Mizuko Ito atau akrab dipanggil Mimi Ito, adalah seorang antropolog kebudayaan yang meneliti mengenai media baru. Ia pernah terlibat penelitian tentang bagaimana anak-anak (dan remaja) belajar dari electronic games, media sosial, dan produksi media digital.

Di awal wawancaranya dalam video berikut, ia mengajukan beberapa pertanyaan kunci yang menarik untuk kita renungkan. “So, my question is this: Why do we assume that kids’ socializing and play is not a site of learning? And, on the flip side: Why do we assume that schools can’t have a spirit of entertainment and play as part of what they are doing?” ujarnya.

Menurutnya, aktivitas anak-anak dengan teknologi digital dewasa ini tak jauh berbeda dengan anak-anak dari generasi lama. Ketika anak-anak sekarang lebih banyak bersosialisasi melalui media online, mereka melakukan hal-hal yang mirip dengan apa yang dilakukan di dunia nyata. Mereka belajar keterampilan yang kompleks seperti berkomunikasi dengan publik, bahkan memproduksi media di ranah online.

Apa yang dilakukannya di ranah online, sebenarnya bisa dikategorikan pula sebagai aktivitas belajar. Ketika terlibat percakapan di media sosial, sebenarnya mereka akan belajar tentang cara berkomunikasi yang diterima oleh publik, sebaliknya, tentang cara-cara yang tak diterima. Selain itu, banyak topik di media online yang menjadi sumber pembelajaran mereka saat ini, dan tampil dengan sangat menarik. Teknologi audi visual, cukup mendominasi konten di internet saat ini.

Pertanyaan kedua, bagaimana sekolah bisa mengadopsi ekosystem yang dibuat oleh media-media online? Bahwa belajar itu harus menjadi aktivitas yang menyenangkan seperti ketika mereka terlibat di dunia online? Ini adalah tantangan besar yang harus dijawab sekolah. Bagi orang tua atau sekolah, cara pandang terhadap aktivitas anak-anak sekarang dengan teknologi digital harus diubah, dan disesuaikan dengan kondisi terkini.

Semua anak pada dasarnya tak suka kalau dunia mereka diintervensi oleh orang dewasa. Bayangkan kalau anak-anak muda yang nongkring ditemani orang tuanya. Analogi yang sama berlaku di media sosial, ketika akun anak dan orang dewasa (orang tuanya) menjadi setara. Apakah orang tua harus menjadi “teman” mereka di Facebook? Atau Twitter?

Mungkin iya, tetapi sebaiknya tidak. Ketika ada akun orang dewasa terlibat dalam percakapan di Facebook anak-anak ini, akan menimbulkan ketidaknyamanan di antara mereka. Orang tua sebaiknya tahu menjaga jarak, cukup mengamati, dan mendiskusikannya tidak di ruang publik. Berikan kepercayaan secukupnya pada anak untuk belajar terlibat di dunia online secara sehat.

Persepsi umum saat ini, orang dewasa menganggap aktivitas anak-anak di depan komputer (online) adalah pemborosan waktu yang sia-sia. Persepsi ini sebenarnya menurut Ito, sama persis ketika generasi lama menganggap bermain itu sia-sia, dan lebih baik anak-anak itu mengerjakan pekerjaan rumahnya. Perbedaan persepsi antara orang dewasa dengan anak-anak dalam pemanfaatan teknologi online ini, sebaiknya dibereskan agar media baru ini bisa berguna bagi mereka. Bagaimanapun, belajar dari media baru ini adalah salah satu bentuk pendidikan informal, yang seharusnya sejalan dengan pendidikan formal di sekolah.

Dalam situsnya, Ito menjelaskan bahwa studi mereka melihat banyak alasan untuk berharap bahwa dunia online dapat membelajarkan anak-anak dalam hal bersosialisasi, partisipasi, dan berbasis kebutuhan dan ketertarikan individu dalam belajar. Mereka juga melihat bahwa anak-anak sekarang belajar tentang skill yang kompleks dari dunia online, seperti membuat dan menyebarkan konten digital, terlibat dalam aksi sosial, dan mendalami pengetahuan tertentu.

Tetapi dalam waktu yang sama, juga memunculkan kekhawatiran karena tidak semua anak mendapat privilege mengakses internet. Bukan saja dalam hal akses terhadap infrastruktur, tetapi dalam hal kemahiran menggunakan teknologi di dunia online. Ternyata tidak semua anak dapat menikmati kemewahan di dunia online untuk hal-hal positif, seperti memproduksi media digital, atau mempelajari pengetahuan baru.

Selamat menyimak videonya.

Komentar Anda?


Gabung Melekmedia!