27 August, 2011 

Kekerasan yang Dibudayakan

Oleh: rahadian p. paramita
Tentang: ,  –  Komentar Anda?

Sebuah tulisan lama dari blog pribadi saya. Tetap kontekstual, terutama karena budaya kekerasan masih sangat kuat di sekitar kita. Silakan menyimak.

Membaca berita pembantaian pada sebuah kampus pada hari Valentine, mengingatkan saya pada film dokumenter Michael Moore, Bowling for Columbine. Sama tragisnya, terjadi di kampus oleh seorang siswanya yang entah kenapa kalap lalu membunuhi teman-temannya.

Sebagian menuding karena tayangan kekerasan di media massa, sebagian menuding karena perdagangan senjata yang bebas untuk siapa saja. Tapi kedua asumsi ini, tampaknya dipatahkan Moore dalam film Bowling for Columbine. Disana ia membuktikan, bahwa Kanada, negara tetangga Amerika yang juga menonton film dengan kekerasan yang sama, memiliki kebebasan perdagangan senjata yang sama, tetapi dengan rekor pembunuhan bak langit dengan bumi. Sinarharapan.co.id menulis:

… Jika dibandingkan dengan negara lainnya: Kanada, Eropa, Asia atau Australia, Amerika menduduki peringkat teratas pembunuhan akibat kekerasan senjata per tahunnya dengan total 11.127 kasus.

Menurut teori dalam Appreciative Inquiry, cara pandanglah yang membawa kita pada suatu keadaan. Ketika cara pandang Amerika sangat dipengaruhi oleh sikap paranoid pemimpinnya, maka kekerasan kemudian menjadi jalan keluar. Saling curiga yang berlebihan, melahirkan sikap tidak bersahabat. Semua orang jadi merasa perlu mempersenjatai diri untuk merasa aman. Di Amerika, kekerasan dilembagakan melalui aturan-aturan yang melegalkan segala upaya dalam melindungi diri, dan dibudayakan menjadi norma umum. Pertanyaan Moore yang krusial adalah, melindungi diri dari Apa? Dari Siapa?

Sementara di Kanada, mereka bahkan tidak merasa perlu mengunci pintu rumahnya. Ketika ditanya Moore, jawaban mereka sederhana saja. Untuk apa? Dari film ini pula Moore membuktikan bahwa cara pemimpin Kanada membawa suasana negerinya, yang santai dan kadang penuh humor, membawa situasi santai dan saling percaya di antara warga Kanada. Padahal, dalam urusan perdagangan senjata, warga Kanada bisa memiliki lebih dari 3 pucuk senapan tiap rumahnya, karena mereka sangat doyan berburu.

Jadi, saya agak setuju dengan ulasan di sinarharapan.co.id yang memberi judul artikelnya ”Bowling for Columbine” Akibat jika Senjata Diperjualbelikan secara Bebas. Di sini mereka menulis:

… Pada akhirnya, alasan yang paling rasional adalah karena negeri ini memiliki sejarah paling panjang dengan kekerasan, yang berlangsung sejak era Wild Wild West dulu, ketika para koboi ”menghabisi” suku Indian. Dan ternyata, budaya kekerasan ini terus diwariskan hingga sekarang. (din)

Tetapi berbeda dengan ulasan di rakyatmerdeka.co.id. Saya berpandangan berbeda dengan berita tentang pembantaian di hari Valentine itu, yang berjudul Pembantaian di Kampus AS Akan terus Terjadi. Di sana mereka menyimpulkan:

Berpandangan positif bukan saja perlu, tetapi juga sangat penting demi masa depan kita sendiri. Kita yang memilih, mau membudayakan perdamaian, atau membudayakan kekerasan. Cara pandang media terhadap suatu peristiwa, dalam hal ini akan berdampak pada pemirsanya. Karenanya jangan sampai terhanyut oleh cara media menyampaikan berita, kritislah terhadap fakta-fakta dari berbagai sudut pandang.

Komentar Anda?


Gabung Melekmedia!