
Dua penelitian terkait Generasi Z atau Gen Z di Indonesia mengungkap fenomena menarik. Satu, tentang Gen Z yang ternyata lebih doyan berita yang menghibur. Hasil riset lainnya terkait Gen Z yang susah membedakan berita beneran sama hoaks.
Kedua riset memang tidak dilakukan bersama-sama, dengan konteks berbeda, dan linimasa yang juga berbeda. Kita akan coba bandingkan, dan menebak-nebak apakah ada korelasinya secara “kasar”, untuk mendapatkan gambaran tentang karakter Gen Z Indonesia terhadap konten berita.
Mereka yang lahir antara 1995–2010 ini tak bisa lepas dari Instagram dan TikTok, tempat mereka menyerap berita dalam hitungan detik. Tapi, di balik kecintaan mereka pada berita singkat dan visual, ada pertanyaan besar: seberapa jago mereka membedakan fakta dari hoaks?
Penelitian yang dirilis The Conversation (2025) ditulis Ratna Puspita dari Universitas Pembangunan Jaya terhadap 100 mahasiswa Jabodetabek dengan kombinasi metode kuantitatif-kualitatif. Ia mengukur tingkat kepuasan terhadap konten berita di Instagram.
Ada lima kategori kepuasan yang diukur: Kepuasan dalam hal hiburan, identitas pribadi (relevansi), informasi, interaksi sosial, dan kepuasan terhadap kenyamanan. Secara umum, media alternatif cenderung memiliki persentase kepuasan yang lebih tinggi pada semua kategori.
Akun yang jadi subyek riset antara tiga media alternatif (Folkative, USS Feeds, Cretivox) dan tiga media berita tradisional (@detikcom, @idntimes, @kompascom). Instagram dipilih karena 85,3% Gen Z Indonesia aktif di platform ini (We Are Social 2024).
Tingkat kepuasan pada akun-akun media berita hanya sedikit lebih tinggi pada kategori Informasi. Pada empat kategori yang lain, media alternatif seperti Folkative dan USS Feeds memiliki tingkat kepuasan yang tinggi di hampir semua kategori.
Sebanyak 75,53% Gen Z dalam riset mengaku mengikuti akun seperti Folkative, USS Feeds, dan Cretivox di Instagram. Mereka suka berita yang singkat, penuh warna, dan bikin ketawa—kepuasan mencapai 78–79% untuk aspek hiburan, dan 72–74% untuk kenyamanan.
Tapi, kita tahu, berita singkat ini sering terlalu pendek. Dalam riset, akun media berita besar seperti Detik.com atau Kompas.com masih dipercaya untuk akurasi informasi, mendapatkan tingkat kepuasan di kategori Informasi mencapai 75–76%.
Gen Z merasa konten dari akun seperti Folkative lebih “gue banget” (kepuasan identitas 66–68%). Pertanyannya: Apakah mereka cukup kritis untuk menilai kebenarannya?
83% Gen Z Gagal Deteksi Hoaks
Pertanyaan di atas menggelitik untuk dijawab. Maka artikel yang dirilis The Conversation dari UGM-Deakin (2022) mungkin bisa memberi contekan. Meskipun, kedua artikel tidak bisa dibandingkan secara langsung—karena dua penelitian ini beda ruang lingkup.
Penelitian UGM-Deakin (2022), menyasar 647 Gen Z di seluruh Indonesia secara acak, menggunakan metode kuantitatif melalui survei daring. Teori pemrosesan informasi atau Signal Detection Theory (SDT) digunakan untuk mengetahui kemampuan partisipan, khususnya dalam mendeteksi hoaks.
Temuannya, ini yang bikin miris, 83% ternyata susah membedakan berita beneran sama hoaks. Hanya 6% yang jago mengenali mana fakta, mana tipuan. Banyak yang cuma baca judul di media sosial—baik itu berita asli atau hoaks—tanpa ngecek isinya.
