
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa akhir-akhir ini semua orang membicarakan AI (Artificial Intelligence, atau Kecerdasan Buatan atau Akal Imitasi)? Atau mungkin Anda merasa khawatir bahwa teknologi ini akan mengambil alih pekerjaan manusia?
World Economic Forum (WEF), organisasi internasional yang membahas isu-isu global penting, punya pandangan yang menarik tentang hal ini: kuncinya bukan menghindari AI, tetapi memahaminya dengan baik melalui apa yang disebut “AI Literacy” atau literasi AI—kami memilih Melek AI.
Kami pun berargumen bahwa melek AI adalah prioritas yang lebih krusial. Kemampuan memahami, mengevaluasi, dan berinteraksi secara cerdas dengan AI seharusnya diwajibkan, bukan pilihan seperti yang ditetapkan untuk kurikulum koding dan KA saat ini.
Apa Itu AI Literacy?
Bayangkan AI Literacy atau Melek AI seperti kemampuan membaca dan menulis di era digital. Dulu, orang yang tidak bisa membaca akan kesulitan mengikuti perkembangan zaman. Sekarang, orang yang tidak memahami AI akan mengalami hal serupa.
Menurut WEF, Melek AI adalah kemampuan untuk memahami dan menggunakan teknologi AI dengan aman, cerdas, dan bertanggung jawab. Ini bukan berarti Anda harus menjadi programmer atau ahli teknologi. Yang penting adalah Anda tahu:
- Kapan dan bagaimana AI bekerja di sekitar kita;
- Cara menggunakan AI untuk membantu pekerjaan sehari-hari;
- Bagaimana menilai apakah hasil AI dapat dipercaya atau tidak;
- Apa saja risiko dan batasan teknologi AI.
Mengapa AI Literacy Begitu Penting?
1. AI Ada di mana-mana
Mungkin tanpa disadari, Anda sudah menggunakan AI setiap hari:
- Saat Netflix merekomendasikan film yang mungkin Anda suka
- Ketika Google Maps mencarikan rute tercepat
- Saat aplikasi perbankan mendeteksi transaksi mencurigakan
- Ketika smartphone mengatur foto-foto Anda berdasarkan wajah
Dengan memahami cara kerja teknologi ini, Anda bisa menggunakannya lebih efektif dan aman.
2. Dampak ekonomi yang luar biasa
Penelitian McKinsey yang dikutip WEF menunjukkan bahwa AI diperkirakan akan memberikan kontribusi ekonomi sebesar 2,6 hingga 4,4 triliun dollar AS per tahun secara global. Perusahaan yang mengadopsi AI bisa meningkatkan produktivitas karyawan hingga 40 persen.
Artinya, baik perusahaan maupun individu yang paham AI akan punya keunggulan kompetitif yang signifikan.
3. Perubahan dunia kerja
Future of Jobs Report 2025 WEF memproyeksikan bahwa hampir 40 persen keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja akan berubah dalam 5 tahun ke depan karena AI. Ini tidak selalu berarti pekerjaan akan hilang, tetapi cara kita bekerja akan berubah.
Orang yang paham AI akan lebih mudah beradaptasi dan bahkan bisa menciptakan peluang kerja baru.
4 Pilar AI Literacy Menurut WEF
WEF mengadopsi kerangka kerja yang dikembangkan oleh European Commission dan OECD yang membagi AI Literacy menjadi 4 area utama. Sebenarnya ada kerangka lain yang juga populer, yaitu versi UNESCO. Berikut adalah kerangka versi OECD:
1. Berinteraksi dengan AI (Engaging with AI)
Ini adalah kemampuan dasar untuk mengenali dan menilai AI dalam kehidupan sehari-hari. Contoh praktis:
- Menyadari bahwa hasil pencarian Google menggunakan AI
- Bisa menilai apakah jawaban dari ChatGPT masuk akal atau tidak
- Memahami mengapa media sosial menampilkan konten tertentu di linimasa Anda
Mengapa penting: Agar Anda tidak mudah tertipu oleh informasi yang salah dari AI dan bisa menggunakan tools AI dengan lebih bijak.
2. Berkreasi dengan AI (Creating with AI)
Ini tentang bagaimana menggunakan AI sebagai partner untuk menyelesaikan masalah dan menghasilkan karya. Misalnya:
- Menggunakan AI untuk membantu menulis email yang lebih baik
- Memanfaatkan AI untuk membuat presentasi atau desain
- Berkolaborasi dengan AI untuk menganalisis data bisnis
Mengapa penting: AI bisa menjadi asisten yang sangat powerful jika Anda tahu cara “berkomunikasi” dengannya dengan tepat.
3. Mengelola tindakan AI (Managing AI’s Actions)
Ini tentang kemampuan mendelegasikan tugas kepada AI sambil tetap mengawasi hasilnya. Di antaranya:
- Mengatur chatbot layanan pelanggan untuk bisnis Anda
- Menggunakan AI untuk menyortir email, tapi tetap mengecek hasil pentingnya
- Membiarkan AI membantu mengatur jadwal, tapi tetap memverifikasi konflik yang mungkin terjadi
Mengapa penting: AI memang pintar, tapi tidak sempurna. Pengawasan manusia tetap diperlukan untuk hasil yang optimal.
4. Merancang solusi AI (Designing AI Solutions)
Ini adalah level yang lebih advanced, di mana Anda memahami cara kerja AI dan bahkan bisa membantu mengembangkan solusi AI. Contohnya:
- Memahami mengapa sistem rekomendasi AI di e-commerce Anda tidak akurat.
