Beranda  »  Artikel » Literasi Baru   »   Pembelajaran Jarak Jauh Mengandalkan Media

Pembelajaran Jarak Jauh Mengandalkan Media

Oleh: Melekmedia -- 3 November, 2021 
Tentang: , ,  –  Komentar Anda?

Pembelajaran jarak jauh

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) terpaksa digelar karena penyakit Covid-19 maha menular. Sejumlah pihak ingin segera kembali ke tatap muka karena siswa semakin kehilangan jatahnya untuk belajar.

Frasa “jatah belajar yang hilang” dalam tulisan ini berusaha menyederhanakan istilah sulit seperti learning loss. Pada prinsipnya, masa belajar yang ditempuh tidak memberi hasil yang sebanding.

Learning loss di Indonesia menurut Indeks Modal Manusia 2018, sekitar 4 tahun. Meski teorinya anak Indonesia bersekolah selama 12 tahun, masa mereka benar-benar belajar kurang lebih hanya 8 tahun.

Akibat pandemi Covid-19 sejak awal 2020, hitungan Bank Dunia menunjukkan anak Indonesia kehilangan 0,9 tahun atau sekitar 10 bulan masa pembelajaran di sekolah lantaran sekolah ditutup.

Angka 10 bulan itu jelas memperburuk rekor anak Indonesia dalam IMM 2018. Dampaknya bisa lebih buruk bila pagebluk tak dimitigasi.

Tapi tunggu dulu, belum semua kabar buruknya terungkap. Angka-angka tadi hanyalah asumsi yang dihitung dengan skenario “paling optimistis”; berdasarkan tingkat efektivitas pembelajaran alternatif.

Laporan detailnya bisa dibaca di dokumen How Indonesia’s education system can overcome the losses from the COVID-19 pandemic and raise learning outcomes for all oleh Rythia Afkar dan Noah Yarrow (September 2021).

Meneropong apa yang terjadi

Efektivitas pembelajaran jarak jauh
Perkiraan jatah belajar yang hilang karena penutupan sekolah pada periode Januari 2020 – Juni 2021

Bank Dunia mengukur jatah belajar yang hilang ini dengan berbagai situasi. Salah satunya berapa banyak sekolah yang “tutup”, dan variasi kualitas pembelajaran alternatif seperti PJJ.

Situasi tersebut digunakan untuk menerawang ke masa depan. Sebelumnya, mereka menghitung dampak kualitas pembelajaran alternatif karena belajar tatap muka dihentikan.

Periode perhitungan adalah 1,5 tahun sejak awal pandemi, Januari 2020-Juni 2021. Patut diingat, kalender pendidikan masanya lebih pendek karena ada liburan.

Karena pembelajaran tak berjalan sebagaimana mestinya (tatap muka), ada sekolah yang diliburkan penuh, ada pula yang tetap belajar meski menggunakan metode alternatif.

Dengan asumsi efektivitas metode PJJ atau alternatif lain sekitar 40 persen dari tatap muka, capaian belajar hanya terhitung 6,9 tahun, atau lebih rendah dari IMM 2018 (pra-pandemi).

Semakin rendah efektivitas (E) pembelajaran, semakin rendah masa belajar efektif yang dialami siswa. Dengan kata lain, efektivitas berbanding lurus dengan capaian jatah belajar.

Bank Dunia menyebut jatah belajar efektif ini sebagai Learning adjusted years of schooling (LAYS). Hasil dari riset pendahuluan ini akan jadi pembanding dalam perhitungan selanjutnya.

Menerawang masa depan

Dari hasil penelusuran sejak awal pandemi, Bank Dunia kemudian menghitung prospek ke depan berdasarkan kondisi terkini. Penerawangan ini menggunakan dua situasi: Penutupan sekolah dan kualitas metode alternatif.

Dampak penutupan sekolah akan dihitung berdasarkan tiga skenario, dan menggunakan asumsi kualitas model pembelajaran alternatif selain tatap muka.

Skenario paling optimstis, per Juli 2021 sekolah akan dibuka 100 persen dengan mempertimbangkan program vaksinasi guru dan tenaga kependidikan akan tuntas sebulan sebelumnya.

Agak moderat, skenario kedua membayangkan “hanya” 50 persen sekolah yang bisa dibuka untuk pembelajaran tatap muka. Alasannya, vaksinasi untuk kalangan sekolah belum tuntas, sementara penyebaran tak juga menurun.

Lalu yang paling pesimistis, tak satupun sekolah bisa dibuka pada Juli 2021. Kasus penularan Covid-19 diperkirakan masih terus meningkat, memaksa pemerintah membatasi gerak warga.

Ketiga skenario berlandaskan asumsi bahwa sepanjang pandemi kualitas pembelajaran hanya 40 persen, dan telah menambah hilangnya jatah belajar siswa sebanyak 0,9 tahun, atau memangkas jatah belajar menjadi 6,9 tahun.

Berdasarkan ketiga skenario, lalu dihitung perkiraan capaian LAYS hingga Desember 2021.

Perkiraan jatah belajar yang dialami siswa berdasarkan tiga skenario untuk periode Januari 2020 – Desember 2021

Di bawah skenario optimistis, saat semua sekolah diasumsikan buka kembali pada Juli 2021, capaian LAYS sama dengan nilai pembanding (6,9 tahun), atau lebih rendah dari capaian sebelum pandemi (7,8 tahun).

Banyaknya penutupan sekolah selama Juli-Desember 2021 diperkirakan berbanding lurus dengan capaian jatah belajar siswa. Bila sekolah ditutup terus hingga pasca-2021, kehilangan jatah belajar akan semakin besar.

Dengan skenario paling pesimistis, angka LAYS turun 0,3 poin (tahun) dibandingkan skenario optimistis.

