Pembelajaran Jarak Jauh Mengandalkan Media – Melék Media


Beranda  »  Artikel » Literasi Baru   »   Pembelajaran Jarak Jauh Mengandalkan Media

Pembelajaran Jarak Jauh Mengandalkan Media

Oleh: Melekmedia -- 3 November, 2021 
Tentang: , ,  –  Komentar Dinonaktifkan pada Pembelajaran Jarak Jauh Mengandalkan Media

Pembelajaran jarak jauh

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) terpaksa digelar karena penyakit Covid-19 maha menular. Sejumlah pihak ingin segera kembali ke tatap muka karena siswa semakin kehilangan jatahnya untuk belajar.

Frasa “jatah belajar yang hilang” dalam tulisan ini berusaha menyederhanakan istilah sulit seperti learning loss. Pada prinsipnya, masa belajar yang ditempuh tidak memberi hasil yang sebanding.

Istilah learning loss ini sebenarnya problematik. Ada pro-kontra atasnya. Dalam dokumen tentang Indeks Modal Manusia 2018, Bank Dunia menyebut “jatah belajar efektif” sebagai Learning adjusted years of schooling (LAYS).

Konsep ini berdasarkan sebuah tulisan ilmiah yang terbit pada 2018, berjudul Learning-Adjusted Years of Schooling (LAYS): Defining a New Macro Measure of Education.

Di sana dijelaskan bahwa “sekolah tidak sama dengan belajar” (Pritchett 2013, World Bank 2018). Karena itu masa atau durasi sekolah, tidak sama dengan durasi belajar. Menamatkan sekolah selama 12 tahun, tidak berarti anak-anak “belajar” selama 12 tahun.

Untuk mengukur aspek kualitas belajar—alih-alih sekadar durasi sekolah—digunakanlah konsep LAYS ini. Sebagian lalu menyebutnya “learning loss“, meski tak sepenuhnya akurat.

Contoh konkretnya begini. Menurut IMM Indonesia pada 2018, capaian LAYS-nya kurang lebih hanya 7,9 tahun. Meski teorinya anak Indonesia bersekolah selama 12 tahun, masa mereka “benar-benar belajar” hanya 7,9 tahun—ada sekitar 4,1 tahun yang “hilang”.

Capaiannya per 2020, angka LAYS Indonesia sedikit memburuk, menjadi 7,8 tahun—7,6 tahun pada anak laki-laki dan 8 tahun pada anak perempuan. Sekitar 4,2 tahun masa sekolah tidak efektif untuk pembelajaran.

Menurut peneliti Bank Dunia, tingkat keparahan LAYS lantaran pandemi Covid-19 sejak awal 2020 lebih ditentukan oleh efektivitas pembelajaran jarak jauh (PJJ), daripada durasi penutupan sekolah, dalam jangkauan riset ini.

Semakin lama pembelajaran jarak jauh berlangsung, semakin besar masa belajar yang hilang.

Tak mengherankan, mengingat PJJ bukan metode yang lazim diterapkan di sekolah, apalagi sekolah menengah. Tapi tunggu dulu, belum semua kabar buruknya terungkap.

Angka-angka barusan adalah asumsi yang dihitung dengan skenario “paling optimistis”; berdasarkan efektivitas pembelajaran alternatif (selain tatap muka).

Laporan detailnya bisa dibaca di dokumen How Indonesia’s education system can overcome the losses from the COVID-19 pandemic and raise learning outcomes for all oleh Rythia Afkar dan Noah Yarrow (September 2021).

Meneropong apa yang terjadi

Perkiraan jatah belajar yang hilang karena penutupan sekolah pada periode Januari 2020 – Juni 2021

Bank Dunia mengukur jatah belajar yang hilang ini dengan berbagai situasi. Salah satunya berapa banyak sekolah yang “tutup”, dan variasi kualitas pembelajaran alternatif seperti PJJ.

Situasi tersebut digunakan untuk menerawang ke masa depan. Sebelumnya, mereka menghitung dampak kualitas pembelajaran alternatif karena belajar tatap muka dihentikan.

Periode perhitungan adalah 1,5 tahun sejak awal pandemi, Januari 2020-Juni 2021. Patut diingat, kalender pendidikan masanya lebih pendek karena ada liburan.

