11 February, 2010 

Efek Media terhadap Citra Diri (Body Image) #1

Oleh: Pipin Sadikin
Tentang: , ,  –  5 Komentar

Ketika sebuah iklan terbaru shampo, body lotion atau sabun mandi ditayangkan di televisi, seringkali kita langsung merasa bahwa kita terwakili. Terwakili, dalam arti merasa bahwa jika kita pengguna produk yang sama, maka citra diri kita seolah sama dengan apa yang ditampilkan dalam iklan tersebut. Iklan memakai model-model yang dalam dunia periklanan dikategorikan sebagai ‘cantik’ atau ‘tampan’, menawarkan asosiasi terhadap suatu produk melalui citra si model. Lalu, melalui pengkondisian seperti itu, kita sebagai pemirsa lalu akan mengasosiasikan konsep kecantikan atau ketampanan, yang ditampilkan si model, dengan produk yang dipromosikannya. Padahal definisi cantik, tampan atau menarik itu sendiri sangat relatif dan berbeda, tergantung pada latar budaya mana kita memandangnya.

Sebuah teori mengatakan bahwa:

During childhood, adolescence, media exposure is part of a constellation of sociocultural factors that promote a thinness schema for girls and the muscularity schema for boys (Harrison & Hefner, 2006; Smolak & Levine, 1996; Thompson et al., 1999).

Jika kita terjemahkan secara bebas, kira-kira artinya “Selama masa kanak-kanak, remaja, liputan media merupakan bagian dari kumpulan faktor-faktor sosiokultural yang mempromosikan skema kurus bagi para anak perempuan dan skema otot bagi para anak lelaki.” Ini berarti, cara pandang anak atau remaja terhadap dirinya, akan sangat dipengaruhi oleh pesan-pesan yang disampaikan lewat media, baik secara terang-terangan, maupun secara terselubung.

Berdasarkan penjelasan ini, dapat kita pahami bahwa citra tubuh bagi anak atau remaja, berkembang sebagai hasil dari banyak pengaruh, antara lain:

  • Seorang bayi yang baru lahir segera mulai menyelidiki seperti apa tubuhnya terasa dan apa yang dapat dilakukan tubuhnya. Misalnya dengan mengisap jempol tangannya atau menyentuh bagian tubuhnya yang sama terus menerus, ia bereksplorasi tentang tubuhnya sendiri. Proses ini terus berlanjut sepanjang hidupnya.
  • Suatu citra tentang tubuh seorang anak dipengaruhi oleh bagaimana orang tua dan orang-orang di sekitarnya bereaksi pada tubuhnya dan bagaimana tampaknya ia bagi mereka. Misalnya memanggilnya dengan panggilan kesayangan ‘Gendut’, ‘Kontet’, ‘Cebol’, ’Jangkung’ dll, maka dengan demikian pencitraan itu terbentuk dengan sendirinya.
  • Seorang anak pra-remaja semakin menyadari apa yang jadi standar masyarakat untuk “tubuh ideal”. Misalnya, gadis-gadis berambut panjang dan lurus serta berkulit putih ternyata lebih disukai, memiliki teman lebih banyak, dan mudah mendapatkan teman kencan ketimbang gadis-gadis berambut keriting atau ikal dan berkulit sawo matang atau gelap.

Dari berbagai media populer, image atau pencitraan ini ternyata sangat melekat dan berpengaruh, serta dianggap menarik dan bisa membuat media yang ‘biasanya’ memuat suatu produk kecantikan tersebut menjadi lebih dikenal. Bahkan, dengan menggunakan image tubuh kurus, para pengelola media dan produk yang bersangkutan dapat mendulang pendapatan yang luar biasa. Bagaimana bisa terjadi? (Bersambung ke Bagian #2)

5 Komentar untuk “Efek Media terhadap Citra Diri (Body Image) #1”

  1. robani

    Menarik. Minta ijin tuk ambil sedikit sebagai bahan paper yach? Thanks.

  2. prajnamu

    Silahkan. Senang bisa membantu… 😀 Salam!

Komentar Anda?


Gabung Melekmedia!