Beranda  »  Artikel » Literasi Baru   »   Apa dan Mengapa Literasi Media atau Melek Media

Apa dan Mengapa Literasi Media atau Melek Media

Oleh: Melekmedia -- 7 April, 2010 
Tentang: , , ,  –  4 Komentar

Melek media

Istilah melek media kurang populer dibandingkan dengan literasi media atau media literasi. Kita pernah mengenal melek huruf, sebagai tandingan buta huruf. “Melek”, bisa dimaknai melihat, membaca, atau memahami.

Tak apalah, jangan bingung. Intinya kita sedang membicarakan barang yang sama. Artikel ini akan membahas apa, mengapa, dan bagaimana sebenarnya literasi media, atau melek media.

Dalam artikel lain yang pernah ditulis di sini, melek media atau literasi media sangat berkaitan dengan kemampuan mengakses, menganalisa, menilai, dan mencipta, dan aktif terlibat dalam era komunikasi yang hampir tanpa batas.

Masing-masing kemampuan perlu diasah, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Baik guru maupun orang tua, menjadi pihak yang pertama kali harus melek media, agar dapat menjadi penuntun bagi anak-anak/muridnya.

Muncullah istilah literasi media, atau melek media. Zaman sekarang butuh kemampuan mencerap informasi melalui media secara kritis, sekaligus mampu memproduksi medianya sendiri. Sekolah harus turut mengubah dan mengembangkan cara pandangnya terhadap literasi.

Hal ini perlu dimulai di sekolah, karena nilai-nilai demokrasi dalam proses berekspresi melalui media dan mengkritisi media, merupakan nilai universal yang penting. Sekolah punya banyak ruang untuk membicarakan hal tersebut.

Beberapa ahli dalam video di bawah ini bicara tentang apa itu literasi media atau melek media, dan mengapa ia penting. Mathew Needleman misalnya, menjawab pertanyaan tentang apa yang bisa dilakukan orang tua agar anak-anaknya bisa menjadi melek media.

Mathew mengatakan, sejak dini anak-anak sebisa mungkin sudah diajak bicara mengenai media. Anak sekarang, sudah lebih sering menonton televisi, bahkan sebelum mereka mengenal baca-tulis. Karenanya penting mendiskusikan mengenai apa yang mereka lihat dan dengar melalui televisi bersama mereka.

Apa yang dimaksud “Media”

Frasa “literasi media” maupun “melek media” merujuk barang yang sama. Media yang dimaksud bukan sekadar media massa seperti koran, majalah, atau televisi. Media, kata jamak dari medium, adalah sarana penyampai pesan saat berkomunikasi.

Komputer, atau ponsel kini sudah bisa dipakai berkomunikasi. Karenanya, ia pun sudah jadi media. Beda dengan kalkulator yang hanya bisa dipakai untuk berhitung.

Tanpa diragukan lagi, media merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan anak-anak kontemporer. Apalagi sejak kehadiran internet, teknologi komunikasi mengalami revolusi besar-besaran. Pun media.

Di sebagian besar negara industri, sejumlah survei menunjukkan bahwa anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu untuk menonton televisi daripada di sekolah, atau bahkan untuk aktivitas lain selain tidur.

Jika Anda menambahkan waktu yang mereka curahkan untuk film, majalah, permainan komputer, dan musik populer, jelaslah bahwa media merupakan pengisi waktu senggang mereka yang paling signifikan.

Banyak yang berpendapat bahwa media sekarang telah menggantikan keluarga dan sekolah sebagai pengaruh sosialisasi utama dalam masyarakat kontemporer.

Pentingnya pedidikan media

Rasanya tak mungkin menyangkal pentingnya aspek ekonomi, sosial dan budaya media di dunia modern.

Media adalah industri besar, menghasilkan keuntungan dan lapangan kerja; memberi sebagian besar informasi tentang proses politik; menawarkan ide, gambar, dan representasi (baik faktual maupun fiksi) yang tak terhindarkan membentuk pandangan kita tentang realitas.

Argumen untuk pendidikan media terbukti dengan sendirinya: membuat pendidikan lebih relevan dengan kehidupan anak-anak di luar sekolah, dan bagi masyarakat luas. Ini karena bagi anak, kesenjangan dunia sekolah dengan kehidupan sehari-hari sangatlah lebar.

Alih-alih mengabaikan media—seperti yang masih dilakukan oleh banyak pendidik—akui saja bahwa keberadaan media adalah fakta kehidupan yang tak bisa disangkal. Bagian tak terelakkan dari kehidupan.

