Beranda  »  Artikel » Media 2.0   »   Facebook dalam Dilema Keuntungan dan Kemaslahatan

Facebook dalam Dilema Keuntungan dan Kemaslahatan

Oleh: Melekmedia -- 5 Oktober, 2021 
Tentang: ,  –  Komentar Dinonaktifkan pada Facebook dalam Dilema Keuntungan dan Kemaslahatan

Facebook

Sudah jatuh, tertimpa tangga. Begitulah kira-kira nasib Facebook belakangan ini.

Pengguna mendadak tak bisa mengakses Facebook, Instagram, dan WhatsApp selama kurang lebih 6 jam pada Senin (4/10/2021) malam, waktu Indonesia. Netizen sejagat pun heboh.

Facebook–induk dari ketiga layanan–menuding kesalahan konfigurasi pada server adalah biangnya. Bukan saja pengguna yang terputus dari koneksi ke layanan mereka, infrastruktur komunikasi internal pun terdampak.

Hebohlah pemberitaan padamnya layanan jejaring sosial terbesar di dunia itu. Diperkirakan 3 miliar pengguna terlunta-lunta, sebagian lalu merangsek layanan lain seperti Twitter untuk bermedia sosial, dan aplikasi pesan seperti Signal dan Telegram untuk melanjutkan komunikasi antar-personal atau kelompok.

Kehebohan seputar Facebook dkk. ini terjadi berturut-turut dalam dua bulan terakhir. Beberapa waktu lalu, Facebook dihajar skandal yang tak kalah menghebohkan: potensi pelanggaran hukum dan etika dalam operasinya.

Tak terbayang peningnya Mark Zuckerberg, yang juga harus “kehilangan” lebih dari $6 miliar AS, lantaran merosotnya nilai saham Facebook tersebab insiden ini.

Mega-skandal yang terkuak di depan Kongres AS, dibongkar mantan karyawannya sendiri. Bernama samaran “Sean”, ia mengaku memiliki dokumen internal dengan total puluhan ribu halaman yang membuktikan praktik tak etis Facebook dalam menjalankan bisnisnya.

Facebook (FB) dituding tak berbuat banyak meski mengetahui dampak buruk yang ditimbulkan praktik bisnis mereka.

Pengakuan orang dalam

Belakangan diketahui bernama Frances Haugen, sang pembocor ini dulunya bekerja sebagai Manajer Produk selama hampir dua tahun di tim “civic misinformation” atau misinformasi sipil, sebelum akhirnya keluar dari FB per Mei 2021.

Ia berkata, “Facebook berulang kali menunjukkan bahwa mereka memprioritaskan keuntungan perusahaan daripada keselamatan publik.”

Salah satu pasalnya, saat Facebook secara sengaja menonaktifkan fitur pencegah misinformasi serta konten negatif seperti hasutan, penebar kebencian, atau penyulut kemarahan.

Ia menilai langkah tersebut terlalu prematur, tak lama setelah Joe Biden berhasil mengalahkan Donald Trump dalam Pemilu Presiden AS tahun lalu, sehingga diduga kuat memicu insiden berdarah di Gedung Capitol pada 6 Januari 2021 silam.

Kecurigaannya menjadi-jadi lantaran pasca-pemilu, FB justru membubarkan unit kerja yang fokus pada isu integrasi sipil, unitnya bekerja saat itu.

Dia pun mulai meragukan FB memiliki niat yang kuat untuk mencegah panggung jejaring sosial tersebut menjelma menjadi ruang yang berbahaya.

Perempuan 37 tahun inipun punya alasan pribadi untuk muncul ke publik dalam acara “60 Minutes” di stasiun CBS pada Minggu (3/10/2021) waktu AS.

Pernah bekerja di Google dan Pinterest sebelum bergabung di Facebook pada 2019, ia sejak awal minta ditempatkan di bagian pengendalian misinformasi, lantaran pernah kehilangan seorang teman gara-gara teori konspirasi yang tersebar di media sosial.

Rentetan tudingan pada Facebook

Tudingan Haugen bukan isu kaleng-kaleng. Bocoran dari hasil riset internal Facebook sudah mulai dipublikasikan bulan lalu oleh sejumlah media, termasuk The Wall Street Journal (WSJ). Salah satunya membuktikan Facebook tahu bahwa Instagram memperburuk masalah citra tubuh di kalangan remaja putri, namun membiarkannya.

Riset internal selama lebih kurang tiga tahun terakhir, menunjukkan secara konsisten bahwa Instagram berbahaya bagi sejumlah pengguna. Kelompok paling rentan adalah remaja putri, karena “satu dari tiga remaja putri mengalami perburukan isu citra tubuh”. Mereka cenderung membenci tubuhnya sendiri akibat terlalu sering terpapar “sosok ideal” yang jadi arus utama (mainstream).

