Shock Doctrine, The Rise of Disaster Capitalism, demikian judul buku Naomi Klein, yang dibuatkan film pendeknya oleh Alfonso Cuarón. Film pendek ini mengutip beberapa bagian penting dari buku Klein, bahwa dunia ini sejatinya dikuasai oleh para kapitalis melalui tangan-tangan perkasa negara adikuasa. Ada banyak jalan untuk menembus dunia, antara lain dengan Shock Therapy

Terapi ini, menurut Klein, diadopsi dari cara-cara CIA ‘menaklukkan’ tawanannya, melalui berbagai macam teknik interogasi. Salah satu teknik yang disoroti adalah menciptakan panik dan keputusasaan. Kalau CIA melakukannya terhadap individu, teknik yang serupa bisa diterapkan pada komunitas, bahkan komunitas dunia. Kuncinya pada memanfatkan krisis, dimana pada saat itu masyarakat sedang panik dan kehilangan orientasi. Melalui berbagai topeng, kapitalis bisa masuk dan kemudian menancapkan ideologi dan infrastruktur lain ke dalam wilayah yang menjadi sasarannya.

In THE SHOCK DOCTRINE, Naomi Klein explodes the myth that the global free market triumphed democratically. Exposing the thinking, the money trail and the puppet strings behind the world-changing crises and wars of the last four decades, The Shock Doctrine is the gripping story of how America’s “free market” policies have come to dominate the world– through the exploitation of disaster-shocked people and countries. –The Shock Doctrine Website

Pernah dengar soal Mafia Berkeley? Mungkin banyak yang menyangkal tuduhan ini. Tapi sudahlah, tidak perlu berdebat soal itu, karena di atas semua teori konspirasi, sulit mencarikan bukti yang konkrit.

Tetapi setelah membaca sendiri buku The Shock Doctrine, Naomi Klein membuktikan bahwa Mafia Berkeley itu memang ada. Mereka adalah sekelompok ahli ekonomi yang menjadi penasehat Suharto, di masa sebelum berkuasa. Mafia Berkeley ini bahkan, menurut buku Klein, adalah kelompok yang meyakinkan Suharto untuk maju, dan ‘mengambil alih’ kekuasaan. CIA ada di belakang gagasan itu, dan tentu saja kompensasinya adalah kontrak karya atas kekayaan alam Indonesia. Dua tahun setelah Suharto naik tahta, hampir semua kekayaan itu sudah habis dibagi-bagi untuk para korporat multinasional. Buku yang wajib Anda baca 😀

Bagaimana Peran Media

Milton Friedman

Milton Friedman via nobelprize.org

Dalam video pernyataan Naomi Klein terhadap gagasannya tentang Disaster Capitalism, ia menjelaskan bagaimana masyarakat dunia telah kalah dalam perang dalam isu globalisasi dan pasar bebas. Media massa di dunia, menjadi corong besar yang mengamini kehebatan pasar bebas sebagai satu-satunya cara dalam mengelola perekonomian. Sebenarnya, dunia juga sedang mengamini Milton Friedman, sang ekonom dari Chicago University, yang terkenal sebagai ahlinya kapitalisme Laissez-faire.

Friedman adalah pemenang Hadiah Nobel untuk pencapaiannya di bidang analisis konsumsi, teori dan sejarah moneter, dan demonstrasi kompleksitas dari kebijakan tentang stabilisasi. Ia percaya dengan Kapitalisme Laissez-faire, suatu bentuk kapitalisme bebas yang sebebas-bebasnya. Kata Laissez-faire itu sendiri bisa diartikan sebagai “biarkan terjadi”.  Artinya, sesedikit mungkin aturan atau kendali oleh pemerintah. Biarkan ekonomi bergerak oleh para pelakunya.

Pendapat ini didasarkan pada pemikiran bahwa kepemilikan pribadi atas sumber daya dan kebebasan penuh untuk menggunakan sumber daya tersebut akan menciptakan dorongan kuat untuk mengambil risiko dan bekerja keras. Sebaliknya, birokrasi pemerintah cenderung mematikan inisiatif dan menekan perusahaan. – wikipedia tentang Laisse-faire

Kampanye gagasan pasar bebas meluas ke berbagai penjuru dunia melalui berbagai cara. Dengan tingginya kepercayaan terhadap resep pasar bebas untuk menyelesaikan persoalan ekonomi dunia, Friedman bebas ‘menjajah’ berbagai negara melalui kebijakan privatisasi, pencabutan subsidi, dan meniadakan intervensi pemerintah terhadap objek-objek ekonomi. Ketika Naomi membicarakan tentang kekalahan dunia terhadap isu pasar bebas, ia sedang membicarakan kekalahan wacana yang dibangun oleh media.

