Beranda  »  Artikel » Literasi Baru   »   [Eksploitasi] Anak dalam Industri Media

[Eksploitasi] Anak dalam Industri Media

Oleh: rahadian p. paramita -- 8 Februari, 2010 
Tentang: , ,  –  Komentar Dinonaktifkan pada [Eksploitasi] Anak dalam Industri Media

Consumering Kids

Film dokumenter berjudul Consuming Kids ini sayangnya bukan sebuah sinetron kejar tayang yang ditunggu oleh ibu-ibu. Padahal film ini bicara tentang mereka, tentang anak-anak mereka, dan bagaimana dunia mengeksploitasi mereka.

Di Indonesia, kita bisa temukan beberapa tayangan di televisi yang dibungkus dengan adu bakat, tapi sejatinya hampir tidak berbeda dengan fakta-fakta yang dikemukakan dalam film ini.

Dari berbagai sudut pandang, termasuk di dalamnya segi medis, hak-hak anak, bahkan dari kaca mata “orang dalam” industri yang seringkali mempraktekkan ekspoitasi tersebut, film ini berupaya menunjukkan betapa eksploitasi besar-besaran terhadap anak sedang terjadi saat ini.

Di sini, hanya bisa ditampilkan satu potongan filmnya saja. Cukup lumayan untuk bisa menangkap informasi yang ada di dalamnya. Durasi totalnya cukup panjang, kurang lebih 1 jam. Sayangnya lagi, film ini tidak tersedia dengan mudah di pasaran kita. Untuk mendapatkannya, Anda harus membeli dari web https://www.mediaed.org, seharga $250, atau sekitar Rp 2.352.500,- (berdasarkan kurs rupiah pada saat artikel ini ditulis).

Kita bisa melihat di layar kaca, iklan-iklan yang menggunakan talent (model/tokoh) anak kecil di bawah umur, bertebaran seolah tanpa aturan yang jelas. Ada iklan kudapan coklat yang memeragakan anak kecil dengan kostum mafia, dan dengan ‘gagah’ memegang kudapan itu layaknya cerutu.

Kode etik periklanan – di Indonesia disebut sebagai Tata Krama dan Tata Cara Periklanan Indonesia, dipandang tidak berdampak serius terhadap kualitas iklan di media kita.  Padahal, katanya bisa ada hukuman denda dan pidana atas pelanggaran kode etik periklanan.

Salah satu pengulas film ini, seorang ahli psikologi anak yang mengasuh web JustAskBaby.com. menyatakan kemarahan sekaligus kekesalannya karena fakta bahwa banyak profesional yang dipekerjakan di balik eksploitasi semacam ini, dan beberapa di antaranya adalah temannya sendiri.

Ia menyoroti bagaimana penggunaan anak dalam iklan, baik bagi para penonton maupun anak sebagai pemain dalam iklan tersebut, sangat mengkhawatirkan. Berikut kutipan dari webnya, tentang ulasan film Consuming Kids:

If corrupting children’s values were not enough, their health is also being compromised. In the absence of any regulation of food products sold to children, they are bombarded with ads that celebrate cereals and snack foods high in fat, salt, and sugar. As a result the number of obese children is skyrocketing and Type II Diabetes among the young is reaching epidemic proportions. It is also very likely that the increase in the incidence of ADHD and other learning problems is closely related to the long hours children spend watching television and playing computer games.

Cukup aneh kalau melihat bagaimana orang tua sekarang sangat bangga anaknya menjadi model iklan, atau sibuk menjalani shooting sebagai artis sinetron, atau dinilai di depan publik dalam acara idol-idolan. Apakah anak di bawah 13 tahun seperti itu, sanggup menghadapi tekanan publik seperti layaknya orang dewasa? Tak terbersitkah dampak psikologis terhadap anak dengan keterlibatan dini mereka di media seperti itu?

Facebook misalnya, sebagai salah satu jejaring sosial terbesar, membatasi usia anak untuk menjadi pemilik akun, minimal 13 tahun. Mereka cukup mendapat tekanan dari publik soal ini. Iklan? Program TV? Bagaimana mencerahkan penonton bahwa anak-anak masih perlu ruang pemakluman, karena inilah waktu mereka bereksplorasi dengan dunia baru?

Wahai orang tua, bertanyalah lebih sering dan lebih banyak kepada diri sendiri, dan berpikirlah kritis terhadap tawaran menggiurkan media massa terhadap anak Anda. Temukan informasi yang benar, tentang kondisi psikologi anak Anda.

Dunia anak adalah dunia serba nyata, apa yang dilihatnya diterima sebagai kenyataan. Mereka belum mengenal analogi, gaya bahasa, atau metafora yang rumit dalam komunikasi di media sekarang ini. Melibatkan mereka sejak dini dalam industri ini, harus seiring dengan mencerdaskan mereka tentang bagaimana industri ini bekerja, dan memengaruhi kehidupan.

Media literasi, berupaya membuka wawasan publik mengenai hal ini. Orang tua, sudah saatnya mulai peduli dengan dampak media massa, terhadap perkembangan anak-anak mereka jika hanya menjadi konsumen informasi, atau bagian dari eksploitasinya.

Disinilah pentingnya media literasi, atau melek media, ditularkan kepada orang tua dan sekolah, agar anak-anak mendapat kemampuan yang cukup menghadapi gelombang informasi lewat berbagai media saat ini dan di masa depan.

*Gambar diambil dari adventuresinautism.blogspot.com

Artikel lain sekategori:

Maaf, Anda tak bisa lagi berkomentar.