26 September, 2011 

Tips Membatasi Waktu Anak Nonton TV

Oleh: melekmedia
Tentang: , , ,  –  Komentar Anda?

anak-tv

Televisi dan anak-anak, biasanya sangat sulit dipisahkan. Banyak orang tua yang menjadikan televisi justru sebagai ‘pengasuh’ anak. Apalagi para orang tua yang sibuk, melihat anaknya tenang di depan TV justru disyukuri. Tetapi mengasuh anak memang tidak mudah, butuh waktu dan kesabaran. Berkaitan dengan televisi, mungkin orang tua belum benar-benar menyadari dampak televisi bagi anak. Kegiatan menonton TV tidak terbatas pada menonton acara dari stasiun televisi, tetapi juga pengggunaan TV untuk bermain video games. Tidak semua tayangan-tayangan itu bisa mereka pahami dengan benar, sehingga dampaknya bisa buruk bagi anak.

Artikel dari mayoclinic.com berikut ini mencoba menjabarkan bagaimana dampaknya, dan berbagi tips mengenai bagaimana membatasi waktu anak dalam menonton televisi.

Dampak Terlalu Sering Nongkrong di Depan TV

The American Academy of Pediatrics, lembaga yang khusus memperhatikan tumbuh kembang anak, merekomendasikan pembatasan terhadap waktu anak menonton televisi, baik itu berupa film ataupun acara lainnya, tidak lebih dari dua jam sehari. Terlalu lama menonton bisa berdampak buruk, di antaranya:

  • Obesitas. Anak yang nongkrong di depan TV terlalu lama memiliki kaitan erat dengan peningkatan berat badan yang berlebihan. Sambil nonton film atau main games, anak-anak sering ngemil makanan ringan, hal ini yang bisa menyebabkan peningkatan konsumsi gula, dan meningkatkan berat badan anak.
  • Waktu tidur yang tak teratur. Semakin sering menonton TV, semakin lambat anak mendapat waktu beristirahat. Pada waktu istirahat datang pun, ia jadi mengalami sulit tidur.
  • Perilaku menyimpang. Anak-anak SD yang terlalu banyak menghabiskan waktu lebih dari dua jam sehari menonton TV, memiliki kecenderungan bermasalah secara emosional, perilaku sosial, dan dalam hal memfokuskan perhatian. Paparan dari video game yang terlalu sering juga meningkatkan risiko tingkat konsenttrasi anak berkurang. Banyak anak yang terlalu sering menonton TV, mempraktekkan perilaku bullying daripada yang jarang menonton TV.
  • Menurunnya prestasi akademik. Anak-anak yang memiliki televisi sendiri di kamarnya, memiliki kecenderungan berprestasi buruk di sekolahnya daripada anak-anak yang tidak bisa memiliki TV sendiri di kamarnya.
  • Kekerasan. Terpapar terlalu banyak adegan kekerasan dari acara TV, musik, atau video games, dapat meningkatkan toleransi terhadap penerimaan mereka pada perilaku kekerasan. Mereka akan melihat kekerasan sebagai sesuau yang ‘normal’. Lebih parah lagi, mereka akan belajar bahwa kekerasan bisa menjadi cara untuk menyelesaikan masalah.
  • Berkurangnya waktu bermain. Terlalu sering nongkrng di depan TV akan mengurangi waktu mereka bermain di luar rumah. Padahal, anak sehat memerlukan waktu paling tidak 1 jam sehari untuk menggerakkan tubuhnya agar tumbuh kembangnya berjalan normal.

Membatasi Waktu di Depan TV

Waktu menonton tv anak-anak bisa meningkat tanpa disadari orang tua. Terkadang orang tua terkejut ketika menyadari, bahwa anak-anak mereka ternyata terlalu lama menonton TV sampai lupa mengerjakan PR, atau bermain bersama teman-temannya di sekitar rumah. Yang bisa dilakukan adalah memonitor jadwal mereka menonton TV.

Selain itu, tips berikut ini mungkin membantu orang tua mengurangi waktu anak-anak menonton TV:

  • Matikan TV saat tak ditonton. Jika TV diletakkan di ruang kelluarga, maka seringkali TV tidak ditonton tetapi tetap menyala. Nah, matikan segera TV yang tidak ditonton (karena bukan jadwal menonton), karena TV yang menyala sangat mudah menarik perhatian anak. Selain mengurangi gangguan terhadap konsentrasi anak, juga bisa menghemat energi.
  • Jauhkan TV dan komputer dari ruang tidur anak. Sebaiknya komputer atau TV tidak disimpan di kamar anak. Televisi dan komputer sebaiknya diletakkan di ruang yang dapat diawasi orang tua, misalnya ruang keluarga. Dengan berada di ruang publik, perilaku anak dapat diawasi. APalagi jika komputer di rumah terhubung dengan internet terus menerus.
  • Jangan makan di depan TV. Jika keluarga makan malam di rumah, sebaiknya tidak makan malam di depan TV. Memperbolehkan anak makan di depan TV sama saja menambah jatah mereka menoton TV. Perilaku ini juga menyebabkan ia tidak mengudap tanpa sadar, sehingga bisa berisiko meningkatkan berat badan.
  • Jangan jadikan sebagai hadiah. Hindari sebisa mungkin menjadikan waktu menonton atau bermain video games sebagai hadiah setelah ia menyelesaikan tugas/PR-nya. ¬†Carikan hadiah lain yang lebih mendidik.
  • Diskusikan dengan pengasuhnya. Jika anak diasuh oleh pengasuh, bukan oleh orang tua sendiri, maka sebaiknya diskusika aturan menonton TV ini kepada pengasuh anak. Begitu pula terhadap orang dewasa di keluarga, misalnya kakek/nenek, atau keluarga lain.
  • Carikan kegiatan lain. Temukan kegiatan yang bisa membantu anak menghabiskan waktunya. Kegiatan fisik akan sangat membantu tumbuh kembangnya, tetapi jangan berlebihan. Masih banyak kegiatan positif lain, mislanya membaca buku dongeng, memainkan¬†permainan yang bisa dilakukan di rumah seperti ular tangga, dan sejenisnya.
  • Jadilah teladan bagi anak. Orang tua adalah teladan bagi anak. Perilaku orang tua sangat membantu anak untuk berperilaku, sehingga orang tua harus memberi contoh mengenai kapan waktu menonton dan kapan waktu belajar, bekerja, dll.
  • Adakan hari tanpa TV. Sesekali, adakan sehari tanpa TV atau seminggu tanpa TV. Selama sehari atau seminggu itu, hilangkan TV dari rumah. Silakan cari akal, apakah mau disembunyikan dalam lemari, atau dibungkus dalam kardusnya hingga tak terlihat di sekitar rumah.

Jika anak-anak sudah terlanjur aktif menonton TV atau main video games, lebih baik mulailah menguranginya secara perlahan, dengan memberinya alternatif pekerjaan yang menarik. Pilihan orang tua sangat tergantung pada minat anak, sehingga tidak ada alternatif terbaik. Orang tua pasti memahami apa yang disukai dan tidak disukai sang anak, sehingga pilihannya bisa lebih mudah.

Komentar Anda?


Topik

Komentar

Gabung Melekmedia!


Hosting oleh: