25 September, 2021 

Kompetensi Melek Media

Melek media adalah kemampuan untuk mengenali peran media (termasuk media massa) dan pengaruhnya, sembari mendorong “kompetensi, kritis, dan melek terhadap berbagai jenis media” (Thoman & Jolls, 2003, p. 21). Melek media mengembangkan keterampilan untuk mempertanyakan dan mengekspresikan diri di alam demokrasi (Thoman & Jolls, 2003, p. 21).

Melek media juga bisa disebut sebagai “pemahaman yang kritis, analitis, dan reflektif terhadap media massa, termasuk komponen estetika di dalamnya, struktur institusional di baliknya, konteks sosial dan ekonomi yang melatarbelakanginya, juga kemampuan untuk memproduksi media dan mempengaruhi pengambil kebijakan di media” (Brown, 2001).

Ada pula yang mengkategorikan program melek media dalam tiga jenis kegiatan: Produksi media dalam upaya memahami proses konstruksi pesan dalam media; studi media yang berfokus pada penelusuran pengaruh “aspek sosial, ekonomi, politik, dan etis” terhadap media; dan analisis kritis terhadap isi media (Anderson & Ploghoft, 1993; Brown, 2001).

Dalam versi CML MediaLit Kit™, terdapat 5 Pertanyaan Kunci yang berasal dari 5 Prinsip melek media yang diperas dari pendapat berbagai praktisi dan pemerhati melek media di seluruh dunia. Versi ini bukan satu-satunya, tetapi dapat menjadi rujukan karena kepraktisannya. Kiat tersebut berlaku untuk proses “mendekonstruksi”, atau analisis pesan dalam media, juga untuk proses “mengkonstruksi” atau memproduksi pesan melalui media.

5 Prinsip Utama CML ini dapat diaplikasikan, baik dalam konteks “mengonsumsi” media atau “memproduksi” media; meski demikian 5 Pertanyaan Kunci sebagai turunannya telah disesuaikan karena konsumen punya cara pandang yang berbeda dengan produsen media. Perbedaan cara pandang ini bisa berdampak pada “nada” bertanya, mengubah konsumen yang pasif menjadi produsen yang aktif.

Di dunia pendidikan, melek media lebih dari sekadar membantu siswa menyikapi media. Ini menjadi ciri penting lain melek media, yaitu belajar tentang media, bukan belajar dengan bantuan media. Peran media (pada pelajaran tertentu) di sekolah bukan sebagai “alat bantu”, melainkan subyek pembelajaran.

Melek media mendorong siswa berpikir lebih dalam, lebih kritis, tentang keputusan di balik semua konten yang bertebaran di media, apapun bentuknya. Selain mencermati isinya, siswa menginvestigasi bagaimana pesan dalam media tersebut dirancang/dikonstruksi, kemudian mempraktikkannya sendiri.

Maaf, Anda tak bisa lagi berkomentar.