Self Liberation

Dalam beberapa kesempatan, tengoklah debat-debat di linimasa Twitter saya. Linimasa Twitter ini berisi siapa saja yang sengaja di-follow, agar bisa mendapatkan informasi dari mereka. Banyak hal menarik, terutama kalau sudah berurusan dengan perdebatan sengit antar pengguna. Tak jarang muncul pernyataan-pernyataan yang menyerang pribadi, lupa pada substansi yang sedang dibicarakan. Tapi tak jarang pula muncul argumen-argumen yang menarik, yang bisa saya pelajari.

Misalnya, persoalan internet sebagai ruang beraktivitas. Ada yang berpandangan internet adalah ruang privat, ada pula yang berpandangan internet adalah ruang publik. Dalam kasus linimasa twitter, ini jadi semakin menarik. Linimasa twitter seseorang, bisa dilindungi dengan menggunakan fasilitas protect yang disediakan Twitter. Twitter menyediakan pilihan akun terbuka, dan akun yang dilindungi (Baca: Public and Protected Accounts).

Ketika Anda memilih untuk melindungi akun Anda, isi tweet Anda tidak bisa diakses orang-orang yang Anda tidak kehendaki. Anda bisa menulis apa saja, dan hanya follower Anda yang bisa membacanya. Hanya mereka yang Anda setujui saja yang bisa menjadi follower Anda, dan dapat menikmati apa yang Anda kirim. Setiap permintaan pertemanan, menjadi follower, harus melalui persetujuan Anda. Silakan pilih, Anda bisa tolak, atau diterima.

Tampaknya, dari kasus ini ruang privat Anda jauh lebih terlindungi.

Kalau linimasa Anda tidak dilindungi, maka siapapun bisa membaca apa yang Anda kirim. Baik follower atau bukan, dapat menemukan apa yang Anda tweet-kan. Selain follower, dapat membaca isi Tweet Anda dengan berbagai cara, baik itu melalui fasilitas pencarian di Twitter, melalui pencarian kumpulan tagar, maupun pencarian melalui google. Resikonya jelas, siapapun yang membacanya, lalu bisa berkonfrontasi jika tidak setuju, atau mendukung jika setuju dengan pikiran yang Anda sampaikan.

Perlu diingat, kita sedang bicara tentang media sosial. Apa itu media sosial? Sesuai namanya, kata sosial mengindikasikan interaksi antar pengguna. Bersosialisasi, via internet. Kalau Anda memang bermain dengan teknologi ini, maka terimalah kenyataan bahwa Anda sedang berada dalam satu ruang bersama-sama orang lain, bukan saja di Indonesia, tetapi seluruh dunia.

Artinya, Anda sedang berada di ruang publik, sekecil apapun ruang itu. Kalau Anda ingin mengirimkan informasi yang sifatnya rahasia, jangan gunakan saluran umum. Email mungkin lebih bersifat pribadi, atau gunakan fasilitas Direct Message di Twitter untuk mengirim informasi kepada seseorang yang Anda ingin rahasiakan dari orang lain.

Nah, sampai di sini, ruang privat itu hampir tidak ada lagi.

Kembali ke perdebatan di awal, apakah media sosial ini ruang privat atau publik? Ada banyak kategori media di internet yang bisa digunakan untuk berkomunikasi secara privat. Milis bisa dibuat privat, dengan hanya mengundang orang yang diinginkan untuk terlibat di dalamnya.

Akun facebook Anda juga bisa dibuat privat, sehingga selain teman yang Anda setujui, tidak akan bisa mengakses data-data sensitif yang tampil di halaman profil Anda, begitu pula di Twitter. Instant messenger seperti Yahoo misalnya, sejak dulu sudah menawarkan komunikasi privat, baik dalam kelompok maupun antar individu. Email, sejak dulu juga diperuntukkan komunikasi yang tidak bersifat umum, bahkan ketika dikirim ke banyak pengguna lain.

Kalau kita merujuk ulang awal mula lahirnya media sosial, mungkin akan lebih membantu menjelaskan duduk perkaranya. Media sosial, dimaksudkan sebagai media alternatif dari media tradisional yang cenderung searah dalam menyampaikan informasi. Inilah kenapa kemudian diistilahkan sebagai Media 2.0.

