Revolusi Seperti Apa yang Masuk Radar Media? – Melék Media


Beranda  »  Artikel » Pantau Media   »   Revolusi Seperti Apa yang Masuk Radar Media?

Revolusi Seperti Apa yang Masuk Radar Media?

Oleh: Melekmedia -- 25 September, 2011 
Tentang: , , , ,  –  Komentar Dinonaktifkan pada Revolusi Seperti Apa yang Masuk Radar Media?

Netralitas media jadi perdebatan panjang yang hingga kini belum berakhir. Ada yang menyebutnya mitos, atau sebaliknya. Diskusi ini bisa melemparkan pertanyaan seperti adakah media yang benar-benar netral? Apakah media yang netral itu baik, lalu apakah yang tidak netral itu buruk?

Single “The Revolution Will Not Be Televised”, adalah salah satu yang memotret “netralitas” media secara kritis. Ia mengkritik perilaku media yang diskriminatif, menayangkan sesuatu yang sesuai selera saja. Puisi menjelma lagu itu kini disebut rap, diproduksi dalam album Pieces of a Man (1971).

Penulisnya adalah Gil Scott-Heron. Ia mengilhami lahirnya Hip-Hop yang membuat Talib Kweli, Kanye West, atau Kendrick Lamar kini jadi pesohor. Pengaruhnya sangat besar dalam musik bergenre funky groove, yang kental isu politik. Gil Scott-Heron adalah seorang komposer, musisi, penulis, dan penyair. 

Ia melahirkan lirik “The Revolution Will Not Be Televised” itu saat masih berusia 21. Banyak yang menyangka lagu itu berusaha memantik revolusi fisik, gerakan perlawanan pada zamannya. Namun seperti yang dikemukakan Heron, revolusi saat ini bisa berlangsung dalam pikiran.

Dalam lirik lagu tersebut, setidaknya ada 43 istilah yang merujuk peristiwa atau artefak budaya populer saat itu. Mulai dari tokoh politik, selebritas, televisi dengan siaran berita dan iklannya, serta perangkat teknologi yang tengah naik daun.

Di antara sekian banyak amatan Heron dalam lirik tersebut, ia menyinggung diskriminasi terhadap liputan kekerasan di televisi. Warga kulit hitam AS, pada era itu, mengalami banyak sekali kekerasan dari pihak kepolisian, tapi sangat sedikit yang menjadi perhatian media, khususnya televisi. Bahkan sampai hari ini, hal tersebut masih jadi masalah.

Pada salah satu baris lagu, ia menulis, “There will be no pictures of pigs shooting down brothers on the instant replay“. Heron menggunakan istilah “pigs” (babi) untuk menyebut polisi, dan menyorot nihilnya berita televisi yang menayangkan penembakan semena-mena terhadap warga kulit hitam yang tak bersalah.

Diskriminasi dari balik amatan kamera

Pernyataan Heron dalam judul lagu itu digunakan lagi sebagai sindiran untuk media, yang memilih tayangan sesuai ratingnya. Kali ini untuk menilai pemberitaan terhadap revolusi di Venezuela yang dipelopori Hugo Chavez, sejak terpilih pada 1998. Netralitas media, kembali dipertanyakan.

Chavez dipandang berani melawan arus “kapitalisme Barat” yang menguasai aset-aset penting di negara itu. Ia rajin mengkritik kebijakan Amerika Serikat, dan lebih merapat ke Fidel Castro di Kuba. Chavez rajin membuat kebijakan nasionalisasi perusahaan pengeksplor dan eksportir minyak. Diambil-alihnya sebagian besar kepemilikan asing perusahaan di sana.

Dari sisi pemberitaan di media mainstream, banyak yang memberitakan peristiwanya namun dituding tidak netral. Pemberitaan pemberontakan terhadap Chavez dinilai tak imbang. Misalnya soal para pendukung Chavez yang menembaki para demonstran oposisi.

Di media, yang ditampakkan hanya agresifitas para pendukung Chavez, seolah mereka menembaki oposisinya tanpa alasan. Pro-Chavez berdalih mereka ditembaki duluan, dan menembak balik sebagai upaya melindungi pergerakan demonstran yang terjebak posisi sulit. Ini tergambar dengan jelas dalam sebuah film dokumenter pada 2002.

Kebrutalan pendukung Chavez ditampakkan secara lugas, tanpa konteks yang lengkap. Sisi “revolutif” Chavez, dikebiri oleh bias sudut pandang dari dan untuk mereka yang tak suka dengan aksi-aksi Chavez.

Film dokumenter seperti ini menjadi bukti, atau paling tidak jadi alternatif catatan, dalam sejarah yang biasanya hanya ditulis di media-media mainstream. Independensi media-media ini perlu terus dikritisi, benarkah mereka memilih apa yang perlu ditayangkan dan tidak?