Isu tersebut sempat dibawa ke Kongres AS, dan meski temuannya cukup meyakinkan—Instagram berdampak buruk terhadap kesehatan mental remaja putri—Mark Zuckerberg tetap menyangkal dengan menyebut temuan itu “inconclusive” atau kurang konklusif.

Bukan itu saja, sejumlah isu muncul ke permukaan karena bocornya dokumen internal oleh Nona Haugen. Misalnya tentang program “XChecks” atau cross check (periksa silang). Program ini pada dasarnya memberi “kekebalan” kepada pesohor seperti artis, politisi, atau semacamnya, untuk membuat konten sesuka hati.

Laporan media menyebutnya “konten yang ditemukan oleh sistem XCheck tidak mendapat sanksi atau konsekuensi.” Artinya, si pelaku bisa lolos begitu saja meski melanggar ketentuan layanan yang ditetapkan Facebook. Facebook mengaku, program tersebut dalam implementasinya memang butuh perbaikan.

Laporan lainnya menyebut algoritme FB malah membuat penggunanya jadi lebih “pemarah”. Ini bermula sejak 2018, saat algoritme diperbarui demi mengatasi turunnya engagement. Menurut Zuckerberg, cita-citanya adalah memperkuat ikatan antar-pengguna, dan meningkatkan kualitas interaksi antar-teman atau keluarga.

Namun, perubahan demi perubahan justru berdampak sebaliknya. Para staf FB sudah mengendus bahwa sejumlah perubahan malah membuat FB berisi lebih banyak kemarahan, polarisasi politis, dan ekspresi ekstrem lainnya. Mark berdalih hal yang sama bisa berlaku pada algoritme manapun, dan pihaknya sudah berusaha mengatasi.

Persoalan engagement atau keterlibatan pengguna, jadi jualan utama Facebook. Pengguna yang pasif bisa merugikan, mengingat nilai iklan akan turun. Atas dalih inilah, Facebook memprioritaskan peningkatan aktivitas pengguna — pola yang terbukti menghasilkan lebih banyak uang dari iklan.

Pendapatan tahunan Facebook naik hampir dua kali lipat dari $56 miliar pada 2018 menjadi sekitar $119 miliar tahun ini, berdasarkan perkiraan oleh lembaga analis, FactSet. Sementara, nilai perusahaan meningkat drastis menjadi $1 triliun dari sekitar $375 miliar pada akhir 2018.

Wakil Presiden Facebook untuk urusan Kebijakan Global lalu membuat internal memo bagi karyawannya. Ia menuding balik isi wawancara Nona Haugen di program “60 Minutes” itu melenceng dari kenyataan. Tuan Clegg pun keukeuh membela tempatnya bekerja saat ditanya CNN.

Ia bilang FB tak menyangkal “kebaikan, keburukan, dan kejahatan terhadap kemanusiaan”, tetapi mereka berkomitmen “mencegah keburukan, berusaha menguranginya, dan menonjolkan kebaikannya.”

Juru bicara perusahaan, Lena Pietsch, menanggapi kehebohan ini dengan menyatakan pihaknya terus berusaha membuat perubahan signifikan.

FB berkomitmen mengatasi masalah seperti penyebaran konten misinformasi, dan konten berbahaya lainnya. “Menuding kami tak berbuat sesuatu dan mendorong perilaku buruk adalah tuduhan yang salah,” tegasnya.

Haugen yang lulusan Harvard asal Iowa itu, sudah mengajukan setidaknya delapan pengaduan ke Komisi Sekuritas dan Bursa (BEI-nya AS). Salah satunya menyembunyikan informasi tentang risiko paparan Instagram.

Facebook bisa saja membalas aduan tersebut dengan tuntutan hukum, lantaran pencurian dokumen rahasia milik perusahaan. Tapi hal itu belum diputuskan.

Haugen percaya pada transparansi dan pengelolaan yang baik. “Ini semua bukan tentang ‘melumat’ Facebook,” katanya dalam “60 Minutes”. Ia percaya Facebook masih bisa diperbaiki.

Bila Facebook dan unit lainnya dipisahkan, sebagian besar uang akan mengalir ke Instagram. Facebook akan tetap seperti sekarang, dengan lebih sedikit pendapatan, imbuhnya.

Lebih bijak bila membuatnya lebih baik, khususnya untuk kelompok rentan seperti anak.

Gambar dari Pixabay oleh ivke32.

Maaf, Anda tak bisa lagi berkomentar.


Topik

Komentar

Gabung Melekmedia!