Beranda  »  Artikel » Pantau Media   »   Naomi Klein Menyingkap Muslihat Kaum Kapitalis

Naomi Klein Menyingkap Muslihat Kaum Kapitalis

Oleh: rahadian p. paramita -- 5 September, 2011 
Tentang: , ,  –  Komentar Dinonaktifkan pada Naomi Klein Menyingkap Muslihat Kaum Kapitalis

Shock Doctrine - Naomi Klein

Shock Doctrine, The Rise of Disaster Capitalism, demikian judul buku Naomi Klein yang difilmkan Alfonso Cuarón. Koran The Observer menilai buku ini “buah riset mahasempurna menyingkap muslihat kaum kapitalis”.

Film pendek Cuarón mengutip beberapa bagian penting dari buku Klein. Dunia ini dikuasai para kapitalis melalui tangan-tangan perkasa negara adikuasa. Banyak jalan menembus dunia, antara lain lewat Shock Therapy.

Terapi ini, menurut Klein, diadopsi dari cara-cara CIA menaklukkan tawanannya melalui berbagai macam teknik interogasi. Salah satu teknik yang disoroti adalah menciptakan panik dan keputusasaan.

Kalau CIA melakukannya terhadap individu, teknik serupa bisa diterapkan pada komunitas. Bahkan komunitas dunia. Kuncinya pada memanfatkan krisis, saat itu masyarakat sedang panik dan kehilangan orientasi.

Melalui berbagai pendekatan terselubung, kapitalis berhasil masuk dan menancapkan ideologi dan infrastruktur lain ke dalam wilayah yang menjadi sasarannya.

In THE SHOCK DOCTRINE, Naomi Klein explodes the myth that the global free market triumphed democratically. Exposing the thinking, the money trail and the puppet strings behind the world-changing crises and wars of the last four decades, The Shock Doctrine is the gripping story of how America’s “free market” policies have come to dominate the world– through the exploitation of disaster-shocked people and countries.

The Shock Doctrine Website

Pernah dengar soal Mafia Berkeley? Banyak tudingan dan sangkalan atas isu ini. Teori konspirasi, demikian banyak orang menyebutnya. Klein, membuktikan isu ini bukan isapan jempol.

Dalam The Shock Doctrine, Naomi Klein menuliskan bagaimana “Mafia Berkeley” bekerja. Mereka adalah sekelompok ahli ekonomi yang menjadi penasehat Suharto, di masa sebelum berkuasa.

Kelompok ini, menurut Klein, adalah kelompok yang meyakinkan Suharto untuk maju, dan “mengambil alih” kekuasaan. CIA di belakang gagasan itu, dengan kompensasi adalah kontrak karya atas kekayaan alam Indonesia.

Dua tahun setelah Suharto naik tahta, hampir semua kekayaan itu sudah habis dibagi-bagi untuk para korporat multinasional. Buku ketiga Klein yang terbit pada 2007 ini layak Anda baca.

Bagaimana Peran Media

Milton Friedman
Milton Friedman via nobelprize.org

Dalam video pernyataan Naomi Klein terhadap gagasannya tentang Disaster Capitalism, ia menjelaskan bagaimana masyarakat dunia telah kalah dalam perang dalam isu globalisasi dan pasar bebas.

Media massa di dunia, menjadi corong besar yang mengamini kehebatan pasar bebas sebagai satu-satunya cara dalam mengelola perekonomian.

Sebenarnya, dunia juga sedang mengamini Milton Friedman, sang ekonom dari Chicago University, yang terkenal sebagai ahlinya kapitalisme Laissez-faire.

Friedman adalah pemenang Hadiah Nobel untuk pencapaiannya di bidang analisis konsumsi, teori dan sejarah moneter, dan demonstrasi kompleksitas dari kebijakan tentang stabilisasi.

Ia percaya dengan Kapitalisme Laissez-faire, suatu bentuk kapitalisme bebas yang sebebas-bebasnya. Kata Laissez-faire itu sendiri bisa diartikan sebagai “biarkan terjadi”.

Artinya, sesedikit mungkin aturan atau kendali oleh pemerintah. Biarkan ekonomi bergerak oleh para pelakunya.

