16 October, 2012 

Amanda Todd: Aku Masih di Sini

Oleh: Melekmedia
Tentang: , ,  –  Komentar Anda?

Amanda Todd, remaja putri berusia 15 tahun asal Kanada, menjadi sorotan publik belakangan ini. Kematiannya yang tragis, menyadarkan banyak orang bahwa dampak bullying, tidak main-main. Kisahnya dimuat di berbagai surat kabar di seluruh dunia. Topiknya dipercakapkan di linimasa Twitter dunia, hingga menjai topik tren, dan halaman Facebook yang mengenangnya mendapat 800-an pendukung dalam dua hari.

Amanda telah menjadi korban bullying, selama bertahun-tahun, hingga ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Sayangnya, sulit mencari siapa yang harus bertanggung jawab atas kematiannya. Semua pelaku bullying terhadap dirinya, seharusnya turut bertanggung jawab. Tak sedikitpun punya empati pada apa yang dialami Amanda, malah menjerumuskannya ke dalam situasi yang semakin sulit. Ia tak kuasa menghadapi tekanan yang sedemikian hebat dari teman sekolah, orang-orang dekat yang seharusnya menjadi sahabat yang bisa mendukungnya.

7 September 2012, ia sempat mengirim sebuah video di Youtube, berisi pengakuan terhadap apa yang dialaminya selama ini. Video yang hanya menunjukkan kartu-kartu berisi kisah hidupnya, mungkin menjadi penampilan terakhirnya di dunia maya. Pada tanggal 10 Oktober 2012, ia ditemukan meninggal dunia.

Berikut adalah kisah yang diceritakannya melalui video tersebut:

PERINGATAN: Ada foto yang mungkin tak layak dilihat di bagian akhir video ini.

Hello! Namaku Amanda Todd, aku memutuskan untuk menceritakan kisahku yang tak berujung pada kalian. Waktu kelas tujuh, aku bersama teman-teman main-main dengan melalui obrolan di video, bertemu dan berbincang-bincang dengan teman baru. Disana, aku mendapat kata-kata sanjungan seperti “Cantik”, “Menarik”, “Sempurna”, dan sebagainya. Lalu aku patuh saja ketika ada yang meminta menunjukkan bagian dadaku tanpa busana.

Setahun kemudian, tiba-tiba seseorang tanpa nama mengirimiku pesan di halaman profil Facebook. Pesan itu berbunyi, “Kalau kamu tidak mau menunjukkan sesuatu yang lain lagi, aku akan sebarkan fotomu,”. Pria itu mengaku memiliki alamat rumah, data tentang keluarga, teman-teman, dan semua yang kukenal.

Hingga suatu hari, saat libur Hari Natal, pada pukul empat pagi hari, polisi mengetuk pintu rumahku karena foto setengah telanjang itu tersebar luas di internet. Aku jatuh sakit, shock, dan depresi. Hidupku makin tak tenang, sering panik tak jelas. Sempat pindah rumah, dan terlibat dengan obat-obatan serta alkohol. Bukannya menyelesaikan masalah, justru semakin resah bahkan sampai tak bisa keluar rumah lagi.

Setahun kemudian, orang yang memerasku kembali muncul dan mengirim daftar teman-teman serta sekolahku, dan membuat Halaman Facebook (Facebook Page). Orang itu menggunakan fotoku sebagai avatar profil. Aku hanya bisa menangis semalaman, kehilangan semua teman-temanku, dan rasa hormat dari mereka… untuk kedua kalinya. Tak satupun kini menyukaiku. Mereka mengkata-kataiku, menghakimiku. Foto itu tak pernah bisa kudapatkan kembali, selamanya akan ada di luar sana.

Aku semakin depresi, bahkan mulai menyakiti diriku sendiri. Aku berjanji takkan pernah lagi melakukan hal itu. Aku tak punya teman lagi, tiap kali makan siang di sekolah, aku makan sendirian. Akupun pindah sekolah lagi, dan keadaan agak membaik meski pengucilan masih terjadi. Ketika makan siang, aku makan di perpustakaan setiap hari.

Sebulan setelah itu, aku bertemu seorang teman pria yang lebih tua. Kami saling bertukar pesan singkat di ponsel, hingga suatu ketika ia mengatakan menyukaiku, meski aku tahu ia sudah memiliki pacar. Suatu ketika, ia mengundangku untuk bertemu di rumahnya, ketika sang pacar sedang liburan. Aku memenuhi undangan itu. Sebuah kesalahan besar.

Kamipun terlibat hubungan intim. Aku pikir ia benar-benar menyukaiku. Seminggu kemudian, aku menerima pesan singkat di ponsel, “Keluar dari sekolahmu!” Rupanya pacar sang teman pria itu, beserta lima belasan orang lain mendatangiku ke sekolah, dia pun ada di antaranya. Sang pacar bersama dua orang lain meneriakiku di depan sekitar 50 orang anak lain di sekolah baruku, “Lihat, tak ada satupun yang menyukaimu!”

Seorang anak memprovokasi si pacar untuk memukuliku, dan terjadilah kekerasan itu. Aku didorong hingga terjatuh, dan dipukuli beberapa kali, sementara ada anak-anak lain memvideokan peristiwa itu. Aku benar-benar sendirian saat itu. Aku merasa menjadi lelucon di dunia ini, tak seorangpun layak diperlakukan seperti ini. Aku sendirian, berbohong bahwa apa yang terjadi semua karena kesalahanku, aku yang memulainya. Aku tak mau pria yang kupikir menyukaiku itu disakiti. Tapi ternyata yang diinginkannya hanyalah seks.

