Masih tentang iklan yang sulit diukur kejujurannya. Coba, kalau ada yang masih ingat, apa saja janji-janji para caleg, dan calon presiden sewaktu kampanye? Adakah yang benar-benar sudah direalisasikan? Adakah yang cuma mulut manis belaka? Saking menghibutnya iklan mereka, kita terkadang lupa dengan pesan yang dibawanya.  Apalagi dalam konteks politik, karena iklan politik biasanya jualannya adalah janji-janji kemakmuran, kesejahteraan, dan semua kebaikan yang katanya demi rakyat. Apakah benar begitu, kenyataannya?

Berikut adalah artikel Ikrar Nusa Bhakti yang sangat menarik, mengupas iklan politik kita. Silakan menyimak ringkasannya, karena aslinya bisa Anda dapatkan di blog Ikrar Nusa Bhakti, yang alamatnya ada di bagian bawah artikel ini.

Iklan Pemilu Oleh Ikrar Nusa Bhakti, Kompas Jumat, 28 November 2008

Saat menjadi narasumber Rapat Kerja Kontras di Cipanas, Jumat (21/11/2008), Robertus Robet—dosen UNJ dan Sekjen Perhimpunan Pendidikan Demokrasi—mengatakan, ”Iklan politik di televisi lebih banyak bohong daripada melakukan pendidikan politik pada rakyat. Seperti iklan obat, mana mungkin orang sembuh sakitnya sepuluh menit setelah minum obat.”

…..

Miskin visi masa depan

Berbagai iklan politik dan pemilu itu miskin visi masa depan. Iklan-iklan itu hanya menjual kemiskinan, mimpi, dan program jangka pendek, tanpa substansi isi keprihatinan bangsa dan bagaimana cara mencapai cita-cita masa depan bangsa. Ini berbeda, misalnya, kampanye Bill Clinton dengan kata bertuah, It’s Economic, Stupid yang membeberkan visi memperbaiki nasib anak AS 100 tahun ke depan atau kampanye Barack Obama dengan slogan Yes, We Can yang mewujudkan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Tak ada partai politik atau calon presiden yang berani mengatakan, kita akan menghadapi situasi sulit 3-5 tahun ke depan akibat krisis global. Ekonomi Indonesia belum pulih akibat krisis 10 tahun lalu dibandingkan Malaysia, Thailand, dan Korea Selatan, dan kita sudah harus menghadapi krisis ekonomi lebih dahsyat. Terpikirkah oleh elite politik bangsa, pendekatan ekonomi apa yang harus diambil Indonesia guna mengatasi krisis. Jika ia seorang neoliberal yang pro-pasar dan pro-kapitalisme, langkah apa yang akan diambil?

Para pemilih kian jeli dengan politik transaksional dalam arti positif, yaitu siapa yang memiliki visi dan program jangka panjang mengatasi krisis multidimensi yang dihadapi bangsa, dia atau partainya yang dipilih. Kampanye politik bukan sekadar menebar mimpi untuk menuai kekecewaan, tetapi menebar program realistis yang dapat dilakukan lima tahun ke depan agar bangsa ini keluar dari krisis.

* Ikrar Nusa Bhakti, Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI | Baca juga dari  http://ikrarnusabhakti.wordpress.com/

Kajian Ikrar yang menelanjangi pesan-pesan terselubung dalam iklan-iklan politik itu, seharusnya menjadi kemampuan masyarakat dalam mencerap pesan dalam iklan. Dalam berbagai bentuk, baik cetak, radio, televisi, iklan politik kita, terutama pada saat kampanye, hampir selalu menampilkan pesan yang dibuat-buat, tidak menyentuh, tidak genuine Indonesia. Bandingkan dengan kampanye Obama, misalnya. Inilah salah satu kemampuan melek media yang diharapkan.

Tak satupun iklan politik di masa kampanye yang memberi inspirasi. Adegan favorit adalah senyam-senyum, ngobrol, dan seakan dekat dengan rakyat kelas bawah. Entah kapan dalam kehidupan yang sebenarnya, mereka melakukan itu. Tapi di mata orang awam, pesan terselubung itu digunakan untuk membeli hati rakyat. Janji “pro-rakyat”, seolah tak punya “kosakata” visual yang lebih cerdas selain adegan yang disebutkan di atas. Jadi, jangan tertipu lagi dengan iklan politik, apalagi yang mengumbar “kebohongan” terselubung.

Gambar poster : http://mampus.wordpress.com/

Komentar Anda?


Topik

Komentar

Gabung Melekmedia!