Karena pembelajaran tak berjalan sebagaimana mestinya (baca: tatap muka), ada sekolah yang diliburkan penuh, ada pula yang tetap belajar meski menggunakan metode alternatif.

Dengan asumsi efektivitas metode PJJ atau alternatif lain sekitar 40 persen dari tatap muka, capaian belajar hanya terhitung 6,9 tahun, atau lebih rendah dari IMM 2020 (pra-pandemi).

Semakin rendah efektivitas (E) pembelajaran, semakin rendah masa belajar efektif yang dialami siswa. Dengan kata lain, efektivitas berbanding lurus dengan capaian jatah belajar.

Hasil dari riset pendahuluan ini akan jadi pembanding dalam perhitungan selanjutnya.

Menerawang masa depan

Dari hasil penelusuran sejak awal pandemi, Bank Dunia kemudian menghitung prospek ke depan berdasarkan kondisi terkini. Penerawangan ini menggunakan dua situasi: Penutupan sekolah dan kualitas metode pembelajaran alternatif.

Faktor penutupan sekolah

Dampak penutupan sekolah akan dihitung berdasarkan tiga skenario, dan menggunakan asumsi kualitas model pembelajaran alternatif selain tatap muka.

Skenario paling optimstis, per Juli 2021 sekolah akan dibuka 100 persen dengan mempertimbangkan program vaksinasi guru dan tenaga kependidikan akan tuntas sebulan sebelumnya.

Agak moderat, skenario kedua membayangkan “hanya” 50 persen sekolah yang bisa dibuka untuk pembelajaran tatap muka. Alasannya, vaksinasi untuk kalangan sekolah belum tuntas, sementara penyebaran tak juga menurun.

Lalu yang paling pesimistis, tak satupun sekolah bisa dibuka pada Juli 2021. Kasus penularan Covid-19 diperkirakan masih terus meningkat, memaksa pemerintah membatasi gerak warga.

Ketiga skenario berlandaskan asumsi bahwa sepanjang pandemi kualitas pembelajaran hanya 40 persen, dan telah menambah hilangnya jatah belajar siswa sebanyak 0,9 tahun, atau memangkas jatah belajar menjadi 6,9 tahun.

Berdasarkan ketiga skenario, lalu dihitung perkiraan capaian LAYS hingga Desember 2021.

Perkiraan jatah belajar yang dialami siswa berdasarkan tiga skenario untuk periode Januari 2020 – Desember 2021

Dengan skenario optimistis—saat semua sekolah diasumsikan buka kembali pada Juli 2021—capaian LAYS sama dengan nilai pembanding (6,9 tahun), atau lebih rendah dari capaian sebelum pandemi (7,8 tahun).

Banyaknya penutupan sekolah selama Juli-Desember 2021 diperkirakan berbanding lurus dengan capaian jatah belajar siswa. Bila sekolah ditutup terus hingga pasca-2021, kehilangan jatah belajar akan semakin besar.

Dengan skenario paling pesimistis, angka LAYS turun 0,3 poin (tahun) dibandingkan skenario optimistis.

Faktor metode pembelajaran alternatif

Dengan asumsi yang sama, penerawangan dilakukan terhadap kualitas pembelajaran alternatif pengganti tatap muka. Ada berbagai metode, tetapi yang paling generik kita sebut saja PJJ.

Hasilnya, dampak efektivitas (E) saat diperkirakan pada angka, 40, 20, dan 10 persen, jatah belajar menukik lebih dalam. Bahkan untuk angka 40 persen, sama dengan penelitian awal, angkanya lebih rendah 0,1 poin.

Saat perkiraan efektivitas diturunkan, LAYS berkurang dari 7,8 tahun hingga menjadi 6,5 tahun dan 6,3 tahun. Hitungan ini menggunakan parameter durasi penutupan sekolah yang tidak berubah.

Perkiraan dampak efektivitis pembelajaran non-tatap muka terhadap capaian LAYS periode 2020-2021

Rupanya, hasil simulasi dengan kualitas pembelajaran alternatif dampaknya lebih buruk terhadap jatah belajar yang seharusnya diterima siswa. Dengan skenario 40, 30, dan 10 persen, semua hasilnya lebih rendah.

Dengan 40 persen kualitas, hingga Desember 2021 diperkirakan angka LAYS turun ke 6,8 tahun. Sedikit lebih rendah dari capaian periode 2020-Juni 2021, tetapi jauh lebih rendah dibandingkan dengan masa pra-pandemi.