Seseorang kembali memprovokasi untuk memukuliku. Seorang guru datang melerai, tetapi membiarkanku tersungkur di selokan. Hingga akhirnya Ayah datang menolongku. Rasanya aku ingin mati saja. Sesampai di rumah, aku meminum cairan pemutih. Rasanya aku sudah mati, benar-benar mati. Tetapi ambulans datang, dan mengirimku ke rumah sakit. Aku selamat.

Sekembali dari rumah sakit, yang aku lihat di Facebook adalah komentar-komentar pedas seperti, “Ia layak mendapakannya”, atau “Sudah dibersihkan belum lumpur yang mengotori rambutmu?”, bahkan ada komentar, “Aku harap ia mati saja!” Tak ada satupun yang peduli.

Pindahlah aku ke tempat lain, ke sekolah baru lagi, ke kota ibuku. Aku tak mau mempermasalahkan insiden itu, karena aku ingin move on. Sekitar enam bulan berlalu, ledekan dengan kiriman di Facebook tentang berbagai macam cairan pemutih, dan menandaiku pada foto tersebut terus berlangsung. Komentar-komentar kali inipun tak kalah pedasnya, seperti “Ia harus mencoba pemutih yang lain”. atau “Aku harap ia mati kali ini, tokh itu bukan hal bodoh untuk dilakukan”, bahkan ada pula yang menginginkannya untuk mencoba bunuh diri lagi.

Aku tak tahu kenapa ini harus terjadi. Aku berbuat salah, dan kenapa kalian terus memburuku? Aku bahkan sudah tinggalkan kota kalian. Aku hanya bisa menangis sekarang… Setiap hari aku selalu berpikir, mengapa aku masih ada di sini? Ketakutanku makin menjadi sekarang, aku tak berani keluar meski liburan musim panas. Semua masa laluku, kehidupanku tak pernah menjadi lebih baik. Tak bisa ke sekolah, bertemu dan bersama teman-teman… Aku sangat depresi…

Di tengah tekanan yang bertubi-tubi, akhirnya aku larut dalam depresi dan kembali sempat menyakiti dirinya sendiri. Aku harus mengkonsumsi obat anti depresi, bahkan sempat masuk ke rumah sakit lagi selama dua hari karena over dosis. Hidupku seolah terhenti. Tak ada yang tersisa dari hidupku sekarang. Aku tak punya siapapun, aku butuh seseorang…

LALU Pada tanggal 10 Oktober 2012 yang naas itu, ia akhirnya ditemukan meninggal dunia. Pihak kepolisian menyatakan, ini adalah aksi bunuh diri, tetapi tak bersedia merilis detil penyebabnya, meski ada media yang menyatakan ia menggantung diri.

Kisah miris Amanda Todd ini, adalah sebuah pelajaran penting bagi siapapun. Baik bagi orang tua, remaja, dan sekolah. Perilaku bullying, yang terjadi di dunia nyata maupun di dunia maya, sama menyakitkannya bagi korban. Pelecehan yang terus menerus, merendahkan dan menghancurkan kepercayaan diri seorang remaja, dampaknya bisa sangat berbahaya. Sementara, praktek bullying masih terjadi selama ini, terutama menyerang remaja perempuan.

Dalam sebuah penelitan di Kanada beberapa waktu lalu, ditemukan bahwa seperempat orang tua yang disurvei (26 persen) mengatakan bahwa anak mereka telah terlibat dalam insiden cyberbullying. 66 persen di antaranya mengatakan bahwa anak mereka menjadi korban, 16 persen mengaku anak mereka pelakunya, dan 18 persen mengatakan anak mereka menjadi saksi dari insiden semacam itu.

Survei juga menemukan bahwa anak perempuan lebih sering terlibat dalam insiden cyberbullying daripada laki-laki. Angkanya cukup mengejutkan, 86 persen orang tua mengaku anak perempuannya telah menjadi korban, sementara 55 persen yang mengaku anak laki-lakinya jadi korban.

Selain itu, 32 persen dari orang tua menyatakan mereka tidak sepenuhnya tahu apa yang anak mereka lakukan di internet. Lebih dari 50 persen orang tua mengklaim telah menggunakan piranti lunak untuk memonitor penggunaan internet oleh anak-anak mereka. Privasi untuk anak hampir tidak ada; 42 persen orang tua menyatakan mereka memeriksa mengecek sejarah peramban anak-anak mereka untuk memeriksa apa yang dicari di internet.

Hampir setengah (43 persen) responden orangtua menyatakan tidak keberatan anak-anak mereka yang berusia 8-12 tahun memiliki akun di jejaring sosial, selama di bawah pengawasan orang tuanya. Padahal, usia minimum untuk memiliki akun jejaring sosial rata-rata adalah di atas 13 tahun. Facebook misalnya, mengadopsi aturan ini.

Semoga tak ada lagi kasus seperti ini. Temani dan dampingi remaja serta anak-anak kita yang menggunakan media sosial, jangan sampai mereka diperdaya orang-orang tak bertanggung jawab. Jangan jadi satpam bagi mereka, jadilah teman bagi mereka. Undang mereka mendiskusikan perilaku mereka di media sosial, sehingga tahu apa yang pantas dan tak pantas dilakukan.

Selamat jalan Amanda. Kisahmu akan tetap di sini, menjadi pelajaran berharga bagi kami.

Coldplay – Fix You »

Foto diambil dari galeri foto Halaman Facebook R.I.P Amanda Todd

Komentar Anda?


Gabung Melekmedia!