20 August, 2011 

Tak Ada Tempat untuk Iklan yang Melecehkan

Oleh: Melekmedia
Tentang: , , ,  –  Komentar Anda?

Kreatifitas insan periklanan, memang terkadang keterlaluan. Di Indonesia, beberapa iklan sudah dilaporkan ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), dan televisi yang menayangkannya mendapat teguran tertulis. Meski kasusnya bukan pelecehan ras seperti yang tertulis di judul artikel ini, kasus pelanggaran terhadap etika iklan niaga memang patut menjadi perhatian kita. Kasus di Indonesia, menyangkut penampilan iklan yang terlalu mengeksploitasi perempuan.

Kasus iklan yang melecehkan ras ini terjadi di Amerika. Salah satu iklan produk Nivea For Men, menampilkan seorang pria berkulit hitam yang tampak akan melempar kepala manusia yang telah dipenggal. Tagline nya cukup mencolok, berbunyi, “Re-Civilize Yourself’. Apakah pesan yang ingin disampaikan? Orang berkulit hitam perlu diberadabkan karena perilakunya?

Iklan ini mendapat protes keras dari berbagai pihak. Bias terhadap ras kulit hitam, yang seolah ditampilkan sebagai kaum tak beradab, telah mencoreng citra merk Nivea sendiri. Agak aneh ketika iklan yang sangat jelas menampilkan diskriminasi ras seperti ini lolos dari pengamatan para kreatornya sendiri. Apakah ini merefleksikan cara pandang mereka terhadap warga kulit hitam, atau inilah gambaran masyarakatnya?

Protes yang membuat Nivea akhirnya mencabut kembali iklan ini, membuktikan bahwa tidak ada tempat bagi iklan apapun, untuk ‘bermain-main’ dengan isu SARA. Inilah yang seharusnya juga terjadi di Indonesia. Berbagai bentuk pelecehan yang dilakukan iklan, baik tampak secara kasat mata maupun hanya samar-samar, harus diberi pelajaran. Caranya? Konsumen, atau para pemirsa iklan harus aktif bergerak. KPI sendiri sudah membuka hotline pengaduan terhadap konten penyiaran yang melanggar ketentuan. Dalam hal ini, ada aturan yang namanya Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Untuk iklan secara umum, baik yang cetak maupun elektronik, terikat oleh Etika Pariwara Indonesia (EPI) yang diterbitkan Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI)

Jika ada yang merasa tayangan televisi (termasuk iklan) yang dianggap melanggar kode etik, KPI menerima pengaduan melalui Call Center di (021) 634 0626 dan SMS Pengaduan di 0812 1307 0000.

Komentar Anda?


Gabung Melekmedia!