10 February, 2010 

Menangkal Ancaman Dunia Maya terhadap Anak

Oleh: rahadian p. paramita
Tentang: ,  –  Komentar Anda?

Baru saja selesai menulis artikel tentang Eksploitasi Anak dalam Industri Media, muncullah koran Kompas pada tanggal 8 Februari yang lalu dengan berita utama berjudul Predator Incar Anak Kita. Dunia maya, seolah kini sudah menjadi lapak baru bagi para penjahat. Jangan terlalu heran, karena hal itu sudah terjadi sejak dulu. Ingat jaman carding? Pemalsuan kartu kredit untuk berbelanja di luar negeri?

Tapi kasus kejahatan itu kini sudah menjadikan anak di bawah umur sebagai target. Melalui sebuah akun jejaring sosial Facebook, seseorang dan jaringannya beroperasi layaknya germo, menawarkan ‘barang’ dan aktif mencari pelanggan di internet. Anak-anak ABG pun jadi ‘korban’. Mereka menawarkan diri dengan memajang foto mereka di sebuah akun, lalu melalui fasilitas chatting transaksi pun dilakukan. Pembayaran bahkan sudah bisa dilakukan secara online.

Kalau merujuk UU Hak Anak, yang disebut anak adalah mereka berusia 0-18 tahun. Mereka ini seharusnya masih dilindungi, sehingga banyak praktek anti-prostitusi di dunia yang melarang dengan keras siapapun menyimpan gambar anak berusia di bawah 18 tahun dengan pose erotis. Siapapun yang tertangkap melakukannya, akan dihukum berat.

Apa yang dilakukan jaringan prostitusi ‘iseng’ melalui facebook, dengan memperdagangkan anak ABG yang rata-rata masih di bawah 18 tahun, sudah sepantasnya mendapat ganjaran berat. Bisnis yang diakuinya diawali dari iseng bersama teman, dilakukan dengan sadar untuk mendapatkan keuntungan.

Ancaman terhadap anak kini kian nyata di dunia maya. Tidak saja melalui perambah di komputer rumahan, atau di warnet, tetapi yang lebih berbahaya lagi adalah apa yang terjadi di telepon genggam mereka. Saat ini, sudah banyak telepon genggam yang dapat mengakses internet, dan masih sulit mengawasi perilaku berinternet anak melalui telepon genggam mereka. Padahal, kasus juga sudah mulai merebak. Tentang pertukaran video porno di antara anak SD, pembuatan video kekerasan dengantelepon genggam, dan seterusnya.

Tidak adanya pembahasan melek media di sekolah, membuat guru maupun orang tua tidak berkutik. Bahkan dalam laporan beberapa media massa, banyak orang tua yang gaptek, dan bahkan tidak tahu apa itu internet. Kompas menyebut kalangan orang tua itu sebagai digital immigrant, sementara anak-anak kita sekarang adalah para digital native. Tentang ini sedikit banyak sudah pernah dibahas dalam artikel Dunia Maya, Hutan Belantara.

Anak-anak yang digambarkan sebagai digital native, menurut Kahardityo, merupakan kalangan serupa penduduk asli di dunia digital saat ini. Mereka lahir dan tumbuh di era digital yang menjadikan mereka memiliki cara berpikir, berbicara, dan bertindak berbeda dengan generasi sebelumnya yang diibaratkan sebagai digital immigrant. Adapun kalangan orangtua saat ini diasosiasikan sebagai digital immigrant atau penduduk pendatang yang masih berusaha beradaptasi di dunia digital. Sekalipun, dunia tersebut awalnya ditemukan dan dikembangkan oleh penemu dari kalangan ”imigran” itu sendiri. – Kompas.

Dari web pbs.org, ada pembahasan mengenai internet dan remaja dalam artikel berjudul Not Their Parents’ Online World. Di akhir artikel tersebut, diuraikan hasil penelitian MacArthur Foundation selama 5 tahun yang berupaya menemukan bagaimana teknologi dijital mengubah cara anak-anak kita belajar, bermain, bersosialisasi, dan berpartisipasi sebagai warga. Salah satu hasil dari penelitian ini, Henry Jenkins, seorang profesor dari Massachusetts Institute of Technology, menyarankan 11 keterampilan yang harus dimiliki anak, dan harus dikembangkan secara terus menerus oleh orang tua dan guru. Itu jika kita masih berharap anak-anak kita menjadi partisipasi aktif, kreatif, dan beretika di dunia baru ini.

