Beranda  »  Artikel » Media 2.0   »   KENTUT: Tentang Demam NFT di Indonesia

KENTUT: Tentang Demam NFT di Indonesia

Oleh: Rohmen -- 15 Januari, 2022 
Tentang: , ,  –  Komentar Anda?

Fart jars nft


Jika buruh bisa digantikan robot, mungkinkah politisi digantikan teknologi?

Mungkin tak ada yang mengira jika kentut bisa dijual. Tapi Stephanie Matto berhasil menjual kentut yang dikemas dalam jar (stoples). Dan ada yang mau membeli kentutnya. Tapi karena sering memaksakan kentut, dokter menyarankan perempuan 31 tahun itu berhenti karena bisa berpengaruh pada “lubang knalpotnya”.

Stephanie tak kurang akal. Dia lalu menjual kentut secara digital dalam bentuk NFT (non-fungible token). Konon dia sudah mengantongi sekitar Rp2,8 miliar dari jual kentut digital ini.

Di Indonesia demam NFT merebak pekan ini setelah Ghozali, pemuda dari Semarang berhasil menjual swafotonya di pasar NFT, Opensea. Foto Sultan Gustaf AL Ghozali alias Ghozali Everyday (22) itu seharga 0,05 ETH (sekitar AS $150 atau Rp2 juta). Lalu banyak orang latah dan menjual apa saja di Opensea. Opensea mendadak menjadi pasar kaget dan menjemukan.

Mungkin banyak orang masih bingung apa sebenarnya NFT. Secara singkat NFT adalah token unik, tak ada yang menyamai, tak bisa dipecah, dan jumlahnya terbatas. Misalkan duit Rp100 juta dan sebuah lukisan. Duit Rp100 juta ini bisa disamai (fungible) dengan Rp100 ribu sebanyak seribu lembar. Namun sebuah lukisan, tak bisa disamai dengan lukisan lain meski dibuat semirip mungkin menggunakan bahan dan bingkai yang sama.

Bentuk NFT macam macam. Ada lagu, video, lukisan/visual, alamat domain, juga kentut, tanah virtual di metaverse, maupun aset di dunia nyata seperti real estate atau pakaian. Setiap pembuatan dan kepemilikan NFT dicatat dalam buku besar (blockchain).

Jual beli NFT tidak menggunakan mata uang fiat (dolar, yen, rupiah dll). Sebab setiap blockchain memiliki mata uang sendiri. Misalnya Ethereum dengan ETH, Solana punya SOL, atau Internet Computer dengan ICP.

Pijakan awal semua ini adalah Bitcoin. Satoshi Nakamoto, pencipta Bitcoin, mungkin tak mengira jika inovasi buatannya/mereka pada 2008 bisa berkembang sangat jauh.

Pada awalnya, Satoshi geram dengan pemerintah, yang seenaknya menggunakan duit pajak untuk menalangi bank-bank yang terseret krisis finansial pada 2008. Krisis subprime mortgage itu jelas disebabkan oleh ketamakan para bankir.

Kepercayaan kepada pemerintah -juga bank sentral- memang patut dipertanyakan. (Film dokumenter Inside Jobs -2010 karya Charles Ferguson menggambarkan detail bagaimana kongkalikong ini bersama akademisi). Jika mereka sulit dipercayai, mungkinkah teknologi bisa mengantikan peran mereka mengontrol moneter?

Blockchain pada dasarnya adalah teknologi organisasi. Selama ini, buku besar pencatatan, dikuasai oleh satu pihak/pengelola (sentralisasi). Rantai blok menawarkan agar buku itu dikelola bersama (desentralisasi).

Buku besar ini bisa digunakan untuk mencatat apa saja. Uang, kepemilikan tanah, kepemilikan kendaraan, catatan nikah, NFT dsb.

Blockchain jadi bagian dalam evolusi teknologi. Jika teknologi informasi (web 2.0) mengubah produksi dan konsumsi informasi, teknologi organisasi (web 3.0) bisa mengubah cara bermasyarakat. Peran organisasi, berubah dari sentralisasi (satu pihak) menjadi desentralisasi (komunitas).