Menurut peneliti Bank Dunia, ini berarti efektivitas pembelajaran lebih berdampak pada LAYS daripada durasi penutupan sekolah, pada batas yang diperiksa oleh model dalam riset ini.

Bahkan, dalam perhitungan terhadap skor membaca versi PISA, saat efektivitas ditetapkan pada 20 dan 10 persen hasilnya konsisten lebih rendah dibandingkan perkiraan hasil dalam skenario pesimis sekalipun.

Model perhitungan yang dibuat Bank Dunia ini membuktikan bahwa langkah-langkah mitigasi penting untuk disiapkan daripada sekadar menutup sekolah dalam waktu lama.

Indonesia sebagai negara rawan bencana, perlu serius menyiapkan mitigasi tutupnya sekolah. Bencana bisa tiba setiap saat, sehingga anak-anak tak bisa senantiasa belajar di kelas.

Mengatasi proses pembelajaran yang tak bisa senantiasa berlangsung tatap muka, jadi sangat krusial mengingat sulit memprediksi kapan situasi seperti ini bakal terjadi lagi.

Media dan Pembelajaran Jarak Jauh

Media, sangat penting dalam membantu sekolah menjalankan proses pembelajaran seefektif mungkin tanpa pertemuan tatap muka. Ingat, istilah media tidak terbatas pada media massa.

Media massa seperti televisi memang digunakan juga dalam pembelajaran jarak jauh. Lebih dari itu, yang terpenting adalah bagaimana guru menyelenggarakan pembelajaran tanpa tatap muka.

Dengan segala kemewahan infrastruktur, seperti kecepatan koneksi, dan keterjangkauan jaringan, mungkin pembelajaran daring di atas kertas bisa dilaksakanan.

Tapi kenyataannya tak semudah membalikkan telapak tangan. Pembelajaran jarak jauh lewat daring mengalami banyak masalah, mulai dari keterbatasan jaringan, alat, hingga kompetensi dalam memanfaatkannya.

Merujuk kembali hasil riset Bank Dunia, aspek efektivitas jadi ukuran. Pembelajaran jarak jauh berarti harus bisa mengoptimalkan pemanfaatan media, karena harus berlangsung tanpa tatap muka.

“Media dalam arti perpanjangan kemampuan fisik,” demikian kata McLuhan. Pembelajaran melalui media, artinya pemanfaatan media sebagai perpanjangan kemampuan manusia dalam berkomunikasi saat belajar-mengajar.

Seharusnya, pendekatan ini bukan barang baru. Ada yang pernah dengar Universitas Terbuka (UT)? UT sudah sejak lama menerapkan sistem belajar jarak jauh dan terbuka.

Istilah jarak jauh berarti pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka, melainkan menggunakan media, baik media cetak (modul) maupun non-cetak (audio/video, komputer/internet, siaran radio, dan televisi).

Sedangkan terbuka, artinya tidak ada pembatasan usia, tahun ijazah, masa belajar, waktu registrasi, dan frekuensi mengikuti ujian. Yang penting setiap mahasiswa UT sudah lulus jenjang SMA atau yang sederajat.

Kini teknologi internet bisa menggantikan tatap muka lewat tele-conference, video call, atau bahkan chatting platform. Masih banyak teknologi baru yang akan berkembang, misalnya virtual reality.

Sayangnya beberapa teknologi tersebut bukan hal lumrah dalam dunia pendidikan kita. Ia dikenal luas karena pandemi datang. Sebelumnya, teknologi pembelajaran bak barang mewah di sekolahan.

Maka pandemi ini seharusnya jadi momentum untuk menata ulang orientasi pendidikan, bersiap menghadapi masa depan yang kian tak lepas dari teknologi media.

Pekerjaan rumah paling besar adalah meningkatkan atau memutakhirkan kemampuan guru. Literasi digital bagi guru harus diprioritaskan, agar bisa memanfaatkan teknologi secara efektif.

Jangan sampai keterbatasan terhadap akses, atau infrastruktur, menjadi alasan buruknya kualitas pembelajaran. Jangan semakin mengurangi jatah belajar anak-anak yang sudah rendah bahkan sebelum pandemi tiba.

*Photo by Julia M Cameron from Pexels

Artikel lain sekategori:

Maaf, Anda tak bisa lagi berkomentar.



Exit mobile version