Bila Media Diabaikan Mesin Pencari – Melék Media


Beranda  »  Artikel » Pantau Media   »   Bila Media Diabaikan Mesin Pencari

Bila Media Diabaikan Mesin Pencari

Oleh: Melekmedia -- 14 Februari, 2023 
Tentang: , , , ,  –  Komentar Dinonaktifkan pada Bila Media Diabaikan Mesin Pencari

mesin pencari edho pratama unsplash

Penerapan AI ke dalam mesin pencari menimbulkan banyak pertanyaan. Bila Anda telah menemukan paragraf berisi (ringkasan) konten dari apa yang dicari di internet, untuk apa lagi mengeklik tautan?

Microsoft telah mengumumkan implementasi kecerdasan buatan (AI) dalam situs pencarian mereka, Bing. Lewat peramban miliknya, Microsoft Edge, Bing kini dilengkapi fitur percakapan oleh robot pintar.

Teknologinya kurang lebih sama dengan ChatGPT oleh OpenAI, tetapi Microsoft mengklaim lebih canggih. Microsoft memang punya hak khusus untuk memanfaatkan teknologi buatan OpenAI. Lagipula, teknologi language model yang dipakainya ini telah disesuaikan khusus untuk mesin pencari.

Di luar soal isu privasi dan akurasi, tren ini mengkhawatirkan media daring yang mengandalkan mesin pencari sebagai sumber lalu lintas kunjungan ke situs mereka. Dalam bentuk tanya-jawab, tautan tak penting lagi. Minat untuk mengeklik pun mengempis.

Bayangkan bila situs web semakin sulit ditemukan lewat mesin pencari, dari mana publik akan mengetahui keberadaan situs tersebut? Pilihan lain hingga saat ini belum bisa menjamin jangkauan massal seperti yang disediakan Google atau Bing sebagai mesin pencari.

Fenomena barusan hanya satu contoh kasus dampak kehadiran AI yang tak begitu diidamkan—khususnya oleh para penerbit konten secara daring lewat situs web. Beda cerita bagi yang mengandalkan penyebaran konten hanya lewat media sosial.

Memangnya seberapa besar dampak mesin pencari terhadap situs-situs web di Indonesia? Coba tengok daftar situs yang paling banyak diakses, menurut data Similarweb per Januari 2023:

1) Google.com; 2) Youtube.com; 3) Facebook.com; 4) Instagram.com; 5) Twitter.com; 6) Whatsapp.com; 7) Ppgames.net; 8) Shopee.co.id; 9) Detik.com; 10) Kompas.com.

Nomor satu masih dipegang Google.com, situs mesin pencari sekaligus situs terpopuler di Indonesia. Di antara 10 besar dalam daftar itu, ada dua media daring di ranking 9 dan 10 yang mungkin tak selalu tergantung pada mesin pencari lantaran pengguna terbiasa berkunjung ke laman utamanya.

Sebagian besar yang lain mengandalkan lalu lintas kunjungan lewat mesin pencari seperti Google. Ini ditandai dengan popularitas SEO (Search Engine Optimatization) yang menjadi mantra bila ingin membuat konten yang mudah ditemukan calon pembaca.

Upaya itu bisa jadi tak berarti apa-apa bila semua mesin pencari meniru atau mengikuti langkah Bing. Tautan sumber tak lagi tampil menonjol, muncul di baris paling bawah layaknya catatan kaki dalam tulisan ilmiah.

Ini karena robot semacam ChatGPT memiliki fitur mutakhir untuk membuat peringkasan. Ia menampilkan hasil pencarian dalam bentuk artikel atau tulisan yang meringkas hasil pencarian dari berbagai sumber. Di situs aslinya, openai.com, sumber datanya bahkan tak ditampilkan sama sekali.

Meskipun, laman hasil pencarian yang klasik saat ini masih tampil di laman utama pencarian Bing. Menu “Obrolan” atau “Chat” muncul sebagai salah satu fitur pilihan dalam proses pencarian.

“Mesin pencari Bing dan peramban Edge yang didukung AI sekarang tersedia dalam pratinjau di Bing.com, untuk memberi pencarian yang lebih baik, jawaban lebih lengkap, pengalaman obrolan baru, dan kemampuan untuk menghasilkan konten. Kami menganggap alat ini sebagai kopilot AI untuk web,” demikian pernyataan resmi Microsoft di situsnya (7/2/2023).

Seperti yang dijelaskan CEO Microsot, Satya Nadella dalam video WSJ di atas, AI memperkuat konteks hasil pencarian, ia semakin relevan untuk mencari jawaban yang diinginkan. Ia pun menyinggung tautan sumber yang ditampilkan pada konten.

Dalam kesempatan lain, Chief Marketing Officer Microsoft, Yusuf Mehdi, menyatakan mereka “sangat peduli untuk dapat mengarahkan lalu lintas kembali ke pembuat konten”. Tautan dalam catatan kaki di akhir paragraf diklaim memudahkan pembaca menemukan sumber aslinya.

Itu menurut mereka. Namun coba pikirkan lagi, bila Anda telah menemukan paragraf berisi (ringkasan) konten dari apa yang dicari, kemungkinan besar Anda akan berhenti di situ. Anda sudah menemukan apa yang dicari, lalu untuk apa lagi mengeklik tautan?

Kekhawatiran ini juga disampaikan Danielle Coffey, Wakil Presiden Eksekutif dari News Media Alliance, sebuah grup bisnis yang anggotanya lebih dari 2.000 media cetak dan daring di seluruh dunia—termasuk The New York Times dan The Wall Street Journal.

“Kecuali ada kesepakatan khusus, benar-benar tidak ada pendapatan yang kembali ke lembaga publikasi. Dan itu sangat bermasalah bagi industri kami,” kata dia seperti dikutip Wired.

