Beranda  »  Sorotan Media   »   Mencita-citakan Metaverse yang Inklusif

Mencita-citakan Metaverse yang Inklusif

Oleh: Melekmedia -- 27 Juni, 2022 
Tentang: ,  –  Komentar Dinonaktifkan pada Mencita-citakan Metaverse yang Inklusif

Metaverse Photo by Sound On from Pexels

Puluhan perusahaan teknologi papan atas membentuk “forum metaverse” untuk mendukung pengembangan teknologi tersebut. Tapi ada beberapa pemain besar yang tercecer.

Forum ini diharapkan mendorong pengembangan standar terbuka untuk semesta meta. Fokusnya pada interoperabilitas atau dukungan antar-teknologi agar mudah terhubung satu sama lain.

Ini seperti menyiapkan peranti lunak dan peranti keras yang dapat digunakan untuk berbagai macam komputer—baik yang berbasis Windows, Mac, atau pun sistem operasi terbuka semacam Linux.

Dengan begitu, ia tak akan jadi eksklusif.

Lebih dari 30 organisasi teknologi pun berhimpun dalam “Metaverse Standards Forum“, sepakat untuk mengembangkan protokol interoperabilitas demi metaverse yang terbuka nan inklusif.

“Metaverse akan menyatukan beragam teknologi, yang membutuhkan konstelasi standar interoperabilitas, yang dibuat dan dikembangkan oleh banyak organisasi,” kata Neil Trevett, presiden Khronos.

“Forum ini adalah tempat yang unik untuk koordinasi antar-organisasi, dengan misi mendorong standarisasi pragmatis untuk metaverse yang terbuka dan inklusif.”

Khronos Group adalah salah satu penyelenggaranya. Konsorsium terbuka, nirlaba, dan digerakkan oleh 170-an organisasi ini telah bekerja lebih dari 20 tahun untuk menjamin interoperabilitas.

Mereka mengembangkan, menerbitkan, serta memelihara standar interoperabilitas bebas royalti untuk grafik 3D, realitas virtual, realitas tertambah, komputasi paralel, akselerasi penglihatan, dan pembelajaran mesin (machine learning).

Adapun kegiatan forum metaverse baru ini akan diarahkan oleh kebutuhan dan minat anggotanya, semisal pengembangan aset dan rendering 3D, antarmuka, serta paradigma interaksi seperti AR dan VR.

Mungkin juga tentang konten yang dibuat pengguna (UGC), avatar, manajemen identitas, privasi , dan transaksi keuangan. Pertemuan forum diharapkan dimulai pada Juli 2022.

Mereka ingin mendorong kerja sama industri dengan standar interoperabilitas dimaksud barusan melalui taktik seperti hackathon, implementasi prototipe, dan perangkat sumber terbuka.

metaverse standards forum

Nama-nama besar yang absen

Metaverse Standards Forum seolah ingin mencapai apa yang dilakukan Matter untuk perangkat rumah pintar: menyatukan produsen seperti Samsung, Google, dan Apple untuk membuat standar terbuka demi menghubungkan gawai dan memungkinkan interoperabilitas.

Nama besar seperti Adobe, Epic Games, Sony, Meta, dan Microsoft tercantum di sana. Namun, Apple dan sejumlah perusahaan yang diramalkan jadi pemain besar metaverse, justru absen.

Selain Apple, perusahaan gim Niantic dan Roblox, bahkan perusahaan aset kripto The Sandbox dan Decentraland juga tak ada.

Sebagai konteks: Apple diduga sedang mengerjakan perangkat keras Extended Reality atau XR (AR, VR, dan MR) dan akan meluncurkan headset pertamanya dalam beberapa tahun ke depan.

Perangkat keras yang masih misteri ini konon menjadi salah satu headset paling canggih dari jenisnya yang mengandalkan teknologi pelacakan mata; menggunakan tidak kurang dari 15 kamera, menjalankan sistem operasi metaverse milik Apple yang disebut realityOS.

