2 March, 2010 

Memanfaatkan Twitter untuk Pendidikan

Oleh: rahadian p. paramita
Tentang: ,  –  Komentar Anda?

Twitter, merupakan jejaring sosial yang relatif baru, tapi mendapat perhatian yang meluas. Melalui twitter, berbagai peristiwa besar terjadi. Di Indonesia, penggunaan twitter semakin populer setelah adanya laporan via twitter tentang peristiwa ledakan bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton.

Dari mashable.com, ada tulisan menarik seputar penggunaan twitter untuk ranah pendidikan berjudul How Twitter in the Classroom is Boosting Student Engagement. Tulisan itu menggarisbawahi tantangan proses belajar di universitas, dimana seorang dosen akan kesulitan berinteraksi dengan mahasiswanya jika kelas berisi 200-an mahasiswa, dan waktu pertemuan hanya sekitar 90 menit.

Ada dua hal yang digarisbawahi dalam tulisan itu, (1) meningkatkan partisipasi peserta belajar, dan (2) membangun komunitas pembelajar. Twitter sebagai sebuah teknologi, memiliki kemampuan menyebarkan informasi secara cepat, dan multi arah. Siapapun dalam jaringan follow-follower, dapat berinteraksi secara bersamaan (real time).

Twitter mampu meningkatkan partisipasi peserta belajar, karena biasanya di dalam kelas, banyak mahasiswa/siswa yang sangat pemalu untuk berbicara atau mengungkapkan pendapatnya. Melalui twitter, hambatan itu bisa diatasi. Begitu pula masalah waktu. Pertemuan di kelas yang sangat terbatas, bisa diatasi dengan diskusi di luar jam perkuliahan/belajar. Tentu saja ini akan mensyaratkan penggunaan twitter secara tepat.

Di akhir artikel itu, Greg Ferenstein sang penulis artikel meyimpulkan:

For schools hit hard by the recession, Twitter is an inexpensive solution to the growing problem of increasing class sizes. It is a tried-and-true platform to let conversations flourish. Indeed, Dr. Parry declared that “it was the single thing that changed the classroom dynamics more than anything I’ve ever done teaching.”

Bahwa twitter sebagai solusi yang murah, layak untuk dicoba dalam ranah pendidikan yang semakin mahal dari hari ke hari. Mahalnya pendidikan berimbas pada jumlah mahasiswa per kelas, yang semakin banyak. Hal ini tentu mengurangi efektifitas pembelajaran, karena biasanya satu kelas akan efektif dibimbing oleh satu orang dosen, jika jumlah pesertanya tidak lebih dari 25 orang.

Memanfaatkan media sosial seperti ini, juga mendorong budaya penggunaan teknologi ke arah yang lebih positif. Paling tidak hal ini akan memberi gambaran yang konkrit pada para pengguna, bahwa Twitter, dan media sosial lainnya, memang bermanfaat dan memberi nilai lebih, tidak sekedar menjadi alat chit-chat pembunuh waktu belaka. Kasus-kasus yang belakangan marak di dunia maya akibat penyalahgunaan media sosial, juga akan dapat ditekan. Masyarakat melek media, dalam hal ini media sosial di mayantara, akan lebih mudah diwujudkan.

* Gambar: Tweeter – Ivan Petrov via stock.xchng

Komentar Anda?


Gabung Melekmedia!