Film Horor Indonesia Kepanasan – Melék Media


Beranda  »  Artikel » Pantau Media   »   Film Horor Indonesia Kepanasan

Film Horor Indonesia Kepanasan

Oleh: Melekmedia -- 11 Juni, 2019 
Tentang: , ,  –  Komentar Dinonaktifkan pada Film Horor Indonesia Kepanasan

Sasha Grey July 2012

Popularitas film horor lokal tak lepas dari nama Suzzanna. Ia ikon film horor Indonesia, pernah ditegur Ibu Negara karena pamer paha dan dada.

Aktris yang wafat pada 2008 ini di antaranya membintangi Bernafas dalam Lumpur (1970) dan Beranak dalam Kubur (1971). Di sepanjang karier, citra “aktris panas” melekat padanya.

Perfilman pada era 1970-an digambarkan sebagai “paha, dada, dedemit atau baku pukul”. Kedua film disebut barusan pun demikian.

Bahkan saat Sundel Bolong (1981) melambungkan nama Suzzanna Martha Frederika van Osch— berkat 301.200 penonton yang menjadikannya terlaris ketiga pada tahun perilisan.

Saking panasnya, film garapan sutradara Sisworo Gautama ini mengundang kritik Menteri Penerangan saat itu, Ali Moertopo. Ia meneruskan keluhan Ibu Negara, Tien Soeharto.

Apapun itu, film tadi menandai masa emas film horor Indonesia. Dibandingkan dengan dekade 1970-an yang menghasilkan 22 judul film horor, dekade 1980-an memproduksi 78 judul.

Pada dekade berikutnya film horor yang diproduksi hanya 35 judul (Khoo, G & Barker, T 2010, “Indonesian Cinema: A Symposium Introduction”).

Menelisik data FilmIndonesia.or.id (1976 hingga November 2018, kecuali 1995-2006 tak tersedia), popularitas film horor semakin melepaskan diri dari ketergantungan berpanas-panas di ranjang.

Ada Jelangkung (2001) yang menyodok ke posisi lima film terlaris. Film horor sekaligus film pertama pada dekade itu yang sukses mengundang 748.003 orang penonton (hingga 2002), hanya dari Jabodetabek.

Rizal Mantovani dan Jose Poernomo memberikan sentuhan berbeda dalam film horor, dengan kekuatan fotografi, penyuntingan dan suara. Film ini menandai kebangkitan perfilman nasional setelah mati suri pada 1990-an.

Popularitas film horor dalam peringkat 5 besar (Beritagar.id)

Film horor meningkat, popularitas menurun

Era 1990-2000 disebut era kemunduran film horor Indonesia, dalam tulisan Tita Meydhalifah dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (2018).

Ia mencatat kualitas film horor Indonesia dianggap lebih rendah daripada film impor tersebab kelonggaran dari Badan Sensor Film (BSF)—mengawali gegap gempita Reformasi.

Pasca-reformasi, BSF relatif lebih toleran hingga film horor memunculkan hantu-hantu berbusana minim bahkan transparan sebagai pemeran utama. Perfilman bahkan sempat gulung tikar oleh krisis ekonomi 1997.

Kesuksesan Jelangkung pada 2001 memberi angin segar. Produksi film horor menanjak—terutama sejak 2006 ketika perfilman Indonesia melahirkan lebih dari 70 judul setahun.

Pada 2007, dua film horor menembus daftar lima besar penonton terbanyak: Terowongan Casablanca dan Suster Ngesot The Movie. Selama 2008-2011, hanya pada 2009 film horor absen dari daftar itu.

Tapi bumbu seks dalam horor tak pernah hilang dari racikan layar lebar. Bahkan bintang film dewasa asal manca negara jadi daya tarik utama.

Semisal Rin Sakuragi dari Jepang dalam Suster Keramas (2009), atau Sasha Grey dari AS dalam Pocong Mandi Goyang Pinggul (2011).

Hasilnya tak menggembirakan. Meski banyak film diproduksi, pada 2012 hingga 2016 justru tak satupun film horor masuk lima besar terlaris.

Cinema Poetica mencatat pada 2012 ada 19 film horor dengan raihan 2,99 juta penonton. Ini adalah rerata penonton per film paling buruk dalam lima tahun; sekitar 152 ribu penonton per film.

Bandingkan rasio penonton per film dengan catatan sebelumnya:

  • 2011 ada 10 film horor dengan total 2,42 juta penonton (242 ribu/film);
  • 2010 dengan 19 film horor mengundang 4,53 juta penonton (238 ribu/film);
  • 2009 ada 22 film dengan 7,23 juta penonton (328 ribu/film);
  • 2008 ada 19 film horor dengan penonton 7,6 juta (400 ribu/film);

Kelebihan dosis adegan panas

Fenomena film-film horor yang “kepanasan” pada 2010 membuat Muchlis Paeni, ketua Lembaga Sensor Film (LSF) saat itu, mengaku pening.

Seorang stafnya pernah melaporkan ada sebuah film bergenre horor yang dibabat hampir separuhnya karena penuh adegan panas.

“Film ini bakal tidak bisa tayang kalau gunting kami bekerja,” kata Muchlis kepada Tempo.co (29/3/2010). “Kalau [pun] dipaksa tayang, […] tidak akan bisa karena tidak sesuai standar durasi.”

Lanskap film horor di tangga film terpopuler membaik setelah pada 2017 film Pengabdi Setan menjadi film nomor satu dengan 4,2 juta penonton.

Film horor kembali dengan unsur utamanya. Sumber ketakutan tak sekadar dari unsur jumpscare, tapi juga ekspresi para pemain dan suara mencekam: denting lonceng penanda Sang Ibu “hadir”.

Selain Pengabdi Setan karya Joko Anwar, pada tahun yang sama ada Danur: I Can See Ghosts (2,7 juta penonton), Jailangkung (2,55 juta), Mata Batin (1,28 juta), The Doll 2 (1,22 juta).

Rizal Mantovani punya pendapat mengapa genre horor jadi favorit penonton. Tidak semata karena hal-hal klenik [atau bumbu erotis] lalu genre horor punya pasar.

Menurutnya penonton Indonesia suka film horor bukan karena klenik, tapi karena fantasi. Penonton mungkin tak percaya tahayul, tapi melihat fantasi dan merasa terhibur.

“Hampir sama dengan di Hollywood, mereka juga berfantasi tapi dengan alien, drakula atau vampir,” terang Rizal pada Bintang.com (19/9/2017).

Melejitnya Jelangkung, atau Pengabdi Setan yang tak mengandalkan panasnya kulit paha atau dada ala 1970 hingga 1980-an, memberi sinyal bahwa genre horor memang punya daya tarik sendiri.

*Foto: Sasha Grey via Wikipedia (CC BY-SA 3.0) | Artikel ini aslinya tayang di Beritagar.id pada 25 Oktober 2018, oleh Indra Rosalia. Ditulis kembali dengan penyuntingan ulang.

Artikel lain sekategori:

Maaf, Anda tak bisa lagi berkomentar.



Exit mobile version