Pendapat ini didasarkan pada pemikiran bahwa kepemilikan pribadi atas sumber daya dan kebebasan penuh untuk menggunakan sumber daya tersebut akan menciptakan dorongan kuat untuk mengambil risiko dan bekerja keras. Sebaliknya, birokrasi pemerintah cenderung mematikan inisiatif dan menekan perusahaan.

Kampanye gagasan pasar bebas meluas ke berbagai penjuru dunia melalui berbagai cara. Kepercayaan terhadap resep pasar bebas untuk menyelesaikan persoalan ekonomi dunia pun melambung.

Friedman leluasa ‘menjajah’ berbagai negara melalui kebijakan privatisasi, pencabutan subsidi, dan meniadakan intervensi pemerintah terhadap objek-objek ekonomi.

Untuk memuluskan perubahan kebijakan ekonomi suatu negara agar benar-benar bebas, cara masuk paling mudah adalah dengan memanfaatkan krisis yang sedang terjadi di negara itu.

Ketika krisis, tak berdaya, frustasi, putus asa, sebuah negara tidak punya banyak pilihan. Maka tawaran bantuan plus sepaket aturan yang harus ditaati adalah cara paling mudah untuk mengubah kebijakan ekonominya.

Ironisnya, ekonomi Amerika jatuh gara-gara sistem perekonomian yang terlalu memanjakan swasta. Lihat bagaimana gaji para eksekutif berkali-kali lipat lebih besar dalam struktur perusahaannya, tetapi begitu perusahaan bangkrut, karyawan harus menganggur, sementara para eksekutif lolos dari pertanggungjawaban.

Siapa yang akhirnya bertanggung jawab? Kembali ke pemerintah. Pemerintah AS harus menanggulangi (bail out) kebangkrutan beberapa perusahaan besar – salah satunya adalah Lehman Brothers – untuk mencegah kebangkrutan total perekonomian Amerika.

Michael Moore dalam film Capitalism: A Love Story menunjukkan fakta-fakta tersebut dengan gamblang.

Melawan guncangan kapitalis

Tahan guncangan kapitalis

Information is Shock Resistant, Arm Yourself!” demikian slogan Klein. Naomi Klein mengajukan penawar strategi shock therapy ini melalui penguasaan informasi. Slogan Klein itu menjelaskan bahwa hanya informasi yang “tahan guncangan”.

Menguasai informasi, membuat kita tak perlu panik di saat kritis. Apalagi jika dikaitkan dengan peristiwa bencana yang tidak pernah bisa diramalkan datangnya secara akurat.

Slogan ini mau mengatakan, berdayalah dengan informasi. Ketika rakyat suatu negara melek informasi, maka situasi krisis seperti apapun akan dilewati, meski pada praktiknya pasti banyak guncangan.

Paling tidak dengan melek informasi, lebih mudah menemukan jalan keluar dari situasi krisis yang mencekam. Ketergantungan dari pihak luar bisa dikendalikan, solusi untuk mengatasi masalahnya bisa dicari sendiri.

Kemampuan bangkit sendiri ini jadi penting agar tidak terjebak, didikte oleh kebijakan dari pihak lain yang belum tentu tepat. Apalagi membawa agendanya sendiri.

Informasi bisa bisa berguna, jika yang kita kuasai adalah informasi yang benar. Menguasai banyak sumber informasi, tetapi tidak bisa menyebutkan mana yang paling benar, malah menimbulkan kebingungan.

Di sinilah peran media diuji. Apa kepentingan yang mewarnai cara mereka menyampaikan informasi? Kemampuan melek media menjadi alat untuk mengujinya. Melek media membuat publik never crack under pressure (meminjam slogan sebuah merek jam tangan).

Naomi Klein bukan tanpa kritik. Pertanyaan yang sama bisa kita ajukan, atas kepentingan apa Naomi Klein mengulas semua hal di atas dalam bukunya?

Silakan baca bukunya, dan nilai sendiri. Apakah Anda percaya atau tidak dengan isinya, keputusan ada di tangan Anda.

Di bawah ini adalah video tentang The Shock Doctrine, dan penjelasan Naomi Klein tentang The Rise of Disaster Capitalism.

https://www.youtube.com/watch?v=mGmB63TIHLY

*Gambar diambil dari Audiobook Store

Artikel lain sekategori:

Maaf, Anda tak bisa lagi berkomentar.