25 March, 2010 

Lawan Penyebarluasan Data Pribadi Tanpa Etika

Oleh: rahadian p. paramita
Tentang: , ,  –  2 Komentar

Promo Telkom-Speedy ini membuat saya heran. Saya (baru) dua kali mendapat email karena promo ini, dari dua teman yang berbeda. Saya maklum soal mereka pengen mendapatkan hadiah yang ditawarkan, dan mungkin mereka melakukannya tanpa sadar. Tapi Telkom yang mendorong orang lain/publik melakukan hal seperti ini? Apakah ini etis?

Anda diminta mengirimkan email sebanyak-banyaknya, kepada teman-teman Anda (cross posting), yang harus ditembuskan kepada Telkom. Bagi saya ini sama saja dengan memberi akses kepada Telkom kepada jutaan email orang lain, yang belum tentu rela emailnya disebarluaskan sedemikian rupa. Modus yang mirip seperti pesan berantai ini biasanya juga dilakukan melalui SMS.

Perilaku menyebarluaskan email orang lain, dan kemungkinan besar tanpa ijin pemiliknya, menurut interpretasi saya terhadap UU-ITE yang sedang hot belakangan ini, adalah salah satu pelanggaran. Coba tengok pasal 32 ayat 2 berikut ini:

Dalam Bab I bagian penjelasan, yang dimaksud dengan Informasi Elektronik salah satunya adalah Electronic Mail (e-Mail), bisa mengacu ke isinya, maupun alamatnya. Saya bukan ahli hukum, jadi saya butuh pencerahan dari Anda yang paham dengan hukum, terutama aturan yang satu ini.

Dengan promo semacam ini, menurut saya sama saja dengan memberi imbalan/dorongan kepada orang agar menyebarluaskan/mengirimkan alamat email orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya, kepada pihak lain dalam hal ini Telkom. Coba tengok juga netiket yang dimuat di Wiki berikut:

Netiquette, a portmanteau of “net etiquette“, is a set of social conventions that facilitate interaction over networks, ranging from Usenet and mailing lists to blogs and forums. These rules were described in IETF RFC 1855.[1] However, like many Internet phenomena, the concept and its application remain in a state of flux, and vary from community to community.

The points most strongly emphasized about USENET netiquette often include using simple electronic signatures, and avoiding multiposting, cross-posting, off-topic posting, hijacking a discussion thread, and other techniques used to minimize the effort required to read a post or a thread.

Netiquette guidelines posted by IBM for employees utilizing Second Life in an official capacity, however, focus on basic professionalism, maintaining a tenable work environment, and protecting IBM’s intellectual property.[2] Similarly, some Usenet guidelines call for use of unabbreviated English[3][4] while users of online chat protocols like IRC and instant messaging protocols like SMS often encourage just the opposite, bolstering use of SMS language.

Netiket memang tidak berdasar hukum. Seperti yang disebutkan di atas, ia lebih bersifat konvensi sosial. Tapi bagi Anda yang sering beraktivitas dengan internet, maka Netiket ini biasanya menjadi dasar yang harus dipahami. Berlaku tidak etis di internet akan memberi Anda citra sebagai orang yang tidak ber-etika.

Anda yang mengikuti anjuran promo ini mungkin bisa beruntung mendapatkan hadiah, tapi ada wilayah privat orang lain yang masuk ke situ. Saya tidak tahu akan diapakan daftar alamat email yang masuk ke Telkom itu. Semoga saja tidak dijadikan database, lalu nantinya akan jadi target promosi Telkom lainnya.

Dalam kasus lain, Anda mungkin seringkali menerima SMS yang berisi pengumuman atau pemberitahuan bahwa Anda telah memenangkan sesuatu. Hati-hati juga dengan trik penipuan semacam ini. Sudah banyak korban jatuh, hanya karena tidak bisa membedakan SMS dari operator betulan, dengan SMS gadungan. Biasanya mereka akan meminta Anda ke ATM, lalu menyebutkan nomor rekening dan PIN tabungan, tanpa Anda menyadarinya. Dan masih ada seribu satu cara lagi, yang mungkian dicoba oleh para penjahat. Anda bisa lihat daftarnya di situs http://reskrimum-metro.org, dari laporan masyarakat yang entah terjawab atau tidak.

Kalau dalam kasus telepon, seringkali kita tidak tahu darimana seorang salesman bisa mengetahui nomor pribadi kita, lalu menelepon untuk urusan penawaran produk/jasa tertentu. Biasanya ini dari salesman perbankan, yang entah darimana mereka bisa punya nomor handphone atau nomor telepon rumah kita. Nah, di bawah ini ada rekaman menarik tentang bagaimana seseorang “membalas” para salesman yang tanpa ijin bisa mengetahui/mengakses nomor telepon pribadi kita. Tentu bukan cara yang disarankan, karena Anda bisa saja menolaknya dengan sopan. Tetapi kalau sudah di luar batas kewajaran, cara lucu ini menarik juga untuk dicoba. ๐Ÿ˜€

*Gambar: captured from http://images.telkomspeedy.com

2 Komentar untuk “Lawan Penyebarluasan Data Pribadi Tanpa Etika”

  1. Mang Memed

    Susah sih selama kesadaran mengenai pentingnya ‘kerahasiaan’ data pribadi masih belum memasyarakat. Masalahnya, memang belum ada yang memasyarakatkannya sih ๐Ÿ˜€
    Jadi, mungkin sebelum dilawan penyebarluasan data pribadi nya – perlu diadakan pemasyarakatan penting nya kerahasiaan data pribadi.

  2. prajnamu

    Begitulah mang… kampanye melek media, salah satu materinya memang bicara tentang itu, supaya tidak sembarang upload materi, atau informasi yang bersifat pribadi. Kalaupun harus dilakukan, tahu cara yang paling aman…

    Thanks sudah mampir! ๐Ÿ˜€

Komentar Anda?


Gabung Melekmedia!