Beranda  »  Artikel » Literasi Baru   »   Mahasiswa Rajin Googling tapi Tidak Optimal

Mahasiswa Rajin Googling tapi Tidak Optimal

Oleh: Melekmedia -- 25 Agustus, 2011 
Tentang: ,  –  Komentar Dinonaktifkan pada Mahasiswa Rajin Googling tapi Tidak Optimal

Googling

Sebuah riset dari The Ethnographic Research in Illinois Academic Libraries (ERIAL) mengungkap beberapa fakta yang menarik tentang kebiasaan mahasiswa googling untuk penelitian.

Penelitian ERIAL ini dilakukan selama dua tahun, tujuan utamanya mengungkap bagaimana proses para mahasiswa melakukan penelitian, dan bagaimana hubungan antara mahasiswa, pengajar, dan pustakawan dalam membantu proses tersebut.

Dengan metode kualitatif, penelitian ini melibatkan banyak kegiatan wawancara, pengamatan terhadap foto-foto, atau pengamatan langsung di perpustakaan. Proyek ini merupakan kerja bareng lima perguruan tinggi di Illinois, Amerika Serikat.

Salah satu hasil yang menarik adalah kebiasaan googling dalam mencari bahan penelitian. Saat studi etnografi sepanjang dua tahun, mahasiswa merujuk ke Google lebih dari database mana pun selama mendiskusikan kebiasaan penelitian mereka.

Tapi ironisnya, kata penulis penelitian, mereka tidak pandai menggunakannya.

Dari 156 orang yang diwawancarai di lima sekolah tentang kebiasaan penelitian, mereka menyebut Google lebih dari database mana pun. Namun, 60 responden di antaranya sering menggunakan mesin pencari dengan buruk. Para peneliti tidak hanya mewawancarai, juga mengobservasi perilaku mereka saat mereka mencari informasi.

“Bukan karena siswa tidak efisien dalam menggunakan Google, tetapi mahasiswa ini sering kali tidak memiliki perlengkapan yang memadai untuk mengevaluasi atau menyempurnakan hasil yang ditampilkan mesin pencari,” kata salah satu peneliti, Andrew Asher, antropolog dari Bucknell University.

Mereka pada dasarnya tidak mengerti tentang logika yang mendasari mesin pencari mengatur dan menampilkan hasilnya. Akibatnya, siswa tidak tahu bagaimana googling agar menghasilkan sumber yang baik.

Kebiasaan menggunakan Google, juga ternyata diakui sebagian mahasiswa yang merasa malah untuk menemukan buku yang tepat. Meski fasilitas perpustakaan sudah cukup memadai, tetapi terkadang masih ada alasan tidak bisa menemukan bukunya.

Sementara, kesalahan umum saat googling untuk menggali bahan penelitian adalah tidak bisa menyaring informasi yang ditampilkan, bahkan beberapa di antaranya tidak bisa memfokuskan apa yang ingin ia temukan.

Literasi Digital

Literasi digital, pernah diuraikan dalam taksonomi digital dengan menanfaatkan taksonomi tujuan belajar yang pernah dibuat oleh Benjamin Bloom. Taksonomi Bloom akan membantu menguraikan kemampuan apa saja yang harus dimiliki seseorang yang mengaku digital literate

Dalam format aslinya, taksonomi Bloom terdiri atas 3 ranah belajar, Kognitif, Afektif, dan Psikomotor. Dalam kaitannya dengan artikel ini, kita hanya akan melihat dari aspek kognitifnya saja. Kemampuan mencari, menemukan informasi yang relevan, termasuk dalam salah satu tingkatan dalam Taksonomi Bloom.

Taksonomi digital Bloom

Di ranah Kognitif saja, ada 6 tingkatan pengetahuan yang harus dicapai. Tingkatan ini pernah direvisi pada tahun 2001, sehingga tingkat paling rendah kini adalah Mengingat (Remembering), dan tingkat paling tinggi adalah Mencipta (Creating). 

Mencari dan menemukan informasi, masuk dalam tingkatan literasi digital paling rendah, Mengingat. Artinya, seseorang sudah dikatakan literate di tingkat ini kalau ia sudah hafal di luar kepala mengenai cara menemukan informasi di internet.

Dalam kompetensi menemukan informasi di internet melalui Google.com misalnya, masih bisa diurai lagi kemampuan apa saja yang sebaiknya dimiliki. Kita tahu banyak cara yang bisa digunakan ketika mencari sesuatu di Google, seperti yang pernah ditulis sebelumnya dalam artikel ini.

Selain 10 tips yang ditulis tersebut, masih banyak lagi tips dan trik yang perlu diketahui agar mampu memanfaatkan Google secara optimal. Dan yang paling penting adalah, bagaimana kita yakin bahwa informasi yang kita dapat itu memang benar-benar valid.

Menemukan informasi yang tepat di internet menjadi salah satu kompetensi yang penting dalam literasi digital, karena di sana banyak sekali informasi yang bisa muncul. Google bisa menyediakan puluhan juta tautan berdasarkan kata kunci yang kita ketikkan.

Akan sulit membedakan mana sumber yang kredibel, dan mana yang tidak, jika tidak mampu mengenalinya ciri-cirinya. Banyak informasi yang sebenarnya muncul dari website karena mereka sengaja mendekatkan web-nya dengan kata kunci tertentu.

Teknik SEO (Search Engine Optimization) seperti ini, terkadang disalahgunakan, sehingga kata kunci dengan isi web sama sekali tidak relevan. Karena sangat penting, literasi digital ini sebaiknya diperkenalkan untuk pelajar, mulai dari bangku SMP hingga perguruan tinggi.

Data di Amerika yang memiliki jumlah pengguna internet sangat besar, ternyata seperti yang sudah diuraikan di atas. Bagaimana dengan data kita di Indonesia? Penelitian yang sama rasanya menarik untuk dilakukan di sini.

Photo by PhotoMIX Company from Pexels

Maaf, Anda tak bisa lagi berkomentar.


Topik

Komentar

Gabung Melekmedia!