Beranda  »  Artikel » Literasi Baru   »   PSA Series: Cyberbullying alias Perisakan Daring

PSA Series: Cyberbullying alias Perisakan Daring

Oleh: Melekmedia -- 17 Juli, 2011 
Tentang: , , ,  –  Komentar Dinonaktifkan pada PSA Series: Cyberbullying alias Perisakan Daring

Cyberbullying

Cyberbullying, adalah bullying yang terjadi di dunia maya. Ia seringkali terjadi di platform yang memungkinkan interaksi antar-pengguna, membuat seseorang atau sekelompok orang merasa dilecehkan karena sesuatu hal.

Bullying atau perisakan adalah ketika orang berulang kali dan dengan sengaja menggunakan kata-kata atau tindakan terhadap seseorang atau sekelompok orang untuk menyebabkan kesusahan atau risiko bagi kesejahteraan mereka.

Tindakan ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki pengaruh atau kekuasaan lebih terhadap orang lain, atau yang ingin membuat orang lain merasa kurang berkuasa atau tidak berdaya.

Ketika sebutan atau pelabelan yang merendahkan disampaikan terus-menerus, hal itu termasuk bullying atau sering juga disebut perundungan. Saat terjadi di ranah daring, maka populer dengan istilah cyberbullying.

Penghinaan, pemaksaan, atau pengucilan terjadi secara sadar atau tidak di dunia maya, dan ini bisa dikategorikan sebagai cyberbullying atau perisakan daring.

Dampaknya, korban perisakan akan merasa tertekan, tersingkirkan, dan tidak berdaya. Ia bisa saja kemudian terpaksa mengikuti apa yang diinginkan para penyerangnya, atau yang lebih parah bisa bunuh diri.

Dalam beberapa kasus, iklan bisa disebut juga sebagai bullying. Banyak strategi pendekatan iklan termasuk upaya membujuk, bahkan menakut-nakuti.

Semua bentuk pendekatan itu, diam-diam memberi tekanan bagi komunikan. Tekanan itu diharapkan mengubah kepercayaan masyarakat sesuai dengan maunya pengiklan.

Biasanya, bahan perisakan ini berkaitan dengan kelemahan atau kekurangan. Video-video berikut ini adalah kumpulan iklan layanan masyarakat yang berupaya melawan bullying, terutama di dunia maya.

Apa yang dicontohkan dalam iklan di atas, adalah bentuk perlawanan terhadap perisakan yang diterima di ranah daring. Korban, harus diberi kekuatan untuk melawan, tidak pasrah dan menerima saja perlakuan terhadapnya.

Bentuk perlawanan yang paling sederhana, “selemah-lemahnya iman”, adalah melaporkan perilaku perisakan atau konten yang berisi perisakan ke pihak berwenang.

Bila konten itu dikirim lewat panggung atau platform media sosial yang bisa diakses umum, konten-konten tersebut pasti melanggar aturan penggunaan, dan bisa dilaporkan ke pengelola layanan.

Iklan PSA kedua, lebih menyoroti peran orang tua, atau para pendamping anak. Bila ada anak atau remaja di dalam keluarga yang jadi korban, orang tua atau para pendamping ini harus cepat tanggap.

Korban harus mendapat pendampingan, karena dampak perisakan bisa sangat fatal, misalnya berujung bunuh diri. Maka, pendampingan terhadap anak dan remaja dalam berinteraksi di dunia maya, adalah upaya mencegah perisakan sekaligus mengatasi dampaknya bila telanjur terjadi.

Dalam sebuah penelitian di Kanada dan Amerika Serikat, sebagian besar anak perempuan lebih rentan menjadi korban, dan orang tua tidak memberi privasi pada anak. Orang tua rajin memeriksa komputer anak mereka, untuk mengetahui apa yang dilakukannya di internet.

Butuh cara pendampingan yang tepat dari orang dewasa terhadap anak dan remaja. Orang-orang dewasa ini harus mendukung, tidak terkesan membatasi, tetapi menjelaskan batas-batas yang harus dipahami anak dan remaja.

Misalnya terkait netiket, etiket berperilaku di internet. Seperti juga hidup di dunia nyata, ada etiket yang sebaiknya jadi pedoman moral saat beraktivitas bersama dengan orang lain.

*Photo by cottonbro from Pexels

Maaf, Anda tak bisa lagi berkomentar.


Topik

Komentar

Gabung Melekmedia!