Beranda  »  Tata Laksana » Untuk Umum   »   Tips Aman Dari Cyberbullying

Tips Aman Dari Cyberbullying

Oleh: rahadian p. paramita -- 13 Februari, 2012 
Tentang: ,  –  Komentar Dinonaktifkan pada Tips Aman Dari Cyberbullying

Bermain hape

Cyberbullying atau perisakan, perundungan di ranah maya, bukan perkara sepele. Harus ada cara melawan cyberbullying, atau paling tidak menghindarinya agar tidak mempengaruhi psikologis atau cara berpikir remaja.

Perisakan daring ini tidak hanya di dunia siber, atau yang terkait dengan internet. Saat masih ada moda telekomunikasi seperti SMS atau MMS, ini bisa dikategorikan “ranah maya”.

Sebuah percakapan ringan di angkutan kota, mengungkap salah satu contoh kasus cyberbullying di Indonesia. Percakapan itu di antara tiga orang anak perempuan, kira-kira SMP kelas VIII (kelas 2).

Ketiga anak ini mempermasalahkan SMS dari seorang teman, yang menghina salah satu dari mereka. Kurang lebih isinya mengejek berat badan yang dianggap berlebihan.

Ketiga anak inipun berbincang seru soal kriteria “cantik”. Ada yang tidak percaya bahwa cantik harus dilihat dari bentuk tubuh atau raut wajahnya saja.

Mereka pun memperbincangkan bagaimana mengontrol berat badan. Di antaranya ada yang mengusulkan makan makanan pedas, atau hanya makan buah untuk menu makan malam. *Sigh*

Mereka bertiga ini adalah potret remaja tanggung di Indonesia, yang terdesak oleh pencitraan oleh iklan atau media massa pada umumnya, tentang konsep-konsep kecantikan.

Sekuat apapun penolakan mereka terhadap SMS-SMS yang menghina bentuk tubuh, merendahkan intelektualitas, kriteria tersebut telanjur mainstream untuk mengukur kecantikan dan citra tubuh perempuan.

Apa yang bisa dilakukan?

Di bawah ini, adalah tips untuk melawan cyberbullying, atau paling tidak menghindarinya agar tidak  mempengaruhi psikologis atau cara berpikir remaja.

Tidak semuanya akurat atau bisa menjadi obat mujarab, tetapi semoga bisa membantu orang tua, atau yang punya adik/saudara perempuan yang rentan menjadi korban cyberbullying terkait citra tubuhnya.

  1. Pikirkan apa yang akan dikirim ke internet. Peringatkan agar para remaja ini berhati-hati dalam berbagi apapun ke internet, apalagi yang sifatnya personal. Meskipun apa yang dikirim tersebut hanya ditujukan kepada orang tertentu yang dipercaya, peluang tersebarnya konten privat ke ruang publik terlalu besar. Sekali sebuah konten tersebar luar di internet, tidak mungkin bisa menghapusnya lagi.
  2. Jadilah ‘anak baik’ di internet. Ajari remaja kita agar memperlakukan orang lain dengan baik, agar mereka pun diperlakukan orang lain dengan cara yang sama. Seringkali, korban cyberbullying adalah mereka yang pada awalnya membuat sesuatu yang menyinggung perasaan banyak orang di ruang publik. Ingat kasus anak SMA 6 dan wartawan?
  3. Jangan reaktif. Jika seseorang berlaku kurang layak di internet, dan remaja kita mengetahuinya, sarankan agar mereka tidak dengan mudah merespon tindakan tersebut. Saling berlaku tidak layak hanya akan memperpanjang masalah, dan pada akhirnya menyebabkan rantai cyberbullying terus terjadi. Minta mereka untuk mengabaikan sesuatu yang dianggap kurang nyaman, atau laporkan.
  4. Laporkan perilaku tak layak. Jika menemukan perilaku cyberbullying di internet, minta remaja kita untuk melaporkan kepada orang dewasa yang mengerti dengan persoalannya. Jika di sekolah, bisa melaporkan kepada guru, atau kepada orang tua jika guru tidak dapat memberi petunjuk untuk mengatasinya. Kalau perlu, laporkan secara online kepada pihak-pihak yang mungkin bisa membantu. Bahkan kalau sudah keterlaluan, ajari mereka untuk melaporkan perbuatan tidak menyenangkan kepada pihak penyelenggara layanan. Lihat contoh di artikel Bereaksi Terhadap Konten Bermasalah.
  5. Jangan ikut berpartisipasi. Ketika terjadi cyberbullying massal terhadap seseorang atau sekelompok orang, larang remaja kita ikut-ikutan dalam aksi tersebut. Dalam beberapa kasus, sering terjadi di Twitter sebuah akun dicerca beramai-ramai karena sesuatu hal. Apapun alasannya, mencerca, atau mencaci maki seseorang bukanlah perbuatan yang bertanggung jawab di internet, maupun di dunia nyata.
  6. Simpan bukti-buktinya. Bukti-bukti perilaku yang tidak menyenangkan harus disimpan untuk kepentingan pengaduan. Ajari remaja kita untuk membuat screenshoot misalnya, agar kalau terjadi cyberbullying terhadap mereka, dapat dilaporkan ke pihak berwajib, disertai bukti-bukti otentiknya.

Untuk kasus di jejaring sosial, berikut adalah alamat pelaporan jika terjadi cyberbullying terhadap anak-anak kita:

Sumber referensi: www.thelearningcommunity.us

Maaf, Anda tak bisa lagi berkomentar.


Topik

Komentar

Gabung Melekmedia!