Satoshi menulis Whitepaper Bitcoin untuk menjelaskan bagaimana blockchain itu bekerja hingga ratusan tahun ke depan. Bitcoin, ditujukan menjadi mata uang global yang kebal dari campur tangan pemerintah dan bank.

Dua organisasi ini dilucuti perannya. Peran mereka digantikan oleh komputer milik komunitas yang tergabung dalam jaringan.

Tes pertama sukses, pada 2010. Awalnya, beberapa pemerintah dan bank menutup rekening milik Wikileaks, sebuah situs pembocor dokumen, sumber dana mereka lewat sumbangan. Rekeningnya amblas.

Wikileaks lalu membuka donasi via Bitcoin pada tahun itu. Pemerintah dan bank pun tak kuasa membendung aliran Bitcoin ke Wikileaks.

Temuan Satoshi diperbarui oleh Vitalik Buterin, mahasiswa dropout dari Kanada. Bersama pada penggagas lain, Vitalik membuat koin alternatif: Ethereum. Hal baru yang dibawa Ethereum adalah kontrak cerdas (smart contract).

Pengguna bisa membuat kontrak yang tereksekusi secara otomatis sesuai perjanjian, atau otomatis gagal jika tak sesuai perjanjian. Jaringan itu mengudara pada Juli 2015. Jika Bitcoin memangsa mata uang fiat, Ethereum memangsa bank dan perusahaan.

Fungsi bank, perlahan digantikan decentralized finance (DeFi). Orang kini sudah bisa menabung, meminjam, deposito, sampai berdagang produk finansial lewat DeFi. Sedangkan perusahaan, beberapa sudah mulai–dan berhasil–berkat Decentralized Autonomus Organization (DAO).

DAO pada dasarnya adalah organisasi yang berjalan secara otomatis dan terdesentralisasi. Organisasi awal yang dicoba adalah perusahaan. Kini orang sudah bisa membuat perusahaan, tanpa kantor, tanpa pernah ketemu, tanpa dana dan lintas negara-benua.

Dua contoh DAO yang berhasil adalah Yearn Finance (YFI) dan Ethereum Name Service (ENS). YFI adalah perusahaan DeFi yang baru dua tahun berdiri tapi valuasinya kini AS $1,1 miliar.

Perusahaan ini bahkan membuat laporan keuangan kuartal seperti perusahaan konvensional. Kuartal I 2021 mereka untung AS $4,8 juta. Pegawainya ada 17 orang tersebar dan dibayar dengan token, yang bisa dijual.

Sedangkan ENS, yang bernilai AS $591 juta, bekerja layaknya perusahaan. Dalam DAO, dikenal hak untuk usul (propose), memilih (vote), bahkan untuk ikut memutuskan (governance) arah kelanjutan perusahaan. ENS membuka hak-hak ini bagi pemegang token mereka.

Jika dilihat fungsi DAO, sangat mungkin diterapkan dalam politik. Jika selama ini urusan pemilihan dicatat komisi pemilihan, maka catatannya bisa diganti dengan blockchain.

Dengan DAO, publik bisa langsung punya hak usul, vote, dan mengambil keputusan. Jika publik sudah bisa menggunakan haknya tanpa diwakili, masihkah perlu parlemen?

Jika suara dalam pemilu diibaratkan sebuah token dalam DAO, publik mungkin tak perlu lagi komisi pemilihan dan parlemen. Jika semua orang bisa langsung bersuara, tak perlu lagi diwakili.

Kalau tak butuh wakil, tentu tak perlu proses pemilihan wakil. Semua orang bisa langsung mengemukakan persoalan, diusulkan menjadi masalah bersama, kemudian diputuskan lalu dieksekusi.

Tapi, ini mungkin butuh waktu lama. Mungkin beberapa generasi lagi. Jika kelak bisa terwujud, mungkin tak ada lagi ritual jualan kentut lima tahun sekali.

*Tangkapan layar dari situs fartjarsnft.com

Artikel lain sekategori:

Komentar Anda?

4  ×    =  20


Topik

Komentar

Gabung Melekmedia!