Media generasi baru ini, mengindikasikan bahwa setiap orang memiliki hak menyebarkan informasi. Setiap orang bisa menjadi sumber informasi, sehingga tanggung jawab atas keakuratan informasi itu ada pada individu, sang penyebar informasi. Semangatnya jelas, demokrasi yang liberal. There is no more audience. There are no more users. There are only participants. Participants in a human scale network – revolutionofme.pbworks.com.

Motor Aing Kumaha Aing

– – –

Persoalannya kemudian, apakah informasi yang Anda sebarkan itu bisa mengganggu kenyamanan orang lain atau tidak? Kenapa pula perlu memperhatikan kenyamanan orang lain? Media sosial, menurut saya menjadi ruang publik karena lahir dari situasi yang demokratis.

Dalam semangat demokrasi, semua orang punya hak bicara, dengan berbagai cara. Keragaman cara ini, kemudian bisa menimbulkan perselisihan, karena cara satu orang belum tentu sama dengan cara orang lain. Bahkan lebih ekstrim lagi, cara satu orang bisa membuat marah orang lain.

Namun, ini sebenarnya berkaitan dengan etika kita dalam berkomunikasi. Etika kita dalam berdemokrasi. Seberapa egaliter kah kita? Seberapa tinggikah standar kita untuk menganggap orang lain cukup sopan atau tidak cukup sopan dalam berkomunikasi di media sosial ini?

Honestly I am not envisioning anything other than this; every single human being posting their thoughts and experiences in any number of ways to the Internet.

That’s it in a nutshell. Many people will say that’s a ridiculous notion. That not everyone is an extrovert. That most people don’t have anything interesting to say or share. To which I say bullshit. I believe that we are headed to a world which everyone will share their lives with the rest of the world via the Internet. That is social media. It’s a huge movement and we are at the start of it. – Fred Wilson.

Memandang media sosial sebagai ruang privat, seolah ingin membenarkan bahwa setiap orang berhak melakukan apa saja, tanpa mempertimbangkan tingkat kedewasaan pengguna lain. Sementara di sini, di Indonesia, saya tidak begitu yakin hal itu bisa berjalan dengan mulus. Masih banyak pengguna yang tidak sadar, bahwa ia tidak sedang berbisik-bisik antar orang.

Begitu ia menggunakan media sosial, ia sedang menggunakan TOA yang suaranya bisa terdengar ke seantero kota. Masih banyak pula yang tidak menyadari, bahwa perbedaan pandangan itu hal wajar. Jika menyadari hal itu, maka pengguna harus lebih sabar, lebih banyak menggunakan akal sehatnya daripada emosinya, atau egonya.

Di antara pengguna sebaiknya mulai menyadari, bahwa kesetaraan itu jauh lebih ekstrim di media sosial. Akun seorang menteri dengan mudah bisa menjadi bahan cemoohan, jika sampai ia terselip lidah dalam berkomunikasi. Saya, Anda, dan mereka semua para pengguna media sosial ini, sekarang berada di ruang publik yang sangat datar.

Tidak ada yang lebih tinggi daripada yang lain. Hampir tak ada lagi label selebriti, politisi, pejabat negara, atau bahkan pemimpin agama. Setiap orang membangun reputasinya berdasarkan apa yang dipublikasikannya di media sosial.

Kalau Anda tidak paham dengan bahasa Sunda pada ilustrasi foto di atas, artinya kira-kira “Motor gue, ya semau gue aja.” Logika yang sama bisa kita lihat di internet, ketika orang-orang menggunakan akunnya seperti menggunakan motor di jalanan. Mungkin benar, motor itu milik Anda. Tapi Anda menggunakan jalanan umum. Di sana ada banyak kendaraan lainnya, sehingga sangat penting menaati aturan lalu lintas, atau kecelakaan akan terjadi.

It’s not enough to know how to press buttons on technological equipment: thinking is even more important.” – medialit.org.

Satu Komentar untuk “Sudah Siapkah Kita Hidup di Ruang Publik?”

  1. Aulia

    sedikit tidaknya ini telah mencerahkan via jalan raya dan motor di dalam ruang publik 🙂

Komentar Anda?


Gabung Melekmedia!