20 December, 2010 

Sisi Gelap Jejaring Sosial

Oleh: rahadian p. paramita
Tentang: , ,  –  1 Komentar

Betul bahwa era saat ini, teknologi informasi sudah mengubah konsumen menjadi prosumen yang lebih aktif. Betul pula bahwa kekuatan konsumen sudah berkembang, sehingga mitos silent majority itu sudah mulai terkikis. Tetapi dalam dunia baru, yang disebut-sebut sebagai dunianya jejaring sosial ini, juga menyimpan potensi bahaya. Paling tidak, hal ini yang tersirat dari presentasi James Surowiecki di TED.com.

Saya kutipkan transkripnya yang saya anggap penting, bagi yang kesulitan dengan streaming videonya:

One of the fundamental characteristics of a network is that once you are linked in the network, the network starts to shape your views and starts to shape your interactions with everybody else. That’s one of the things that defines what a network is. A network is not just the product of its component parts. It is something more than that. It is, as Steven Johnson has talked about, an emergent phenomenon.

Now, this has all these benefits: it’s very beneficial in terms of the efficiency of communicating information; it gives you access to a whole host of people; it allows people to coordinate their activities in very good ways. But the problem is that groups are only smart when the people in them are as independent as possible.

This is, sort of the paradox of the wisdom of crowds, or the paradox of collective intelligence, that what it requires is actually a form of independent thinking. And networks make it harder for people to do that, because they drive attention to the things that the network values. So, one of the phenomenons that’s very clear in the blogosphere is that once a meme, once an idea, gets going, it is very easy for people to just sort of pile on, because other people have, say, a link.

People have linked to it, and so other people in turn link to it, et cetera, et cetera. And that phenomenon, that phenomenon of kind of piling on the existing links is one that is characteristic of the blogosphere, particularly of the political blogosphere, and it is one that essentially sort of throws off this kind of beautiful decentralized bottom-up intelligence that blogs can manifest in the right conditions.

Setiap jejaring, entah karena disengaja atau tidak, membentuk cara pandangnya sendiri. Apalagi kalau jejaring itu sudah berlabel cara pandang tertentu. Misalkan saja Jaringan Islam Liberal (JIL). Sudah jelas cara pandang liberal dalam jejaring itu, kalau Anda tidak suka dengan liberalisme ala mereka, kemungkinan besar Anda tidak akan menikmati berada dalam jaringan itu.

Lalu apa? James Surowiecki menyinggung soal berpikir independen, yang menjadi salah satu elemen dari Wisdom of Crowds, yang ia tulis sendiri. Ivan Lanin pernah membahasnya dalam artikel Kearifan Khalayak di Politikana. Selain berpikir independen, masih ada diversifikasi (keragaman), desentralisasi, dan agregasi, sebagai elemen dalam wisdom of crowds-nya Surowiecki.

Artikel yang menyoroti fenomena di Politikana tersebut, menarik untuk ditengok kembali, kalau masih ada pertanyaan kenapa ada pemberi rating yang terpengaruh oleh rating yang sudah ada, atau karena melihat siapa yang menulis, bukan karena isinya semata. Saya kutip bagian yang menarik dari sana:

Yang mungkin harus tetap diwaspadai adalah kemungkinan timbulnya riam informasi atau information cascade, yaitu fenomena yang terjadi sewaktu seseorang mengambil pilihan yang serupa dengan orang lain setelah mengamati pilihan orang tersebut. Meskipun sering dianggap rasional untuk mengikuti pilihan orang lain, apalagi jika itu mewakili suara terbanyak, pilihan itu kadang justru tak berdasar dan bahkan keliru.

Jejaring sosial, mungkin lebih eksklusif saat ini. Tapi kalaupun kita bicara jejaring dalam bentuk lama, seperti para penonton televisi, efek itu tetap terasa. Para penonton tv berita belakangan ini mungkin mual dan sebal dengan pemberitaan seseorang yang 3-4 bulan lalu disebut sebagai bajingan, tetapi kini hampir digadang sebagai pahlawan. Begitu mudahnya cara pandang (jejaring) media itu membentuk cara pandang khalayak. Dan hebatnya, ia berlaku nasional, karena mereka tayang hampir di setiap rumah yang memiliki pesawat televisi, dan mampu menerima frekuensi siarannya.

“Suara rakyat adalah suara Tuhan”, katanya.

Tetapi suara rakyat bisa juga jadi suara setan. Dibalik kearifan jejaring itu, ada sisi gelap, yang hanya akan bisa diatasi dengan memenuhi persyaratan yang diajukan. Apa yang kita baca di media sosial, media massa, bisa membentuk cara pandang kita. Meski seribu TV memberitakan sisi kepahlawanan si itu, atau memberitakan kejelekan si anu, independensi kita dalam memahami situasi, menganalisanya sendiri baru menentukan sikap, sangat dibutuhkan. Keragaman cara pandang itu tidak saja nikmat, tapi memang benar-benar perlu.

Kalau homogenitas cara pandang yang mendominasi media massa, bahaya pertama adalah kalau penegak hukum mudah dipengaruhi cara pandang “jejaring televisi” melalui pemberitaan. Bahaya kedua, kalau masyarakat berhasil dikelabui, lalu digerakkan dan dimobilisasi untuk membangun gerakan massa oleh mereka yang katanya aktivis.

Apakah media sosial bisa menjadi penawarnya dengan bereaksi positif atas hal itu? Menawarkan cara pandang yang lebih independen? Bagaimana pula mengeliminir sisi gelap yang justru bisa kontra produktif terhadap gagasan kearifan itu? Mari sama-sama diskusikan.

Sumber dari TED.com: James Surowiecki: When social media became news | Gambar: handytwitter.com

Satu Komentar untuk “Sisi Gelap Jejaring Sosial”

  1. Bung Iwan

    Bener juga. Kadang keputusan saya dipengaruhi oleh apa yg lagi hot dibicarakan. Contoh paling gampang ya, soal film. Ketika di Social media lagi membahas film A -yg katanya bagus- saya juga ikutan nonton. Ternyata — beda dengan selera saya. Tapi yg lebih aneh, ketika ditanya pendapat, saya malah menyetujui pendapat di social media.

    It must be stopped!

Komentar Anda?


Gabung Melekmedia!