14 July, 2011 

Mengapa Media Sosial Ditakuti?

Oleh: rahadian p. paramita
Tentang: ,  –  Komentar Anda?

Banyak orang mengutip pepatah “Vox populi, vox dei”, yang diterjemahkan secara literal menjadi “Suara Rakyat, adalah Suara Tuhan”. Tapi bagaimana memaknai pepatah itu sebenarnya? Dan apa pula hubungan judul tulisan ini dengan pepatah itu?

Media sosial, digadang sebagai revolusi baru media yang membuat orang awam punya ruang untuk buka suara. Meskipun dengan sistem perwakilan -dimana kita sudah punya wakil yang harusnya menyuarakan kepentingan rakyat yang diwakilinya- seharusnya peran media sosial tidak perlu-perlu amat. Tapi kenyataan di lapangan tidak seperti teorinya.

Sistem perwakilan kita mendapat kritik pedas, karena demokratisasi yang berjalan pun masih perlu pendewasaan. Wakil rakyat yang terpilih ternyata dianggap tidak punya rekam jejak yang layak dianggap sebagai wakil rakyat. Mereka bisa terpilih karena populer, sebagian adalah selebritis, dan sisanya dituding lolos karena politik uang.

Tapi baiklah. Itu adalah wacana yang berkembang belakangan ini. Kehadiran media sosial, telah membunyikan suara-suara yang dulu tak terdengar. Beragam informasi yang tak terliput media massa arus utama, kini punya salurannya sendiri. Setiap orang punya kesempatan untuk menyuarakan kepentingannya. Di berbagai belahan dunia, media sosial terbukti telah bermanfaat untuk melawan kesewenang-wenangan penguasa. Media sosial lalu identik dengan revolusi. Kasus revolusi di berbagai negara di tanah Arab menjadi contoh kasusnya.

Ternyata, keampuhan media sosial memunculkan ketakutan tersendiri bagi penguasa. Negara-negara yang terkenal dengan kediktatorannya aktif memblokir media sosial, bahkan lebih jauh lagi, mereka memfilter internet. Internet bisa dinikmati di sana, tetapi dengan konten yang sangat terbatas. Tidak satupun konten yang dianggap melawan kebijakan pemerintah, akan lolos ke publik. Negara seperti Cina, dan Korea Utara adalah contoh yang konkrit. Cina, bahkan terkenal dengan Great Firewall of China.

Belakangan, Pemerintah Indonesia juga mulai mengeluh dengan keberadaan media sosial. Presiden SBY sendiri berpidato panjang lebar tentang bagaimana media telah mengakibatkan ketidaktenangan politik. SBY mengkritik media, yang menggunakan SMS atau BBM, serta status twitter sebagai bahan pemberitaan. Menteri Tifatul Sembiring, menyatakan pemerintah memiliki kewajiban mengontrol media sosial, agar tidak terjadi kekacauan seperti yang terjadi di Tunisia, Libya, atau di Malaysia.

Di sinilah pepatah Vox populi, vox dei seperti mendapatkan ruangnya. Karena suara rakyat adalah suara Tuhan, maka banyak yang menganggap media sosial – saluran suara-suara awam- sebagai jalan keluar. Rakyat pun bersuara, dengan beragam cara dan nada. Ada yang sumbang, ada pula yang merdu. Ada yang pedas ada pula yang manis. Karena kesimpulan inilah mungkin media sosial kemudian ditakuti oleh penguasa lalim.

Tapi tentu tidak bisa semena-mena diterjemahkan secara naif. Pepatah itu tidak bisa diartikan bahwa rakyat bisa melakukan apa saja. Termasuk di ranah media sosial. Ada aturan yang juga tetap harus dipatuhi. Ada norma dan etika yang harus dipahami agar tidak menyebabkan ‘kekacauan’. Media sosial bisa bermanfaat jika didayagunakan sebagaimana mestinya.

Tapi tetap saya tidak sepakat dengan gagasan mengontrol media sosial. Manusianya yang harus dicerdaskan.

*Gambar diambil dari planetoddity.co

Komentar Anda?


Gabung Melekmedia!