Entah Anda percaya media berdampak negatif atau positif dalam kehidupan anak-anak, kita tak berkontribusi apa-apa bila berpura-pura media baru ini “tidak ada”.

Pendidikan dalam konteks literasi media atau melek media, tidak menafikan kehadiran media, justru memanfaatkannya. “Melek” media, atau literate, bukan saja bisa “membaca” isi pesan dalam media, tapi juga memanfaatkannya dalam berkomunikasi.

Bagaimana literasi media bagi awam?

Dalam era teknologi informasi yang berkembang demikian cepatnya, kita sekarang sedang dikepung dan dibanjiri oleh informasi. Tidak ada cara lain selain “masuk” terlibat di dalamnya, dalam kehidupan kita sehari-hari.

Tidak ada jalan keluar, jalan lain untuk lari dari “kejaran” informasi. Kita membutuhkan informasi untuk mampu bertahan di era ini, demikian juga kita harus mampu memproduksi informasi dengan benar.

Kuncinya pada berkomunikasi melalui berbagai jenis media. Media, saat ini bisa dikatakan jadi referensi perilaku kita. Dulu, mungkin informasi tersebar dari mulut ke mulut, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tapi sekarang, informasi ada di media.

Banyak sekali keputusan dalam hidup kita, ditentukan oleh informasi yang kita terima dari media. Apakah kita membenci sesuatu, menyukai sesuatu, bisa dipengaruhi oleh media.

Besarnya pengaruh media, menjadi alasan utama kenapa semua orang, tidak terkecuali, harus melek media, karena media ada dimana saja, dan mempengaruhi cara berpikir dan perilaku kita.

Dalam artikel lain dari www.media-awareness.ca terdapat beberapa pendapat mengenai apa itu melek media, seperti yang dikutip berikut ini:

Media literacy is the ability to sift through and analyze the messages that inform, entertain and sell to us every day. It’s the ability to bring critical thinking skills to bear on all media— from music videos and Web environments to product placement in films and virtual displays on NHL hockey boards.

It’s about asking pertinent questions about what’s there, and noticing what’s not there. And it’s the instinct to question what lies behind media productions— the motives, the money, the values and the ownership— and to be aware of how these factors influence content.

Jane Talim

Media literacy is an overall term that incorporates three stages of a continuum leading to media empowerment: (1) Simply becoming aware of the importance of managing one’s media “diet”— that is, making choices and reducing the time spent with television, videos, electronic games, films and various print media forms;

(2)  Learning specific skills of critical viewing— learning to analyze and question what is in the frame, how it is constructed and what may have been left out.

Skills of critical viewing are best learned through inquiry-based classes or interactive group activities, as well as from creating and producing one’s own media messages; (3) Goes behind the frame to explore deeper issues. Who produces the media we experience—and for what purpose? Who profits? Who loses? And who decides?

This stage of social, political and economic analysis looks at how everyone in society makes meaning from our media experiences, and how the mass media drive our global consumer economy. This inquiry can sometimes set the stage for various media advocacy efforts to challenge or redress public policies or corporate practices.

Elizabeth Thoman

“Media literacy” is the expected outcome from work in either media education or media study. The more you learn about or through the media, the more media literacy you have. Media literacy is the skill of experiencing, interpreting/analyzing and making media products.

Chris Worsnop

Media literacy is an informed, critical understanding of the mass media. It involves examining the techniques, technologies and institutions involved in media production; being able to critically analyze media messages; and recognizing the role audiences play in making meaning from those messages.

Rick Shepherd

Beragam pendapat tersebut, pada akhirnya menuju ke kesimpulan kecil, bahwa melek media dibutuhkan di era demokrasi, sebagai kemampuan dasar warga negara dalam memilah dan memilih informasi melalui media massa, juga secara bertanggung jawab memproduksi medianya sendiri, terutama di era media sosial saat semua orang bisa menjadi sumber informasi.

*Photo by Esa Oksman from Freeimages

4 Komentar untuk “Apa dan Mengapa Literasi Media atau Melek Media”

  1. rizal

    Ooo.. jadi media literacy 2.0 itu seperti yang dijelaskan di paragraf terakhir di atas begitu? Baru tahu saya. 🙂

  2. prajnamu

    Kuncinya pada penguasaan informasi… dari berbagai bentuk media. 😀

Trackbacks:
  1. Tri Wahyuni PLS UNY 2017
  2. Melekmedia Mendaur Ulang "G30S/PKI", Sudah Terjadi Sejak 2009 - Melekmedia

Topik

Komentar

Gabung Melekmedia!