Sebut saja dua isu yang beberapa bulan terakhir ini jadi topik besar di berbagai media: Nazaruddin dan korupsinya, dan Presiden SBY beserta reshuffle kabinetnya. Kasus korupsi Nazaruddin sempat ‘membahana’ sampai bikin panas kuping banyak pihak. Termasuk KPK, yang belakangan para pemimpinnya dituding Nazaruddin terlibat dalam kasusnya, lalu komite etik menyatakan mereka bersih dari potensi tindak pidana dan pelanggaran etika. Pernyataan inipun sempat ramai, sampai di media sosial. Orang-orang PKS menyerang KPK, bahkan serempak mengusulkan pembubaran KPK.

Dan belakangan ini, Presiden menebar isu akan mereshuffle kabinet. Berita dimana-mana memperbincangkannya. Pagi hingga pagi lagi, tak lepas dari isu ini. Mulai dari acara berita, hingga debat yang tak ada ujungnya, semua meributkan reshuffle kabinet Presiden SBY. Beritanya pun dicicil, sedikit demi sedikit dimunculkan melalui corongnya, lewat juru bicara kepresidenan, atau melalui pejabat lain yang berwenang. Drama rapat tertutup, isu kontrak politik dengan partai, hingga akhirnya terciumlah kebijakan yang akan diumumkan malam ini, Selasa 18/10/2011. Kabarnya terjadi perubahan di beberapa kementerian, dan akan lebih banyak wakil menteri dalam kabinet mendatang.

Apa yang bisa kita lihat dari media? Hanya ini yang bisa kami dapat. Kedua isu ini disandingkan di Google, dan dilacak keberadaan pemberitaannya melalui media online. Tentu tidak mewakili apa yang terjadi di media lain, seperti televisi. Perlu pengamatan lebih cermat, dan pencatatan yang ketat untuk menghitung kemunculannya. Muncullah linimasa di Google.com dan Topsy.com, tentang keberadaan kedua berita yang dipaparkan di atas. Mari kita simak datanya:


Berkat drama yang melankolis tentang “Reshuffle Kabinet”, isu Nazaruddin pun sukses terbenam meski secara kuantitas tetap menunjukkan angka yang cukup besar. Dari Topsy.com, bisa kita lihat grafik selama sebulan terakhir, peredaran isu Nazaruddin sebenarnya masih mencapai dua ribuan, tetapi kalah jauh dengan peredaran isu Reshuffle yang mencapai tujuh ribuan. Ini adalah peredaran melalui media sosial, yang biasanya didominasi berita dari detik.com, inilah.com, atau metrotvnews.com dan tersebar melalui akun Twitter mereka.

Apa yang terjadi bulan-bulan sebelumnya? Grafik dari Google.com berikut ini menunjukkan indikasi yang tak selaras dengan temuan di sebulan terakhir. Pada periode April-Agustus 2011, tercatat pemberitaan tentang Nazaruddin mulai ramai di bulan Mei-Agustus. Masuk ke bulan September, datanya belum terpantau linimasa Google.com. Kalau dilihat dari jumlahnya, hasil pencarian mencatat 10.900 lema hasil pencarian. Padahal, dalam periode yang sama, kalau kita gunakan kata kunci “Reshuffle Kabinet”, topik ini sudah ramai sejak bulan April, bahkan mungkin sebelumnya, tetapi Google hanya menghasilkan 156 lema hasil pencarian.

Lalu apa artinya? 10.900 berbanding 156 tentu bukan perbandingan yang masuk akal, jika melihat perkembangan selanjutnya. Topik dengan jumlah puluhan ribu, bisa ‘menghilang’ begitu saja di bulan berikutnya, tentu bukan hal kebetulan. Jika saja data Google nanti dibuka kembali pada bulan September-Oktober 2011, kita akan bisa melihat kenaikan drastis jumlah berita seputar ‘reshuffle’ di media online. Topsy.com sudah memperlihatkan gejala tersebut. Apakah ini kebetulan? Atau apakah ini salahnya media?

Jawabannya (mungkin) tidak, untuk keduanya. Ini (mungkin) bukan kebetulan, dan ini pasti bukan semata-mata salah media. Media ibarat ikan yang terampil menangkap umpan dari pemancing. Maka sangat bisa diduga, para pemancing inilah yang bermain-main dengan para ikan. Mereka tahu persis kapan dan dimana harus melempar umpan. Sementara masyarakat awam, adalah konsumen restoran sea food, yang tidak bisa komplain kalau si penjual ikan berkata, “Maaf, ikan ‘kakap’ sedang sulit ditangkap. Yang ada hanya teri.”

Mari, nikmati saja apa adanya.

 

*Gambar dari www.kaskus.us

Komentar Anda?


Gabung Melekmedia!