19 March, 2010 

[kompas] Budaya Tampil Merebak

Oleh: Melekmedia
Tentang: ,  –  Komentar Anda?

Jakarta, Kompas – Kalangan remaja dan anak-anak saat ini terjangkit budaya tampil seperti yang dipertontonkan di berbagai media mainstream, khususnya televisi. Remaja lalu menemukan saluran hasrat tampil itu melalui internet, tetapi dampak buruknya kerap tak disadari.

Hal itu diungkapkan Kahardityo, peneliti dari Pusat Kajian Sosiologi Universitas Indonesia. ”Dulu, segelintir saja orang yang bisa tampil di media mainstream. Sekarang media mainstream memberi ruang bagi orang biasa untuk tampil. Internet akhirnya juga menjadi saluran,” kata Kahardityo, Selasa (9/2). Fenomena tampil itu, kata Kahardityo, lantas kerap berlebihan, bahkan melampaui berbagai pembatasan nilai atau norma di dunia nyata.

Dunia siber, kata Kahardityo, dipenuhi dengan informasi yang amat berlimpah tanpa filter. Derasnya arus informasi itu pada akhirnya membuat remaja gamang. Sebab, keyakinan pada nilai-nilai dan norma-norma di masyarakat di mana dia hidup di dunia nyata lama-lama kian tereduksi. Di dunia siber, segala pembatasan di dunia nyata seolah terlepaskan.

”Sebab, di internet seseorang bisa anonim sehingga bisa lebih bebas,” kata Kahardityo.

Ia mencontohkan, remaja mulai berani tampil lebih vulgar di internet seiring dengan berbagai fasilitas teknologi yang mendukung. Jika dulu pertukaran foto erotis berlangsung melalui surat elektronik, saat ini dengan fasilitas ponsel cerdas yang dimiliki, remaja menjadi lebih leluasa. Padahal, aktivitas tersebut berpotensi mereka mudah tersasar perbuatan kriminal, baik secara virtual maupun nyata.

Kasus prostitusi anak di internet melalui jejaring sosial Facebook di Surabaya, Jawa Timur, misalnya, merupakan refleksi dari fenomena tersebut.

”Kita tidak cukup mengeblok saja. Kembali ke penanaman nilai-nilai dan norma-norma yang kuat kepada anak-anak atau remaja oleh orangtua atau keluarga,” kata Kahardityo.

Kontribusi warnet

Sementara itu, untuk menangkal atau mengeblok situs-situs yang tak layak dikonsumsi anak- anak, sejak dua tahun terakhir Asosiasi Warung Internet Indonesia (Awari) sudah membuat dan menggunakan program penangkal bernama DNS Nawala di warnet-warnet anggota asosiasi. ”Memang resminya, penggunaan DNS Nawala baru diresmikan 17 November 2009, tetapi sebenarnya kami sudah menggunakan program itu sejak dua tahun sebelumnya,” kata Ketua Awari Irwin Day.

Irwin mengakui, selama ini pihak pengusaha warnet seolah menjadi terdakwa dari makin merebaknya pornografi, terutama yang bisa dengan mudah diakses anak-anak dari warnet yang makin banyak bertebaran di seluruh Nusantara.

”Kami juga peduli terhadap keselamatan anak-anak kita dari pengaruh buruk situs tak bertanggung jawab itu,” lanjutnya.

Sejak diluncurkan, pihaknya kebanjiran permintaan dari para anggota asosiasi maupun masyarakat. ”Setiap hari paling tidak ada 70.000 permintaan per menit atau 100 juta permintaan per hari,” ujar Irwin.

Awari dengan sukarela membagikan program itu kepada warnet, sekolah, dan perseorangan yang berniat mengunduh program itu. ”Silakan buka situs kami dan langsung mengambilnya karena di situ sudah ada petunjuknya. Semuanya gratis,” katanya. (SF/TRI)

* Mengenai cara memanfaatkan DNS Nawala, dapat Anda baca di tautan ini. Tersedia panduan untuk Anda yang menggunakan Windows, dan Mac OS (Leopard).

Komentar Anda?


Gabung Melekmedia!