Berikut 11 keterampilan yang disarankan Henry Jenkins:

  1. Play: the capacity to experiment with your surroundings as a form of problem-solving. Anak harus dapat menggunakan fitur-fitur atau sarana yang tersedia di internet sebagai alat untuk memecahkan masalahnya. Misalnya, sebagai alat untuk mencari informasi dalam membuat karya, atau mencari jawaban atas pertanyaan/fenomena yang sulit dimengerti.
  2. Performance: the ability to adopt alternative identities for the purpose of improvisation and discovery. Anak harus memiliki keterampilan menggunakan identitas alternatif untuk tujuan improvisasi dan pencarian. Saat ini anak pasti mengenal avatar sebagai ‘identitas’ kita di dunia online, hal ini bisa didayagunakan dalam kasus privacy.
  3. Simulation: the ability to interpret and construct dynamic models of real world processes. Anak harus mampu menginterpretasi dan merekonstruksi apa-apa yang ada di dunia maya, ke dalam situasi di dunia nyata. Banyak hal yang akan ditemukan sebagai hal-hal yang mustahil, khayalan, dan imajinasi belaka.
  4. Appropriation: the ability to meaningfully sample and remix media content. Dalam konteks melek media, anak-anak bukan saja sebagai konsumen, tetapi juga sekaligus produsen. Karenanya, anak harus terampil memilah materi yang layak digunakan kembali menjadi karya baru.
  5. Multitasking: the ability to scan one’s environment and shift focus as needed to salient details. Memandang terlalu detil sebuah kasus, dapat menjebak sudut pandang kita menjadi sangat sempit, karenanya anak harus terampil berpikir secara simultan. Dengan kemampuan ini, anak diharapkan membaca cepat, dan menangkap butir-butir penting dari satu materi ke materi yang lain secara komprehensif.
  6. Distributed Cognition: the ability to interact meaningfully with tools that expand mental capacities. Ada banyak sekali fitur di internet, atau khususnya di media sosial yang saling terkait. Terampil menggunakan satu fitur, dan mengintegrasikannya dengan fitur lain, dapat meningkatkan interaktifitas, karena menghubungkan anak dari satu jaringan ke jaringan lainnya.
  7. Collective Intelligence: the ability to pool knowledge and compare notes with others toward a common goal. Ketika akan menggunakan informasi di dunia maya untuk tujuan tertentu, maka keterampilan untuk mengoleksi informasi, dan membandingkannya dengan yang lain berikut catatan perbedaannya, dapat memperkaya koleksi informasi itu sekaligus memahami perbedaan susut pandang sumber yang dikoleksi.
  8. Judgment: the ability to evaluate the reliability and credibility of different information sources. Begitu banyaknya sumber informasi di dunia maya, terkadang menjadi kendala besar untuk memastikan mana sumber yang kredibel atau valid, dan mana yang tidak. Keterampilan dalam menilai mana yang kredibel dan tidak, sangat diperlukan agar tidak salah menggunakan/mengutip sumber informasi.
  9. Transmedia Navigation: the ability to follow the flow of stories and information across multiple modalities (eg., computer, cell-phone, TV). Media informasi saat ini sudah sangat kaya, dan masing-masing bisa punya sudut pandangnya sendiri. Berita koran, televisi, di internet, meski membicarakan topik yang sama, dapat berbeda dalam hal sudut pandang pemberitaan. Bahkan di antara media yang sama, misalnya sesama koran, topik yang sama bisa dibahas dari sudut yang berbeda, sehingga menghasilkan respon pembaca yang berbeda pula. Keterampilan ini menyoroti bisa atau tidaknya anak merangkai alur yang disajikan berbagai media, dengan berbagai sudut pandangnya.
  10. Networking: the ability to search for, synthesize, and disseminate information. Berjejaring, saat ini sudah menjadi platform dasar di beberapa media di internet. Pamor media jejaring sosial saat inipun sedang melambung, karena banyak orang sangat berminat untuk terlibat di dalamnya. Esensi berjaringan, sebagai wadah berbagi, membutuhkan kemampuan dalam menemukan sumber informasi, mengemasnya, dan kemudian membagikannya kepada orang lain agar lebih bermakna.
  11. Negotiation: the ability to travel across diverse communities, discerning and respecting multiple perspectives, and grasping and following alternative norms. Media baru dengan paradigma user generated content, membutuhkan kemampuan untuk menjadi sangat demokratis, melalui sikap mau menerima perbedaan yang pasti muncul dalam berjejaring. Dalam suatu forum di dunia maya, anak diharapkan mampu berinteraksi tanpa memaksakan pandangannya, sekaligus mampu menerima pandangan orang lain meski ada perbedaan yang besar. Keterampilan memahami perbedaan itu, adalah bagian dari demokratisasi yang dibutuhkan untuk berinteraksi di dunia maya.

Informasi lebih lanjut mengenai keterampilan ini, dapat dilihat di sini: Confronting the Challenges of Participatory Culture: Media Education for the 21st Century (PDF).

10

Komentar Anda?


Gabung Melekmedia!