- Memberikan input untuk pengembangan aplikasi AI di kantor.
- Membantu melatih AI dengan memberikan umpan balik yang tepat.
Mengapa penting: Meski tidak semua orang perlu menjadi ahli, pemahaman dasar tentang cara kerja AI akan membuat Anda lebih berharga di tempat kerja.
Manfaat AI Literacy dalam Kehidupan Sehari-hari
Di tempat kerja
- Produktivitas meningkat: Anda bisa menyelesaikan tugas lebih cepat dengan bantuan AI.
- Pengambilan keputusan lebih baik: AI membantu menganalisis data yang kompleks.
- Inovasi: Anda bisa menemukan cara baru untuk memecahkan masalah lama.
- Kolaborasi: Lebih mudah bekerja sama dengan tim yang menggunakan alat AI.
Di kehidupan pribadi
- Keamanan digital: Anda lebih waspada terhadap penipuan online yang menggunakan AI.
- Efisiensi: Menggunakan AI assistant untuk mengatur kehidupan sehari-hari.
- Pembelajaran: Memanfaatkan AI untuk belajar hal-hal baru lebih cepat.
- Kreativitas: Menggunakan AI sebagai inspiration dalam hobi atau proyek pribadi.
Tantangan yang Perlu Diwaspadai
1. Informasi Palsu (Deepfake dan Misinformasi). AI bisa digunakan untuk membuat video palsu yang sangat realistis atau menyebarkan berita bohong. Dengan AI Literacy, Anda bisa lebih kritis dalam menerima informasi.
2. Bias dan Diskriminasi. AI belajar dari data yang dibuat manusia, jadi bisa “mewarisi” bias dan prasangka. Memahami hal ini membuat Anda lebih bijak dalam menggunakan hasil AI.
3. Ketergantungan Berlebihan. AI memang membantu, tapi jangan sampai membuat kita lupa cara berpikir kritis dan kreatif secara mandiri.
4. Privasi Data. AI butuh data untuk bekerja. Anda perlu paham data apa saja yang dibagikan dan bagaimana data tersebut digunakan.
5. Mengundang Delusi. Bot obrol AI dapat menjebak penggunanya dalam lingkaran delusi ketika diajak berdiskusi. Tendensi untuk menyenangkan pengguna, bisa berbahaya.
Bagaimana Cara Memulai?
Untuk individu:
- Mulai eksplorasi: Coba tools AI gratis seperti ChatGPT, Google Gemini, atau Canva AI.
- Belajar konsep dasar: Ikuti kursus online tentang AI untuk pemula.
- Praktik setiap hari: Gunakan AI untuk tugas-tugas kecil seperti menulis email atau merencanakan liburan.
- Bergabung dengan komunitas: Diskusikan pengalaman dengan orang lain yang juga belajar AI.
Untuk perusahaan:
- Pelatihan karyawan: Investasi dalam training AI literacy untuk seluruh tim.
- Pilot project: Mulai dengan project kecil untuk eksperimen.
- Kebijakan yang jelas: Buat panduan penggunaan AI yang etis dan aman.
- Kolaborasi: Kerja sama dengan institusi pendidikan atau konsultan AI.
Untuk dunia pendidikan:
- Integrasikan dalam kurikulum: Ajarkan AI literacy sejak dini.
- Pelatihan guru: Pastikan pendidik memahami AI terlebih dahulu.
- Tools yang tepat: Pilih aplikasi AI yang sesuai untuk pembelajaran.
- Etika dan tanggung jawab: Tekankan pentingnya penggunaan AI yang bertanggung jawab.
Masa Depan dengan AI Literacy
WEF menekankan bahwa AI Literacy bukanlah tanggung jawab satu pihak saja. Ini adalah tugas bersama antara Pemerintah sebagai pembuat regulasi dan kebijakan; Perusahaan yang berinvestasi dalam pelatihan dan pengembangan; Institusi pendidikan yang menyiapkan generasi AI.
WEF juga aktif mendukung inisiatif seperti Reskilling Revolution untuk mempersiapkan tenaga kerja masa depan. Ini menyiratkan bagaimana individu pun berperan untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan dunia yang mengadopsi AI.
Bayangkan dunia saat dokter menggunakan AI untuk diagnosis yang lebih akurat; Guru menggunakan AI untuk personalisasi pembelajaran setiap murid; Petani menggunakan AI untuk mengoptimalkan hasil panen; atau Seniman berkolaborasi dengan AI menciptakan karya-karya baru.
Ini semua bisa terjadi jika kita semua memiliki AI Literacy yang baik.
AI bukanlah ancaman yang harus dihindari, tetapi alat yang sangat berpengaruh yang perlu dipahami. Seperti yang dikatakan WEF, kunci sukses di era AI adalah literasi – kemampuan untuk memahami, menggunakan, dan mengawasi teknologi ini dengan bijak.
Mulailah dari sekarang. Tidak perlu langsung menjadi ahli, tapi setidaknya mulai familiar dengan AI yang ada di sekitar Anda. Masa depan yang cerah dengan AI dimulai dari langkah kecil yang Anda ambil hari ini. Ingat, AI dibuat untuk membantu manusia, bukan menggantikan.
Yang terpenting adalah bagaimana kita sebagai manusia bisa berkembang bersama teknologi ini. Dan itu dimulai dengan pemahaman yang baik – yang kita sebut Melek AI atau AI Literacy.
*Photo by Evangeline Shaw via Unsplash
Komentar Anda?