7 October, 2021 

Melawan Hoaks Butuh Lebih Dari Sekadar Fakta

Oleh: rahadian p. paramita
Tentang: ,  –  Komentar Anda?

Berita bohong atau hoaks

Tulisan lama ini tentang hoaks ini aslinya dipublikasikan di Beritagar.id (lalu menjadi Lokadata.id). Waktu itu, bagian dari kerja sama dengan ALMI atau Akademi Ilmuwan Muda Indonesia. Merupakan salah satu upaya untuk memahami hoaks, yang menyebar cepat seakan tak terbendung.

Apa, dan mengapa hoaks bisa sedemikian dahsyat? Hoaks demikian cepat menyebar, sehingga para pemeriksa fakta terkadang kewalahan mengatasinya. Sebuah riset bahkan menyebut, “kebohongan menyebar lebih cepat daripada kebenaran“. Riset oleh tiga peneliti asal AS yang dirilis pada 2018.

Pada tahun politik (2019), hoaks pun jadi sorotan. Kementerian Kominfo menemukan setidaknya 175 konten hoaks menyebar di internet dan media sosial selama Januari 2019. Dalam sehari, rata-rata 4 sampai 6 konten hoaks ditemukan dalam beragam isu.

Bisa dibayangkan seberapa cepat dan luas jangkauan sebuah kabar bohong. Apalagi, jumlah pengguna media sosial di perangkat bergerak sekitar 130 juta (2019).

Sejumlah pertanyaan pun menyeruak. Mengapa hoaks sedemikian cepat menyebar, dan mudah dipercaya meski tidak masuk akal sekalipun?

Dalam acara bertajuk “The Science Behind Hoax” yang digelar di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Senin (18/2/2019) silam, misteri di balik hoaks ini pun dibahas.

Dua ilmuwan dari Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) dihadirkan: Ahli neurosains, Berry Juliandi; dan pakar ilmu sosial, Roby Muhammad. Isi diskusi itulah yang sebagian besar jadi materi infografik berikut.

Sandy Nurdiansyah / Beritagar.id

Logika bukan saringan pertama

Ringkasnya, ada bagian pada otak bernama amigdala–bagian dalam otak paling primitif yang dimiliki makhluk hidup. Sifat primitifnya, membantu makhluk hidup waspada demi bertahan hidup. Misal, respons menghindar saat bertemu predator.

Amigdala pada manusia menjadi yang pertama memproses informasi. Kemudian, diproses secara logis pada bagian lain. Misal saat berpapasan dengan sesuatu yang ditakuti atau mengancam keselamatan diri, amigdala menerima sinyal “ancaman”. Manusia pun segera bereaksi. Pada umumnya manusia akan menghindar.

Ketika ancaman itu terasosiasi dengan sebuah entitas, penolakan muncul terhadap entitas tersebut. Bahkan ketika informasi tersebut bukanlah sebuah fakta.

Di sinilah masalahnya. Otak memproses informasi setelah melewati amigdala. Bila penolakan yang terlebih dahulu muncul, maka proses menafsir informasi secara logis urung terjadi. Proses lanjutan ini berlangsung di otak bagian depan.

Hoaks pun menjadi-jadi. Mampu memengaruhi sikap dan perilaku manusia, tanpa harus melalui proses olah informasi secara logis. Cukup menyasar “sakelar” pada amigdala, informasi sudah berdampak.

Lalu bagaimana mengatasinya? Berry yang merupakan Sekjen ALMI sekaligus anggota Pokja Sains Garda Depan; maupun Roby, anggota Pokja Sains dan Masyarakat ALMI, tak menawarkan jalan pintas.

Melawan hoaks–berupa kabar palsu atau sebagian palsu–tak sesimpel menawarkan fakta tandingan. Informasi berupa fakta-fakta tersebut sulit menjangkau otak, karena telanjut ditolak amigdala. Karenanya, akan sia-sia bila memaksakan fakta-fakta keras terhadap mereka yang telanjur “terinfeksi” hoaks.

Salah satu cara yang mungkin adalah mendidik anak lebih kritis terhadap informasi. Misalnya, mendidik sejak dini tentang hewan buas yang dianggap sebagai ancaman. Amigdala bisa distimulasi agar anggapan itu menipis, mencegah ketakutan berlebihan dan permanen.

Peran otak bagian depan juga bisa dioptimalkan dengan pendekatan ilmiah, agar rasa takut berkurang. Toh, tak sedikit manusia yang mampu berinteraksi dengan hewan buas. Tentunya, ini butuh “latihan” sejak dini, bukan kerja instan yang bisa langsung menghasilkan.

Photo by Jhefferson Santos from Pexels

Komentar Anda?


Topik

Komentar

Gabung Melekmedia!