generasi muda kita tidak bisa diasingkan dari berbagai terpaan informasi tersebut, yang niscaya semakin hari akan semakin besar. Menyiapkan mereka agar bisa menjadi pribadi yang tangguh, percaya diri, dan bisa berkompromi dengan situasi-kondisi dirinya saat ini, adalah pilihan terbaik. Biarkan iklan atau media massa menggonggong apa yang menurut mereka penting, kafilah tetap bisa berlalu.

Singkirkan saja racun-racun budaya populer tersebut, dan ambil madunya. Kemampuan ini yang perlu dikembangkan bagi generasi muda kita, yang kini digadang sebagai generasi digital. Mereka adalah para digital native, penghuni asli dunia digital yang penetrasinya jauh lebih kuat, karena hampir tak mengenal waktu. Hampir setiap saat, interaksi manusia modern saat ini tidak terlepas dari media-media digital. Kemampuan melek media, memberi peluang detoksifikasi media dari konten beracun yang berpotensi menyeretgenerasi muda kita, terutama para remaja puteri, pada pendewaan satu konsep kecantikan saja.

Komentar Anda?


Gabung Melekmedia!