Pakar komunikasi, Jalaluddin Rahmat, dalam sebuah diskusi tentang media saat reformasi tengah berkobar, pernah mengutip sebuah kredo menarik: “Media (televisi) itu pintar memilah mana berita sampah dan bukan sampah, lalu menayangkan sampahnya saja.” Ia mengomentari perbedaan isi tayangan televisi luar negeri dan dalam negeri, saat meliput kekerasan aparat terhadap demonstrasi besar-besaran di Jakarta.

Kalimat yang cukup pedas itu diucapkan dalam sebuah forum yang juga dihadiri petinggi media waktu itu. Komentar dari si petinggi media tak kalah menarik. Ia mengaku, menayangkan suatu berita adalah risiko terhadap jabatan para penanggung jawab berita. Dan, penanggung jawab berita tak kalis dari pengaruh pemilik media.

Sewaktu kerusuhan 1998 di Jakarta, ia mengaku memiliki banyak rekaman yang menunjukkan keterlibatan pihak tertentu dalam kejadian itu, tapi tak mungkin menayangkannya karena ada tekanan penguasa melalui para pemilik media. Ia, akhirnya meninggalkan stasiun TV itu.

Berikut film dokumenter tentang revolusi di Venezuela, berjudul THE REVOLUTION WILL NOT BE TELEVISED. Ya, judul film ini mengutip sepenuhnya judul lagu Heron. Resensi lengkap film ini bisa dibaca di blog indoprogress.com, Media Massa Tak Memihak Massa.

DIRECTED/PHOTOGRAPHED BY KIM BARTLEY AND DONNACHA O’BRIAIN IRELAND, 2003 (1:14:31).

Mitos tentang netralitas media

Inilah cara pandang media, yang harus diperiksa dari sudut mana datangnya. Tak semua media mengabarkan sesuatu dari sudut pandang “netral”. Bahkan, media yang netral dipercaya tak ada di muka bumi ini. Pasti ada kepentingan di baliknya, entah baik atau buruk.

Semua orang tumbuh dalam situasi yang berbeda, terpapar informasi yang beragam, baik dari sisi jumlah maupun kualitas. Hal ini berkontribusi dalam membentuk kepercayaan mereka terhadap sesuatu. Pengalaman hidup, mengonfirmasi kepercayaan tersebut menjadi nilai-nilai yang mendarah-daging dalam kepribadian seseorang.

Seberapa pun upaya manusia untuk menjadi netral saat menyebarkan informasi, akan selalu ada bias. Ini terjadi karena informasi itu disebarkan berdasarkan nilai-nilai yang menjadi pondasi kebiasaan, perilaku, cara berpikir si penyebar.

Saat kita bicara media, maka “netralitas media” tentu dibangun di atas nilai-nilai yang dipercaya oleh punggawa media tersebut. Terutama mereka yang menjadi pengambil keputusan dalam penerbitan.

Apakah bias-bias ini selalu berarti buruk? Belum tentu. Faktanya, perbedaan cara pandang ini sah dalam negara demokrasi. Fakta bisa punya “banyak wajah”, layaknya orang-orang buta yang berdebat soal bentuk gajah; Bagi yang memegang kakinya, akan percaya bahwa gajah seperti pohon. Tidak demikian bagi yang memegang ekornya.

Media yang “baik” akan berusaha menjelaskan duduk perkara Si Gajah secara lengkap. Gajah tak hanya seperti batang pohon yang besar, kaku, dan tegak. Gajah juga punya ekor yang lincah bergerak. Atau kuping yang tipis dan lebar. Ia harus bisa menjelaskan secara utuh, tanpa bias ke salah satu “kepercayaan” saja.

Kini kita hidup pada era dengan derajat perbedaan makna yang luas tentang “media”. Media tidak lagi sekadar media massa, karena kini ada media sosial. “Media 2.0”, kata sebagian ahli. Istilah “media” bukan lagi monopoli ruang redaksi, tapi bisa datang dari jempol-jempol rakyat jelata.

Pengambil kebijakan tentang mana informasi yang ingin diterbitkan, tak melulu dimonopoli awak redaksi dengan proses pengambilan keputusan yang njelimet. Netizen, para pengguna internet, siapapun dia, kini bisa memproduksi informasi hanya lewat perangkat di tangannya.

Media sosial seperti YouTube, bisa jadi alternatif perlawanan terhadap diskriminasi informasi. Penyebaran film dokumenter tentang Chavez di Venezuela, bisa menjangkau publik dunia berkat panggung yang disediakannya. Tapi ada dua sisi pisau yang tak terelakkan.

Persoalan “netralitas media”, bisa semakin kabur di media sosial. Di medan tempur baru ini, jurnalisme harus berhadapan dengan awam, atau mereka yang secara terorganisir ingin menguasai narasi sesuai kepentingannya. Maka pemirsa, pembaca, pengguna media sosial, harus selalu waspada.

*Gambar diambil dari criticalinternetculture.wordpress.com

Artikel lain sekategori:

Maaf, Anda tak bisa lagi berkomentar.



Exit mobile version