Fakta bahwa ekonomi Amerika jatuh gara-gara sistem perekonomian yang terlalu memanjakan pihak swasta. Lihat bagaimana gaji para eksekutif berkali-kali lipat lebih besar dalam struktur perusahaannya, tetapi begitu perusahaan bangkrut, karyawan harus menganggur, mereka selalu lolos dari pertanggungjawaban. Siapa yang harus bertanggung jawab? Kembali ke pemerintah. Pemerintah AS, harus menanggulangi (bail out) kebangkrutan beberapa perusahaan besar – salah satunya adalah Lehman Brothers – untuk mencegah kebangkrutan total perekonomian Amerika. Michael Moore dalam film Capitalism: A Love Story menunjukkan fakta-fakta tersebut dengan gamblang.

Untuk memuluskan perubahan kebijakan ekonomi suatu negara menjadi benar-benar bebas, cara masuk yang paling mudah adalah dengan memanfaatkan krisis yang sedang terjadi di negara itu. Ketika krisis, tak berdaya, frustasi, putus asa, sebuah negara tidak punya banyak pilihan. Maka tawaran bantuan plus sepaket aturan yang harus ditaati adalah cara paling mudah untuk mengubah kebijakan ekonominya.

Information is Shock Resistant, Arm Yourself!

Apa yang ditawarkan Naomi Klein sebagai penawar strategi shock therapy ini? Penguasaan informasi. Melalui slogan Information is Shock Resistant, Arm Yourself!, Klein menjelaskan bahwa hanya informasi yang tahan ‘guncangan’. Menguasai informasi, membuat kita tak perlu panik di saat kritis. Apalagi jika dikaitkan dengan peristiwa bencana yang tidak pernah bisa diramalkan datangnya secara akurat.

Secara implisit slogan ini mau mengatakan, berdayalah dengan informasi. Ketika rakyat suatu negara melek informasi, maka situasi krisis seperti apapun akan dilewati dengan tabah, meski pada prakteknya tidaklah gampang. Paling tidak dengan melek informasi, lebih mudah menemukan jalan keluar dari situasi krisis yang mencekam. Ketergantungan dari pihak luar bisa lebih dikurangi, solusi untuk mengatasi masalahnya bisa dicari sendiri. Kemampuan bangkit sendiri ini jadi penting agar tidak terjebak, didikte oleh kebijakan dari pihak lain yang belum tentu tepat.

Informasi bisa bisa berguna, jika yang kita kuasai adalah informasi yang benar. Kita tahu banyak sekali sumber informasi, tetapi tidak mudah menyebutkan mana yang paling benar. Semua media punya kepentingan yang mewarnai cara mereka dalam menyampaikan informasi, sehingga kita bisa memahami informasi secara ambigu. Karena itu, kemampuan melek media menjadi syarat mutlak untuk menjadikan kita never crack under pressure (meminjam slogan sebuah merek jam tangan).

Naomi Klein sendiri bukan tidak lepas dari kritik. Artinya, apa yang ia sampaikan melalui buku ini tidak semata-mata bisa dijadikan satu-satunya sumber informasi yang akurat. Pertanyaan yang sama bisa kita ajukan, atas kepentingan apa Naomi Klein mengulas semua hal di atas dalam bukunya? Sejauh yang saya rasakan, fakta-fakta yang diungkapnya sangat mencerahkan, menjadi alternatif di antara media mainstream yang punya gen menghegemoni informasi.

Saran saya adalah, silakan baca buku ini. Apakah Anda percaya atau tidak dengan isinya, keputusan ada di tangan Anda.

Di bawah ini adalah video tentang The Shock Doctrine, dan penjelasan Naomi Klein tentang The Rise of Disaster Capitalism.

Show »

Film pendek “Shock Doctrine”:

Naomi Klein tentang The Rise of Disaster Capitalism.

*Foto diambil dari listal.com

Komentar Anda?


Topik

Komentar

Gabung Melekmedia!