Media Sosial itu Apaan Sih? – Melék Media


Beranda  »  Artikel » Media Baru   »   Media Sosial itu Apaan Sih?

Media Sosial itu Apaan Sih?

Oleh: rahadian p. paramita -- 19 Maret, 2010 
Tentang: , ,  –  Komentar Dinonaktifkan pada Media Sosial itu Apaan Sih?

Jejaring sosial dan media sosial

Apaan sih social media? Pertanyaan ini mungkin sering muncul, seiring dengan popularitas social media, atau media sosial, yang kini sedang menanjak.

Di berbagai media massa, isu ini sering dibahas, baik dari sisi positif maupun negatifnya. Ada banyak pula penjelasan mengenai media sosial ini.

Berikut salah satu ulasan tentang media sosial, yang berhasil ditemukan di internet.

Situs CommonCraft.com, adalah website unik yang menyajikan banyak sekali video-video, dengan judul “… In Plain English“. Maksudnya adalah, “… penjelasan dalam bahasa yang sederhana”.

Menurut video dari CommonCraft.com ini, sosial media terlahir seperti gagasan menjual Ice Cream (Es Krim). Diversifikasi rasa dalam produk Es Krim, memberi ide pada banyak orang untuk membuat es krim-nya sendiri.

Lalu bermunculan banyak sekali es krim dengan berbagai rasa. Tetapi tentu saja ada satu atau dua yang paling terkenal, dan itu wajar saja terjadi. Tapi, kini pilihan itu menjadi semakin banyak.

Es krim dalam cerita ini merupakan analogi dari ranah media. Es krim diibaratkan seperti informasi, yang dulu dimonopoli oleh media massa mainstream, seperti televisi, koran, atau majalah.

Sekarang, dengan adanya internet, semua orang punya saluran sendiri, bisa membuat medianya sendiri, untuk kepentingannya sendiri, dan disebarluaskan ke publik.

Es Krim, dalam video ini kemudian tidak saja dimonopoli oleh industri, tetapi siapapun bisa memproduksi es krim. Resikonya adalah, semakin banyaknya produk, membuat konsumen bingung menentukan pilihan.

Agar konsumen tidak pusing, maka ada gagasan untuk membuat “rapot” tentang produk es krim yang dijual. Muncul ide untuk memberi rating, komentar, dan terlibat dalam memberi saran serta kritik.

Akhirnya, produk dapat meningkatkan kualitas setelah belajar dari konsumen.

Begitu pula dengan media. Kini khalayak tidak saja mengkonsumsi informasi dari media, tetapi mendapat banyak sekali kesempatan untuk turut memproduksi informasi melalui medianya sendiri.

Inilah sifat media sosial, dari dan untuk masyarakat. Karena sifatnya yang sangat demokratis, dibutuhkan sikap dan perilaku yang relevan dengan ide demokrasi itu sendiri.

Kebebasan berpendapat, tetapi tidak melupakan etika dan etiket yang berlaku dalam suatu masyarakat, dan tentu saja jangan sampai melanggar ketentuan hukum yang berlaku.

Di sinilah peran melek media atau literasi media sangat penting. Agar mampu bersosialisasi di dunia yang baru ini, dibutuhkan pemahaman yang cukup.

Tidak cuma soal pemahaman, tetapi juga sikap dan keterampilan yang baru. Membuat komentar tentu mudah, tapi komentar yang relevan dan tidak melanggar, tentu membutuhkan sejenak waktu untuk berpikir.

Media sosial atau jejaring sosial

Istilah media sosial vs jejaring sosial sering dipertukarkan penggunaannya karena memiliki banyak kesamaan makna. Meski begitu, ada perbedaan yang perlu dipahami.

Ada beberapa perbedaan utama dan mengetahui perbedaannya dapat membantu memahami pemanfaatannya.

Media sosial adalah panggung untuk berbagi informasi dengan khalayak luas. Setiap orang memiliki kesempatan untuk membuat dan mendistribusikan. Asalkan ada koneksi internet dan akun di platform yang diinginkan.

Misalnya Anda memiliki akun YouTube, dan menggunakan akun tersebut untuk berbagi video. YouTube pada dasarnya adalah media sosial, yang menyediakan panggung berbagai video.

Di sisi lain, jejaring sosial adalah tindakan keterlibatan. Sekelompok orang dengan minat yang sama, atau pikiran yang sama, bergaul bersama di situs jejaring sosial dan membangun hubungan melalui komunitas.

Jejaring sosial pada dasarnya mempertemukan antar-orang, atau antar-komunitas. Bentuk interaksi di antara penggguna ini bisa berupa percakapan, sehingga antar-akun dalam jejaring cenderung setara.

Istilah jejaring sosial, karenanya, tidak eksklusif digunakan di internet. Sebelum ada internet, manusia sudah berjejaring, berkelompok, sesuai minat dan kepentingan.

Bandingkan dengan media sosial seperti YouTube. Apakah tujuan utama para pengguna YouTube berinteraksi satu sama lain lewat konten yang mereka publikasikan itu? Tidak selalu begitu.

Akan ada akun yang mengirim atau mengunggah konten, dan khalayak yang memberi respons. Seperti analogi rapot yang digunakan dalam video es krim di atas.

Bahwa khalayak yang memberi respons ini harus memiliki akun (dan login sebelum bisa berinteraksi), setiap akun pada dasarnya akan mendapat insentif untuk memproduksi video, bukan untuk berkomentar.

Selain itu, fitur di media sosial cenderung fokus pada satu produk: YouTube sejauh ini hanya bisa digunakan untuk mengunggah berkas audio visual. Tidak bisa digunakan untuk mengunggah tulisan/teks.

Sementara banyak jejaring sosial di internet juga memberi fitur-fitur untuk mengunggah konten. Twitter atau Facebook misalnya, memungkinkan pengguna mengunggah foto, bahkan video.

Artinya, bisa ada media sosial di dalam panggung jejaring sosial. Bahkan platform jejaring sosial bisa menyediakan lebih dari satu fitur media, karena media bukan fokus utama “layanannya”.

Perbedaan lainnya, media sosial mengadopsi metode komunikasi satu-ke-banyak. Seperti dijelaskan dalam industri es krim di atas, awalnya hanya “pabrik besar” yang bisa berproduksi. Kini, semua orang bisa.

Karena produksi meriah, produk melimpah. Orang lalu diberi alat menanggapi dan berkomentar. Pengguna adalah pemilik konten dan harus selalu memproduksi (menulis/merekam/membuat), inilah fitur utamanya.

Adapun jejaring sosial, cenderung mengadopsi komunikasi dua arah. Tergantung pada topik, materi atau suasana, orang berkumpul untuk bergabung dengan orang lain dengan pengalaman dan latar belakang yang sama.

Percakapan adalah inti dari jejaring sosial dan melalui percakapan itulah hubungan bertumbuh-kembang.

Perbedaan lainnya adalah media sosial butuh kerja keras dan waktu yang cukup. Anda tidak bisa diam di media sosial dan berharap didatangi pengunjung. Khalayak akan tumbuh bila konsisten memproduksi.

Sedangkan dalam jejaring sosial, komunikasi langsung antar-anggota jejaring kasual, tidak harus dirancang serius, dan lebih pribadi. Jaringan tumbuh secara eksponensial saat tersebar kepada pengguna lain.

*Photo by cottonbro from Pexels

Artikel lain sekategori:

Maaf, Anda tak bisa lagi berkomentar.



Exit mobile version