Pengaruh Apple dalam memperkenalkan produk baru—ingatlah bagaimana mereka mempopulerkan ponsel pintar, tablet, jam tangan pintar, dan earbud—tidak tertandingi. Ketidakhadiran Apple pun jadi pertanyaan besar.

Nama-nama seperti Niantic, Decentraland dan The Sandbox, juga tak bisa diremehkan. Niantic misalnya, menghadirkan fenomena augmented reality paling awal dengan “Pokemon GO”. Roblox, dikenal sebagai salah satu platform pembuatan game online terbesar di luar sana.

9to5mac.com menyatakan Apple belum berkomentar mengenai forum baru tersebut. Menurut mereka, hal itu tidak mengherankan lantaran perusahaan besutan Steve Jobs itu tak nampak agresif dengan tren metaverse.

Apple dinilai lebih “konservatif”. Meski gosip tentang perangkat keras XR yang dikerjakannya sudah jadi rahasia umum, Apple bahkan tak menyinggungnya dalam ajang WWDC 2022 yang digelar awal Juni lalu.

Kontras dengan Meta yang menyasar pengguna awam, perangkat generasi pertama yang sedang dikembangkan Apple diduga akan sangat mahal, “hanya” untuk pengembang dan pengguna profesional lainnya.

Menanti peran forum metaverse

Jangan salah sangka, forum ini bukan lembaga baru yang menerbitkan standar dalam teknologi. Seperti dijelaskan di situsnya, mereka adalah forum untuk mempertemukan berbagai organisasi pemangku standar dalam implementasi teknologi.

Organisasi pemangku standar ini lazim disebut Standard Development Organization (SDO), organisasi yang berfokus pada pengembangan, penerbitan, atau penyebarluasan standar teknis untuk memenuhi kebutuhan industri atau bidang tertentu.

Pemangku standar WWW, Worldwide Web Consortium (W3), pun ada dalam forum itu. Selain W3, ada Open AR Cloud, Spatial Web Foundation, dan Open Geospatial Consortium. Ini memberi legitimasi yang cukup, karena metaverse adalah teknologi yang sedang berkembang.

Mereka akan “menjelajahi kekurangan interoperabilitas yang menghambat popularitas metaverse dan bagaimana membantu percepatan SDO dalam mendefinisikan dan mengembangkan standar yang dibutuhkan.”

Dengan posisinya sebagai pemangku standar atas segala standar yang sudah ada, tak aneh bila The Register menyebutnya “meta-standard“.

Tapi seberapa efektif kerja forum ini, masih perlu dinanti. Wabil khusus karena absennya pemain-pemain besar seperti Apple dkk. yang telah dibahas barusan.

Bayangkan bila ada aplikasi atau peranti keras seperti kaca mata virtual untuk mengakses semesta meta yang tak bisa dicolokkan ke peranti buatan Apple—jajaran ponsel pintar hingga komputer desktop dan laptop serta tabletnya—apa kata dunia?

Memopulerkan teknologi baru ini jelas pekerjaan rumah yang tak mudah. Dalam salah satu survei di Indonesia, misalnya, masih banyak yang belum bisa memutuskan apakah akan bergabung dalam metaverse meski tak keberatan mempelajarinya.

Sementara, survei eMarketer di Amerika Serikat menunjukkan sekitar 3 persen orang dewasa telah membeli real estat di semesta meta, dan 8 persen tertarik untuk berinvestasi di sebidang tanah digital.

Namun, lebih dari separuh orang dewasa di AS belum pernah mendengar tentang real estat virtual, yang menunjukkan bahwa pasar metaverse belum menjangkau masyarakat awam.

Forum ini akan berperan penting dalam “memasyarakatkan metaverse, dan memetaversekan masyarakat“. Ujungnya, membantu para perusahaan teknologi yang punya produk untuk memasarkan barang jualannya.

Metaverse yang inklusif seperti dicita-citakan, dengan kata lain adalah semesta baru yang dapat menjangkau pasar, seluas-luasnya.

*Foto ilustrasi: Sound On

Artikel lain sekategori:

Maaf, Anda tak bisa lagi berkomentar.