Siapa yang berpengaruh besar dalam musik bergenre funky groove kental isu politik—dan mengilhami lahirnya Hip-Hop yang membuat Talib Kweli , Kanye West, atau Kendrick Lamar jadi pesohor? Dia adalah Gil Scott-Heron, penulis kritik tajam lewat single “The Revolution Will Not Be Televised”. Lagu itu lebih cocok disebut lirik rap, yang diproduksi dalam album Pieces of a Man (1971). Tengok saja komentarnya tentang lirik dalam lagu itu:

“The revolution takes place in your mind. Once you change your mind and decide that there’s something wrong that you want to effect that’s when the revolution takes place. But first you have to look at things and decide what you can do. ‘Something’s wrong and I have to do something about it. I can effect this change.’ Then you become a revolutionary person. It’s not all about fighting. It’s not all about going to war. It’s about going to war with the problem and deciding you can effect that problem. When you want to make things better you’re a revolutionary,” kata dia dalam wawancara dengan Rob Fitzpatrick, Telegraph (2010).

Gil Scott-Heron adalah seorang komposer, musisi, penulis, dan penyair. Ia melahirkan lirik itu saat berusia 21. Banyak yang menyangka lagu itu berusaha memantik revolusi fisik, gerakan perlawanan pada zamannya. Namun seperti yang dikemukakan Heron, revolusi saat ini bisa berlangsung dalam pikiran. Revolusi mental, istilah yang terdengar membosankan itu, sebenarnya relevan dengan pemikiran progresif Heron saat itu.

Dalam lirik lagu tersebut, setidaknya ada 43 istilah yang merujuk peristiwa atau artefak budaya populer saat itu. Mulai dari tokoh politik, selebritas, televisi dengan siaran berita dan iklannya, serta perangkat teknologi yang tengah naik daun. Amatan Heron menegaskan, perlawanan bisa dilakukan tanpa perang, karena perlawanan juga bisa dilakukan lewat gerakan budaya. Bahwa perlawanan itu tak akan populer—viral dalam istilah kekinian—dalam sekejap.

Pada bait terakhir lagu, ia menulis, “The revolution will not be televised, will not be televised. Will not be televised, will not be televised. The revolution will be no re-run brothers; The revolution will be live“. Heron seakan juga ingin menyatakan, bahwa revolusi yang dimaksudnya adalah sebuah revolusi yang original. Sesuatu yang terjadi di benak orang-orang tanpa rekayasa. Bukan laiknya program televisi yang sudah dirancang skenarionya.

Tapi frasa dalam judul lagu Heron itu telanjur dinilai pula sebagai sindiran untuk media, yang memilih tayangan sesuai ratingnya. Satire itu digunakan untuk menilai pemberitaan terhadap revolusi di Venezuela yang dipelopori oleh Hugo Chavez sejak terpilih pada tahun 1998. Ia dipandang berani melawan arus ‘kapitalisme’ Barat yang menguasai aset-aset penting di negara itu. Ia rajin mengkritik kebijakan Amerika Serikat, dan lebih merapat ke Fidel Castro di Kuba. Ia membuat kebijakan nasionalisasi perusahaan pengeksplor dan eksportir minyak. Ia ambil alih sebagian besar kepemilikan asing perusahaan di sana.

Namun dari sisi pemberitaan di media mainstream, ketika terjadi pemberontakan terhadap Chavez di sana, banyak yang memberitakan peristiwanya secara sepihak. Misalnya soal para pendukung Chavez yang menembaki para demonstran oposisi. Di media, yang ditampakkan hanya agresifitas para pendukung Chavez, seolah mereka menembaki oposisinya tanpa alasan. Padahal, mereka punya bukti bahwa mereka ditembaki duluan, dan menembak balik hanya sebagai upaya melindungi pergerakan demonstran yang terjebak posisi sulit. Ini tergambar dengan jelas dalam film dokumenter berikut.

Kebrutalan pendukung Chavez ditampakkan secara lugas, tanpa konteks yang lengkap. Sisi “revolutif” Chavez, dikebiri oleh bias sudut pandang dari mereka yang tak suka dengan aksi-aksi Chavez. Meskipun, kembali lagi ke premis Heron, bukan revolusi fisik seperti ini yang ia maksud.

Film dokumenter seperti ini sangat penting sebagai bukti nyata, atau paling tidak alternatif bagi sejarah yang biasanya hanya ditulis di media-media mainstream. Independensi media-media ini perlu terus dikritisi, benarkah mereka memilih apa yang perlu ditayangkan dan tidak? Kalau kita bandingkan bagaimana tayangan berita dunia terhadap revolusi di negara-negara Arab dan sebagian Afrika belakangan ini, tentu situasinya tampak berbeda. Revolusi Mesir, Bahrain, Syria, hingga ke Libya, gegap gempita beritanya di media massa.

Jalaluddin Rahmat dalam sebuah diskusi tentang media bertahun-tahun yang lalu, pernah mengutip sebuah kredo menarik:

Media (televisi) itu pintar memilah mana berita sampah dan bukan sampah, lalu menayangkan sampahnya saja

Kalimat yang cukup pedas diucapkan dalam sebuah forum yang juga dihadiri petinggi media waktu itu. Tapi komentar dari si petinggi media juga tak kalah menarik. Ia mengaku, menayangkan suatu berita adalah risiko terhadap jabatan para penanggung jawab berita. Sewaktu kerusuhan 1998 di Jakarta, ia mengaku memiliki banyak rekaman yang menunjukkan keterlibatan pihak tertentu dalam kejadian itu, tapi tak mungkin menayangkannya karena ada tekanan penguasa melalui para pemilik media.

Ia, akhirnya meninggalkan stasiun TV itu.

Inilah cara pandang media, yang harus diperiksa dari mana sudut pandangnya. Tak semua media mengabarkan sesuatu dari sudut pandang yang netral. Bahkan, media yang netral dipercaya tak ada di muka bumi ini. Pasti ada kepentingan di baliknya, entah baik atau buruk. Silakan simak filmnya di bawah ini, tentang revolusi di Venezuela, berjudul THE REVOLUTION WILL NOT BE TELEVISED. Resensi lengkap film ini bisa dibaca di blog indoprogress.com, Media Massa Tak Memihak Massa.

DIRECTED/PHOTOGRAPHED BY KIM BARTLEY AND DONNACHA O’BRIAIN IRELAND, 2003 (1:14:31).

*Gambar diambil dari criticalinternetculture.wordpress.com

Komentar Anda?


Gabung Melekmedia!