Beranda  »  Artikel » Media 2.0   »   Facebook Manjakan Pengguna, Abai Dampaknya

Facebook Manjakan Pengguna, Abai Dampaknya

Oleh: rahadian p. paramita -- 11 Oktober, 2015 
Tentang: ,  –  Komentar Dinonaktifkan pada Facebook Manjakan Pengguna, Abai Dampaknya

Tulisan ini aslinya saya terbitkan di Beritagar.id. Saya tampilkan ulang di sini, karena aksi Facebook ini penting untuk diingat. Tidak hanya dalam perkembangan media sosial, juga hubungannya dengan perkembangan media massa.

Instant Articles siap diluncurkan Facebook dengan menggandeng sembilan perusahaan media. Kabar ini diumumkan Rabu (13/5/2015) dan sudah bisa dinikmati melalui pengguna aplikasi Facebook versi iOS.

Produk baru Facebook ini masih berfokus pada aplikasi di ponsel. Argumen utama yang diajukan, pembaca lewat ponsel lelah jika harus menunggu 8 detik untuk membuka artikel di laman aslinya. Di sisi lain, Facebook cukup pede dengan statistik yang menunjukkan akses ke situs media didominasi oleh fesbuker.

Lewat terobosan ini, berita media rekanan dapat langsung dibaca lewat aplikasi Facebook. Tak perlu menunggu lebih dari 8 detik. Cepat, penuh fitur interaktif, mampu menampilkan berbagai format media (foto, video, dsb). Inilah fitur “mematikan” yang ditawarkan.

Selain itu–bisa jadi yang terpenting–media tak perlu khawatir kehilangan pendapatan dari iklan. “Kami berkomitmen untuk bekerja sama dengan pemilik media, agar mereka dapat mengembangkan bisnisnya,” kata Justin Osofsky, Wakil Presiden Facebook untuk urusan kerja sama media, kepada The Verge.

Ditanya berapa persen yang mereka dapatkan dari kerja sama bisnis itu, Justin berkukuh dengan jawaban normatifnya.

Dengan fitur-fitur canggihnya, tawaran Facebook pasti menggiurkan media manapun. Lantaran akses lewat ponsel –meski volumenya kian membludak– hingga saat ini masih jadi isu bisnis karena sulitnya beriklan di layar kecil.

Kontrol terhadap akses informasi

Algoritme Facebook untuk News Feed, yang dulu populer dengan istilah Edgerank, sepenuhnya di bawah kendali mereka. Algoritme ini menentukan artikel mana yang layak tayang di kanal kabar berita tersebut.

Ryan Chittum dari Columbia Journalism Review (CJR), memperingatkan perusahaan media agar menolak tawaran Facebook. Menurutnya, media tak boleh menyerahkan penilaian terhadap berita apa yang penting untuk publik, kepada algoritme Facebook.

“Itu sangat berbahaya,” ujar mantan reporter Wall Street Journal dan wakil editor bagian bisnis CJR tersebut.

Chittum menyoroti bagaimana fesbuker tak sadar bahwa algoritme Facebook itu bekerja layaknya penyaring. Sementara, fesbuker adalah pengguna pasif. Meski algoritme itu diklaim selalu dimutakhirkan, pembaca cenderung disodori berita yang “mereka mau”, bukan yang “seharusnya “mereka tahu”.

Hasil studi Facebook baru-baru ini, membantah tudingan tersebut. Jurnal MIT menyebut, pengguna lebih berperan dalam menyortir konten daripada algoritme. Lewat contoh kasus konten politik, jejaring pertemanan dan reaksi pengguna terhadap konten disebut lebih menentukan.

Jejaring pertemanan yang terbentuk di Facebook memang sangat tergantung si pengguna. Merekalah yang memilih siapa yang perlu diikuti atau diajak berteman, termasuk konten yang ingin ia beri “Like”, sebarkan ulang, atau dikomentari.

Namun sebuah tulisan di Huffington Post membantah klaim tersebut. Zeynep Tufekci, seorang asisten dosen di School of Information and Library Science, Universitas Californa Utara, AS, menyatakan studi Facebook justru menegaskan bahwa algoritme News Feed telah menghalangi keberagaman konten.

Tufekci juga menemukan, fesbuker akan lebih sering melihat berita yang sejalan dengan pandangannya, sedangkan konten tak sepandangan “disembunyikan” mesin yang menjalankan algoritme. Berita-berita yang “tak relevan” padahal mungkin lebih penting, sulit muncul karena mesin akan menyaringnya.

Algoritme katak dalam tempurung

Secara agresif algoritme Facebook merekomendasikan konten yang lebih banyak mendapat tanggapan. Sementara konten yang paling mungkin mendapat tanggapan, dianggap yang paling “relevan” dengan profil pengguna. Cara kerja mesin seperti ini bisa membuat siklus “echo chamber”.

Facebook tak menjelaskan apakah algoritme mereka juga mengenali akurasi isi, kredibilitas, atau keberagaman konten. Rekomendasi mesin cenderung berdasarkan profil dan perilaku pengguna. Ini menyebabkan apa yang disebut nara blog Erick Gafar dalam tulisannya, fenomena katak dalam tempurung.

Echo chamber atau katak dalam tempurung, karena pengguna hanya disajikan konten sesuai seleranya. Facebook hanya “memanjakan” penggunanya, menyodori informasi yang mengafirmasi nilai dan kepercayaaan si pengguna sendiri. Mereka seolah tak peduli dampaknya: menciptakan bilik gema dari pikirannya sendiri.

Persis seperti yang disinggung Chittum, pengguna disodori berita yang “mereka mau”, bukan yang “seharusnya “mereka tahu”. Padahal, informasi baru yang beragam sudut pandang, sangat penting untuk memperluas pengetahuan. Ini juga akan mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang.

Karena itu peringatan Chittum layak didengar. Apa jadinya jika media hanya menuruti kemauan pembaca, dan mengabaikan prinsip keberagaman informasi dalam pemberitaan? Mungkin seperti hidup sebagai Truman Burbank dalam film yang dibintangi aktor Jim Carrey, The Truman Show (1998).

Bila Anda belum pernah menontonnya, sila simak video pendek di bawah ini. Truman, seumur hidupnya dikerangkeng dalam acara televisi. Ia tak pernah tahu seperti apa kehidupan yang sebenarnya, karena sejak lahir ia hanyalah tontonan belaka. Hidupnya hanyalah kebohongan, yang diatur oleh sang sutradara.

Kita tentu tak mau hidup seperti Truman, yang disodori informasi sekadar untuk menyenangkan hati. Bukan untuk memperkaya pengetahuan, atau memperluas cakrawala berpikir.

Maaf, Anda tak bisa lagi berkomentar.


Topik

Komentar

Gabung Melekmedia!