Mereka yang rentan kena jebakan informasi palsu ini merasa lebih percaya sama sumber resmi seperti pemerintah atau lembaga kesehatan. Temuan ini dinilai selaras dengan riset Stanford University (2019) yang menemukan Gen Z sebagai ‘digital natives’, ternyata juga bisa bersikap ‘digital naive’.
Terkait hoaks, ini memang isu yang kompleks. Ini berhadapan dengan kondisi psikologis saat fenomena “amygdala hijack“ mengendalikan respons tubuh melalui otak. Ketika berhadapan dengan hoaks yang mengeksploitasi emosi, kita lebih mudah tertipu karena logika sempat belum bekerja.
Berita Singkat vs Melek Media
Dari dua penelitian ini, mungkin kita bisa ambil benang merahnya: Gen Z yang doyan berita singkat dan visual di media sosial cenderung punya melek media yang rendah. Di satu sisi ada aspek emosional (menghibur) sebagai preferensi, di sisi lain terlena dengan akurasi.
Faktor lain bisa jadi ikut main. Algoritma Instagram yang ngejer konten sesuai selera bikin Gen Z terjebak di echo chamber—hanya lihat informasi yang sesuai selera mereka. Ini bikin mereka kurang terpapar sudut pandang lain, apalagi kalau soal fakta (Kemenkominfo 2022).
Plus, ini yang belum pernah dicek, pelajaran melek media di sekolah belum mempersiapkan Gen Z terlatih menghadapi berita. Riset PISA 2019 menunjukkan: Siswa Indonesia terburuk dalam hal menilai kredibilitas sumber, lumayan buruk dalam hal membedakan opini dengan fakta.
Sulit untuk menyimpulkan mana yang jadi sebab dan mana yang jadi penyebab dari kedua riset di atas. Ini karena kedua penelitian bukan satu penelitian yang mengukur korelasi. Kita membahas dia penelitian berbeda, baik waktunya, ruang lingkupnya. Yang sama adalah: Menarget Gen Z.
Kesimpulan ini tentu bisa berubah bila sudah ada riset lanjutan yang bisa lebih meyakinkan kita tentang korelasi dua hal ini: Jenis media pilihan dan kemampuan mendeteksi akurasi isinya.
Apa Artinya Buat Kita?
Bila kita gabungkan—cinta Gen Z pada berita singkat di media sosial dan mereka yang rawan hoaks—patut diduga ini bukan perkara selera semata. Ini terbentuk karena kebiasaan dan pendidikan. Bila Gen Z tidak diajari tentang apa itu pers di alam demokrasi, mereka tidak bisa membedakan.
Kemampuan ngecek fakta, seharusnya datang dari kesadaran bahwa tidak semua yang memposting informasi di media sosial itu bisa dipercaya. Bahkan, akun yang mengaku media/pers, tidak kalis dari penyebaran berita yang tidak akurat.
Ini membawa kita pada rekomendasi, apa yang bisa dilakukan ke depan?
- Sekolah Harus Bergerak: Masukin melek media ke dalam kurikulum. Ajari Gen Z cara ngecek sumber pake cara yang seru, misalnya lewat infografis tentang “5 Langkah Deteksi Hoaks.”
- Instagram Bisa Bantu: Platform kayak Instagram bisa pasang fitur peringatan hoaks, kayak label “Cek Fakta” atau lewat pop-up. Teknologi AI, misalnya model BERT (akurasi 76%, Universitas Brawijaya 2024), bisa dipake buat ngenalin konten bermasalah.
- Media Harus Kreatif: Media berita tradisional kayak Detik.com bisa bikin konten singkat tapi tetep akurat, biar Gen Z nggak lari ke media alternatif. Cerita yang menginspirasi dan relevan, kayak yang Gen Z suka, bisa jadi kunci.
*Photo by Markus Spiske via Unsplash
Komentar Anda?