Situs jaringan sosial telah menjadi sebuah platform yang populer bagi remaja untuk tetap terhubung. Meskipun memiliki banyak manfaat positif, beberapa remaja menggunakannya sebagai alat untuk melakukan cyberbullying. Symantec’s Norton, perusahaan security yang dikenal dengan produk antivirus, membuat studi mengenai cyberbullying di Kanada dan Amerika Serikat. Survey bertajuk ‘The Norton Cyberbullying Survey‘ melakukan polling terhadap orang tua dari sampel di negara masing-masing tentang pengalaman online anak-anak mereka.

Dan hasilnya, cukup mengejutkan. Beberapa butir yang sama ditemukan baik di Kanada maupun di Amerika, misalnya mengenai sebagian besar anak perempuan yang lebih rentan menjadi korban, dan orang tua tidak memberi privasi pada anak; mereka rajin memeriksa komputer anak mereka, untuk mengetahui apa yang dilakukannya di internet.

Berita menarik lain soal dirilisnya hasil survey di Amerika, saluran abcfamily.go.com meluncurkan film tentang Cyberbully, dengan judul yang sama. Sayang film dari website maupun dari Youtube tidak bisa diakses dari Indonesia. Tapi beberapa pembahasannya bisa dibaca di blog mereka. Film itu diputar pertama kali tanggal 17 Juli 2011 yang lalu. Video promosinya bisa dilihat di bawah ini:

http://www.youtube.com/watch?v=tMaG0j9X1Hw

Show »

 

Ringkasan Temuan dari Kanada

  • Seperempat orang tua yang disurvei (26 persen) mengatakan bahwa anak mereka telah terlibat dalam insiden cyberbullying. 66 persen di antaranya mengatakan bahwa anak mereka menjadi korban, 16 persen mengaku anak mereka pelakunya, dan 18 persen mengatakan anak mereka menjadi saksi dari insiden semacam itu.
  • Selain itu, 32 persen dari orang tua menyatakan mereka tidak sepenuhnya tahu apa yang anak mereka lakukan di internet. 44 persen lainnya takut perilaku anak mereka dapat mengundang para predator online.
  • Survei juga menemukan bahwa anak perempuan lebih sering terlibat dalam insiden cyberbullying daripada laki-laki. Angkanya cukup mengejutkan, 86 persen orang tua mengaku anak perempuannya telah menjadi korban, sementara 55 persen yang mengaku anak laki-lakinya jadi korban.
  • Lebih dari 50 persen orang tua mengklaim telah menggunakan piranti untuk memonitor penggunaan internet oleh anak-anak mereka. Privasi untuk anak hampir tidak ada; 42 persen orang tua menyatakan mereka memeriksa mengecek sejarah browser anak-anak mereka untuk memeriksa apa yang dicari di internet.
  • 43 persen orangtua menyatakan tidak keberatan anak-anak mereka yang berusia 8-12 tahun memiliki akun di jejarong sosial, selam, dibawah pengawasan orang tuanya. Padahal, usia minimum untuk memiliki akun jejaring sosial rata-rata adalah di atas 13 tahun. Facebook misalnya, mengadopsi aturan ini.

Laporan survey ini dimuat di newswire.ca, sebuah situs yang memberi layanan press release. Dijelaskan survey ini dilakukan sekitar bulan Februari 2011, terhadap 507 orang tua, laki-laki dan perempuan secara acak, yang memiliki anak berusia 8-18 tahun, dan tinggal di daerah Calgary, Halifax, Montreal, Toronto, dan Vancouver, Kanada. Laporan itu sendiri dimuat tanggal 17 Mei 2011 yang lalu.

Ringkasan Temuan dari Amerika Serikat

  • Dari 24 persen responden yang mengatakan anak mereka telah terlibat dalam insiden cyberbullying, 68 persen mengatakan anak mereka telah menjadi korban, sementara 17 persen mengatakan anak mereka pelakunya, sementara 15 persen mengatakan anak mereka menyaksikan insiden semacam itu.
  • Hanya 40 persen orangtua yang memiliki anak yang menyaksikan cyberbullying mengatakan mereka akan berbicara dengan mereka tentang bagaimana menghentikan hal itu.
  • Anak-anak SMP (middle school) lebih rentang menjadi korban, dan sebagian besarnya perempuan. Anak perempuan ternyata lebih rentan menjadi target cyberbullying daripada anak laki-laki.
  • Hampir setengah (43 persen) dari semua orang tua yang disurvei juga tidak memiliki perangkat lunak ramah anak yang diinstal pada komputer mereka, dan 6 persen lainnya tidak tahu apakah mereka memasangnya. Yang cukup menarik, privasi untuk anak hampir tidak ada; 40 persen orang tua mengaku mengecek sejarah browser anak-anak mereka untuk memeriksa apa yang dicari di internet.

Survey Norton itu membuat polling terhadap 1,068 orang tua di Amerika, yang memiliki anak berusia 8-18, dengan marjin kesalahan diperkirakan 3 persen. Polling itu dilakukan secara online. Demikian laporan dari pcmag.com tertanggal 14 Juli 2011.

*Gambar diambil dari digitaljournal.com

Komentar Anda?


Gabung Melekmedia!