Bagaimana dengan Google yang menguasai 93 persen pasar pencarian di jagat internet? Paradigma yang sama sudah terpikir oleh CEO Google waktu itu (sebelum berubah menjadi Alphabet), Eric Schmidt. Pada 2011 ia pernah menyatakan:

“[…] hal lain yang kami lakukan, lebih strategis, adalah mencoba beralih dari jawaban berbasis tautan ke jawaban berbasis algoritme, di mana kami benar-benar dapat ‘menghitung’ jawaban secara tepat. Kami sekarang memiliki teknologi kecerdasan buatan dan skala yang cukup, serta yang lainnya, sehingga kami dapat, misalnya, memberi Anda — benar-benar menyediakan jawaban yang benar.”

Pernyataan itu kini terdengar sangat jelas, ingin mengubah hasil pencarian yang menampilkan tautan, menjadi hasil pencarian yang berbasis “jawaban”. Visi Tuan Schmidt itu pun terwujud dengan pengumuman Google 6 Februari 2023 lalu, menyambut perilisan Bing plus AI.

Google menyebutnya Bard, diklaim mampu memahami seluk-beluk bahasa manusia. Mesin ini memiliki pemahaman informasi tingkat lanjut dan multibahasa yang dapat memilih momen penting dalam video dan memberikan informasi penting, termasuk dukungan krisis, dalam lebih banyak bahasa.

Teknologi AI terbaru ini, menurut CEO Google dan Alphabet, Sundar Pichai, membantu mensintesiskan wawasan untuk pertanyaan yang tidak memiliki jawaban yang benar.

“Anda akan segera melihat fitur yang didukung AI di laman penelusuran yang menyaring informasi kompleks dan berbagai perspektif ke dalam format yang mudah dicerna, sehingga dapat dengan cepat memahami gambaran besarnya dan mempelajari lebih lanjut dari web…” ujarnya.

Fitur AI baru ini akan segera diluncurkan di laman penelusuran Google. Belum tahu kapan dan bagaimana bentuknya. Tapi sekilas dapat diintip dalam GIF yang dilampirkan artikel pernyataan resmi Google di situsnya.

Tak nampak lagi tautan paling atas yang menjadi idaman para penerbit. Pertanyaan langsung dijawab dengan konten. Tak ada tautan, tak ada klik. Tanpa klik, tak ada kunjungan ke situs pemlik konten. Tak ada kunjungan, tak ada pendapatan. Setidaknya bagi mereka yang mengandalkan model bisnisnya pada jumlah kunjungan ke situs.

Bagi Google (atau Bing), secara teoritis tak mengubah banyak hal soal jumlah kunjungan. Pembaca tetap akan mencari lewat Google, lalu diam di sana karena semua jawaban telah tersedia. Mungkin, pembaca bahkan akan lebih betah di laman Google (atau Bing) daripada berkunjung ke situs-situs lain.

Tapi bila tak ada pihak ketiga (selain pembaca) yang bisa mendapat benefit dari laman mesin pencari dengan AI seperti gambaran di atas, siapa yang akan membeli iklan di laman tersebut? Siapa yang akan berbondong-bondong melakukan lelang demi posisi paling hot di laman mesin pencari?

Kita belum tahu jawabannya saat ini hingga mesin pencari berbasis AI tersebut resmi dirilis untuk publik. Seperti juga pertanyaan tentang kehadiran teknologi yang diduga akan membawa disrupsi pada banyak bidang, termasuk bisnis media.

Soal kemungkinan robot menggantikan manusia pada masa mendatang, Satya Nadella secara diplomatis menjawab, teknologi ini tidak akan menggantikan manusia tetapi membantu manusia melakukan pekerjaannya—bahkan bisa melahirkan lapangan kerja baru.

Jawaban Tuan Nadella tak jauh berbeda bila pertanyaan yang mirip kita ajukan kepada ChatGPT: “Apa saja pekerjaan yang bisa diambil alih ChatGPT?” Berikut ini adalah jawabannya:

ChatGPT, sebagai model bahasa yang dikembangkan oleh OpenAI, memiliki kemampuan untuk membantu dalam beberapa pekerjaan tertentu. Beberapa pekerjaan yang dapat diambil alih oleh ChatGPT meliputi:

  • Generating text: ChatGPT dapat digunakan untuk menghasilkan teks dengan cara yang cepat dan efisien. Ini bisa membantu dalam tugas-tugas seperti penulisan berita, penulisan ulasan, dan penulisan teks iklan.
  • Responding to customer inquiries: ChatGPT dapat digunakan untuk membantu dalam tugas-tugas layanan pelanggan, seperti menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan oleh pelanggan.
  • Summarizing information: ChatGPT dapat digunakan untuk membuat ringkasan dari teks atau informasi yang panjang dan rumit, membuatnya lebih mudah dipahami oleh target audiens.
  • Data entry: ChatGPT dapat digunakan untuk memasukkan data ke dalam sistem, seperti memasukkan data kontak ke dalam daftar alamat email.

Itu hanya beberapa contoh pekerjaan yang dapat diambil alih oleh ChatGPT. Namun, perlu diingat bahwa ChatGPT masih memiliki beberapa keterbatasan dan mungkin tidak dapat mengatasi tugas-tugas yang memerlukan analisis dan pemikiran kreatif yang lebih baik.

Selalu penting untuk mempertimbangkan keterbatasan dari teknologi dan memastikan bahwa tugas-tugas penting yang membutuhkan pemikiran manusia tetap dilakukan oleh profesional yang sesuai.

*Photo by Edho Pratama on Unsplash

Artikel lain sekategori:

Maaf, Anda tak bisa lagi berkomentar.



Exit mobile version