Dengan asumsi yang sama, penerawangan dilakukan terhadap kualitas pembelajaran alternatif pengganti tatap muka. Ada berbagai metode, tetapi yang paling generik kita sebut saja PJJ.

Hasilnya, dampak efektivitas (E) saat diperkirakan pada angka, 40, 20, dan 10 persen, jatah belajar menukik lebih dalam. Bahkan untuk angka 40 persen, sama dengan penelitian awal, angkanya lebih rendah 0,1 poin.

Saat perkiraan efektivitas diturunkan, LAYS berkurang dari 7,8 tahun hingga 6,5 tahun dan 6,3 tahun. Hitungan ini menggunakan parameter durasi penutupan sekolah yang tidak berubah.

Efektivitas pembelajaran jarak jauh
Perkiraan dampak efektivitis pembelajaran non-tatap muka terhadap capaian LAYS periode 2020-2021

Rupanya, hasil simulasi dengan kualitas pembelajaran alternatif dampaknya lebih buruk terhadap jatah belajar yang seharusnya diterima siswa. Dengan skenario 40, 30, dan 10 persen, semua hasilnya lebih rendah.

Dengan 40 persen kualitas, hingga Desember 2021 diperkirakan angka LAYS turun ke 6,8 tahun. Sedikit lebih rendah dari capaian periode 2020-Juni 2021, tetapi jauh lebih rendah dibandingkan dengan masa pra-pandemi.

Menurut peneliti Bank Dunia, ini berarti efektivitas pembelajaran lebih penting daripada durasi penutupan sekolah, pada batas yang diperiksa oleh model dalam riset ini.

Bahkan, dalam perhitungan terhadap skor membaca versi PISA, saat efektivitas ditetapkan pada 20 dan 10 persen hasilnya konsisten lebih rendah dibandingkan perkiraan hasil dalam skenario pesimis sekalipun.

Model perhitungan yang dibuat Bank Dunia ini membuktikan bahwa langkah-langkah mitigasi lebih penting daripada sekadar menutup sekolah dalam waktu lama.

Indonesia sebagai negara rawan bencana, perlu serius menyiapkan mitigasi tutupnya sekolah. Bencana bisa tiba setiap saat, sehingga anak-anak tak bisa senantiasa belajar di kelas.

Mengatasi proses pembelajaran yang tak bisa berlangsung tatap muka, jadi jauh lebih penting ketika sulit memprediksi kapan situasi seperti ini bakal terjadi lagi.

Media dan Pembelajaran Jarak Jauh

Media, sangat penting dalam membantu sekolah menjalankan proses pembelajaran seefektif mungkin tanpa pertemuan tatap muka. Ingat, istilah media tidak terbatas pada media massa.

Media massa seperti televisi memang digunakan juga dalam pembelajaran jarak jauh. Lebih dari itu, yang terpenting adalah bagaimana guru menyelenggarakan pembelajaran tanpa tatap muka.

Dengan segala kemewahan infrastruktur, seperti kecepatan koneksi, dan keterjangkauan jaringan, mungkin pembelajaran daring di atas kertas bisa dilaksakanan.

Tapi kenyataannya tak semudah membalikkan telapak tangan. Pembelajaran jarak jauh lewat daring mengalami banyak masalah, mulai dari keterbatasan jaringan, alat, hingga kompetensi dalam memanfaatkannya.

Merujuk kembali hasil riset Bank Dunia, aspek efektivitas jadi ukuran. Pembelajaran jarak jauh berarti harus bisa mengoptimalkan pemanfaatan media, karena harus berlangsung tanpa tatap muka.

“Media dalam arti perpanjangan kemampuan fisik,” demikian kata McLuhan. Pembelajaran melalui media, artinya pemanfaatan media sebagai perpanjangan kemampuan manusia dalam berkomunikasi saat belajar-mengajar.

Seharusnya, pendekatan ini bukan barang baru. Ada yang pernah dengar Universitas Terbuka (UT)? UT sudah sejak lama menerapkan sistem belajar jarak jauh dan terbuka.

Istilah jarak jauh berarti pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka, melainkan menggunakan media, baik media cetak (modul) maupun non-cetak (audio/video, komputer/internet, siaran radio, dan televisi).

Sedangkan terbuka, artinya tidak ada pembatasan usia, tahun ijazah, masa belajar, waktu registrasi, dan frekuensi mengikuti ujian. Yang penting setiap mahasiswa UT sudah lulus jenjang SMA atau yang sederajat.

Kini teknologi internet bisa menggantikan tatap muka lewat tele-conference, video call, atau bahkan chatting platform. Masih banyak teknologi baru yang akan berkembang, misalnya virtual reality.

Sayangnya beberapa teknologi tersebut bukan hal lumrah dalam dunia pendidikan kita. Ia dikenal luas karena pandemi datang. Sebelumnya, teknologi pembelajaran bak barang mewah di sekolahan.

Maka pandemi ini seharusnya jadi momentum untuk menata ulang orientasi pendidikan, bersiap menghadapi masa depan yang kian tak lepas dari teknologi media.

Pekerjaan rumah paling besar adalah meningkatkan atau memutakhirkan kemampuan guru. Literasi digital bagi guru harus diprioritaskan, agar bisa memanfaatkan teknologi secara efektif.

Jangan sampai keterbatasan terhadap akses, atau infrastruktur, menjadi alasan buruknya kualitas pembelajaran. Jangan semakin mengurangi jatah belajar anak-anak yang sudah rendah bahkan sebelum pandemi tiba.

*Photo by Julia M Cameron from Pexels

Komentar Anda?

91  −    =  86


Topik

Komentar

Gabung Melekmedia!