Beranda  »  Artikel » Media Baru   »   TikTok dan YouTube Si Paling Cepu

TikTok dan YouTube Si Paling Cepu

Oleh: Melekmedia -- 22 Februari, 2022 
Tentang: , , , ,  –  Komentar Dinonaktifkan pada TikTok dan YouTube Si Paling Cepu

Si paling cepu Photo by Marek Piwnicki from Pexels

TikTok dan YouTube paling getol mengirim data pengguna. Demikian menurut perusahaan pemasaran URL Genius yang mengumumkan hasil risetnya di Apple iOS 15.2 pada Januari 2022 lalu.

Perilisan iOS versi 15.2 memperkenalkan fitur baru yang memungkinkan pengguna melihat aplikasi mana yang berkomunikasi ke berbagai jaringan. Aplikasi “pelapor” ini bak si paling cepu — diam-diam mengirim data ke server situs lain, sementara pengguna sering kali tidak menyadarinya.

Fitur baru bernama Record App Activity memungkinkan pengguna iOS mengetahui aplikasi mana yang berkomunikasi ke berbagai jaringan, menyimpan ringkasan data, sensor, dan akses internet oleh aplikasi. Terkadang komunikasi dari aplikasi ini ke domain aplikasi itu sendiri, tetapi tak jarang berkomunikasi ke domain pihak ketiga. Tidak jelas data apa yang dibagikan, atau kepada siapa.

Riset URL Genius tersebut mengambil snapshot koneksi jaringan di 200 aplikasi dan 20 kategori aplikasi yang berbeda. Mereka ingin tahu bagaimana industri saat ini melacak konsumen di internet sambil mencoba beralih ke kerangka kerja non-PII (Personally Identifiable Information) yang “lebih ramah” privasi.

Dari 20 kategori berbeda itu terdapat 10 aplikasi dari kategori media sosial, termasuk YouTube, TikTok, Telegram, Whatsapp, dan Snapchat. Peneliti mengunduh setiap aplikasi dan dibuka hanya sekali tanpa mendaftar ke layanan untuk memahami setelan standar (tanpa login).

Studi menemukan bahwa YouTube, milik Google, lebih banyak mengumpulkan data pribadi untuk kepentingan mereka sendiri — semisal melacak riwayat pencarian pengguna, atau bahkan lokasi, demi menayangkan iklan yang relevan.

Adapun TikTok, yang dimiliki oleh raksasa teknologi China, ByteDance, memungkinkan pelacak pihak ketiga untuk mengumpulkan data pengguna. Pelacakan oleh pihak ketiga membuat lebih sulit untuk mengetahui siapa pelacaknya atau informasi apa yang mereka kumpulkan.

YouTube dan TikTok terkoneksi dengan 14 jejaring lain saat diaktifkan di ponsel. Jumlah ini secara signifikan lebih tinggi dari rata-rata enam kontak jaringan per aplikasi media sosial dalam penelitian URL Genius. Angka-angka itu akan lebih tinggi bila pengguna masuk/login ke akun.

10 dari 14 pelacakan YouTube mengarah ke kontak “pihak pertama”, artinya platform tersebut berbagi data dengan jejaring internal perusahaan. Empat kontak lainnya berasal dari domain pihak ketiga, yang memungkinkan segelintir pihak luar mengumpulkan informasi dan melacak aktivitas pengguna.

TikTok lebih misterius: 13 dari 14 kontak jaringan di aplikasi media sosial populer itu berasal dari pihak ketiga. Pelacakan pihak ketiga masih terjadi bahkan ketika pengguna tidak mengizinkan pelacakan di setiap pengaturan aplikasi, menurut penelitian tersebut.

tracking social

Mengapa informasi ini genting?

Sayangnya, di tengah upaya meningkatkan perhatian terhadap keamanan siber, sebagian besar tanggung jawab untuk melindungi pengguna terletak pada diri mereka sendiri. Sementara perangkat menjadi lebih terjangkau, tidak berarti mereka lebih unggul atau secara inheren dapat dipercaya.

Koneksi misterius ke pihak ketiga dari aplikasi memberi peringatan bahwa data tidak pernah aman, kecuali pengguna mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan. Atau, memilih untuk tidak menggunakan aplikasi tersebut sama sekali.

Selain itu, URL Genius memberi catatan tambahan mengenai temuan mereka:

  • Konsumen yang belum memberikan izin untuk dilacak tetap dapat dilacak oleh jaringan pihak ketiga yang dihubungi oleh aplikasi – bahkan dengan penggunaan minimal (tanpa login).
  • Konsumen saat ini tidak dapat melihat data apa yang dibagikan dengan jaringan pihak ketiga, atau bagaimana data mereka akan digunakan.
  • Konsumen saat ini tidak memiliki kemampuan untuk menonaktifkan pelacak – pilihan mereka adalah menggunakan aplikasi atau tidak.
  • Pengembang aplikasi memang membutuhkan alat yang membantu mengukur penggunaan aplikasi yang dapat membantu mengembangkan basis pemasangan dan penggunaan mereka. Terkadang peranti pihak ketiga adalah solusi yang layak untuk kebutuhan ini (misalnya Google Analytic).
  • Aplikasi akan membutuhkan waktu untuk meningkatkan strategi mereka ke solusi yang berfokus pada privasi dan transparan, untuk menekan kekhawatiran pengguna.
  • Pergeseran ini menjadi semakin penting dan mendesak karena konsumen iOS dapat melihat sendiri berapa banyak jaringan yang digunakan setiap aplikasi untuk berbagi data mereka.

Penting untuk memperhatikan ketentuan penggunaan aplikasi yang dibuat oleh pengembang atau pengelola. Biar bagaimanapun, pengguna harus tunduk pada aturan pembuat aplikasi.

Misalnya ketentuan di TikTok, yang terakhir diperbarui pada 2 Juni 2021. Mereka menyatakan telah memperbarui Kebijakan Privasi, dengan menambahkan rincian mengenai informasi yang dikumpulkan dan bagaiman informasi tersebut digunakan. Termasuk di antaranya pengumpulan informasi konten pengguna, penggunaan data untuk verifikasi, dan pembagian data dengan layanan pihak ketiga.

TikTok dengan jelas mencantumkan di antara informasi yang mereka kumpulkan adalah profil pengguna. Pengguna memberi informasi ketika mendaftar, termasuk nama, kata sandi, tanggal lahir (jika berlaku), alamat email dan/atau nomor telepon, informasi yang diungkapkan di profil termasuk foto atau video.

Kepada siapa mereka membagikan informasi tersebut? Dalam situs itu dijelaskan bahwa TikTok membagikan data Anda kepada pihak ketiga seperti mitra bisnis TikTok, layanan pembayaran, penyedia layanan tambahan (misalnya cloud dan moderasi konten), penyedia layanan analitik, pengiklan dan/atau jaringan periklanan, grup internal perusahaan, bahkan penegak hukum.

Selain penegak hukum, informasi pengguna akan dibagikan juga kepada otoritas publik, atau organisasi lain jika diwajibkan secara hukum, atau jika penggunaan tersebut diperlukan secara wajar.

Temuan ini semoga membuat Anda memikirkan baik-baik situasi keamanan sebelum menghubungkan gawai apapun ke jaringan rumah atau kantor. Anda tidak pernah tahu siapa yang bisa melongok. Jangan biarkan Si Paling Cepu mengobral data privat ke pihak lain tanpa Anda menyadarinya.

*Photo by Marek Piwnicki from Pexels

Artikel lain sekategori:

Maaf, Anda tak bisa lagi berkomentar.