12 July, 2011 

Belajar Literasi Dijital dari Kasus Prita

Oleh: melekmedia
Tentang: , ,  –  Komentar Anda?

prita-mulyasari-email-ke-penjara

Kasus Prita Mulyasari kembali merebak setelah tanggal 30 Juni yang lalu Mahkamah Agung (MA) mengabulkan kasasi Jaksa Penuntut Umum terhadap pembebasan Prita oleh Pengadilan Negeri Tangerang. Persoalan hukum di balik kasus ini sedemikian rumit, dan saya yang bukan ahli hukum tidak berani ikut ambil suara soal itu. Salah satu beritanya bisa dilihat di kompas.com. Mari kita lihat dari sisi yang lain. Dalam konteks melekmedia, terutama Literasi Dijital (Digital Literacy).

Lihat blog pribadi saya di topik #freeprita.

Dalam artikel lama berjudul Dunia Maya, Hutan Belantara, sudah dijelaskan bahwa Interent, dunia maya yang baru ini membutuhkan ‘life skills‘ baru untuk bisa bertahan hidup di sana. Dunia yang bisa menghubungkan siapa saja, kawan maupun lawan, membuka tabir ruang-ruang pribadi menjadi ruang publik, secara sadar atau tidak. Dulu bergosip di antara tetangga bisa dilakukan sembunyi-sembunyi, sekarang dengan teknologi informasi – terutama berkembangnya jejaring sosial – ruang yang tersembunyi itu hampir tidak ada.

Dunia baru ini sedemikian transparan, sehingga kadangkala orang lupa, sedang di ruang mana ia berada. Karena itu literasi dijital sangat penting untuk dikuasai. Paling tidak yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Tentang Digital Literacy atau Literasi Dijital

Digital Literacy atau Literasi Dijital, dimaknai sebagai keaksaraan dalam berkegiatan di dunia digital, termasuk di dalamnya adalah Internet. Sebuah forum jejaring sosial digiteen.ning.com memuat salah satu artikel berjudul What is Digital Literacy. Dari sana mari kita lihat definisinya:

A digitally-literate person will be able to express herself by creating a presentation, a podcast or a video. She will be able to validate data before putting it into a model, and then verify the results of the modelling process in terms of the accuracy and plausibility of the data.

A digitally-literate person will be able to use software applications in elegant and efficient ways, and even perhaps in ways that could not have been foreseen by the program’s creators.

Kata literasi itu sendiri jangan hanya dimaknai sebagai kemampuan baca tulis, seperti dalam “Calistung“. Literasi Dijital dimaknai sebagai kemampuan atau kompetensi baru di era digital. Istilah ini dijelaskan sebagai kemampuan seseorang untuk mengekspresikan dirinya dalam beragam media dijital, tetapi dari sumber data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Penggunanya juga mampu mendayagunakan beragam piranti digital secara efektif, bahkan mungkin di luar perkiraan si pencipta piranti itu sendiri.

Contoh kasus untuk pernyataan ini adalah ketika seseorang menulis blog, ia mungkin harus mulai menggali data di internet, dan karena itu harus menguasai pencarian yang efektif melalui mesin pencari di internet. Google, sebagai salah satu mesin pencari terbesar di internet, menyediakan banyak fitur untuk mengefektifkan pencarian. Menguasai trik pencarian melalui Google, bisa mempercepat pencarian, sekaligus memperkaya hasilnya.

Selain persoalan teknologi, ada persoalan etika dalam dunia dijital yang mungkin belum dipahami oleh banyak pihak. Etika dalam mengirim email, berdikusi di forum, membuat status di jejaring sosial, atau membuat tulisan di blog, semuanya itu terkadang luput dari perhatian para pengguna baru. Etika, biasanya tidak diatur dalam perundang-undangan. Intinya, ada banyak aturan baru yang harus dipahami jika berinteraksi di dunia maya.

Sekilas Kasus Prita Mulyasari

Dalam kasus Prita, memang banyak kesimpangsiuran. Tapi seperti yang disebutkan di atas, rumitnya kasus hukum ini sulit dipahami orang awam. Dalam sebuah artikel di kompas.com, juga sempat diulas mengapa bisa terjadi perbedaan pandangan dalam putusan terhadap kasus hukum perdata dengan pidana terhadap Prota. Artikel lainnya dari blog samardi.wordpress.com mungkin bisa jadi rujukan lebih lanjut.

Untuk sekedar mengingatkan pada kasusnya, Prita telah mengirimkan email berjudul “Penipuan OMNI International  Hospital Alam Sutera  Tangerang” kepada teman-temannya. Berikut adalah potongan rekaman email asli dari Prita yang tersebar melalui salah satu halaman Facebook:

Lihat email »

Email ini berbeda dengan Surat Pembaca berjudul “RS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif“, yang tertulis di sana dikirim oleh Prita Mulyasari. Konon Prita sendiri membantah pernah mengirim surat pembaca ke detik.com. Dalam artikel sebelumnya di blog lain, saya pikir Prita yang mengirimkan Surat Pembaca itu, karena hingga hari ini surat yang dikirim 30 Agustus 2008 itu masih bisa diakses.

Lihat Surat Pembaca »

Bukti yang digunakan di pengadilan bukanlah surat pembaca ini, melainkan email pribadi Prita yang dikirim ke teman-temannya. Dalam putusan kasasi perdata, MA membebaskan Prita dari tuduhan mencemarkan nama baik, karena tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. Email Prita itu tidak bernada melecehkan atau menghina, tetapi disimpulkan sebagai kritik terhadap pelayanan yang lambat dan tidak menghasilkan diagnosis yang akurat. Ini menguatkan putusan sebelumnya dari Pengadilan Negeri Tangerang.

Kaitan Kasus Prita dan Literasi Dijital

Penegak hukum menggunakan pasal-pasal dalam Undang-undang ITE yang sangat berkaitan dengan material digital. Karenanya digital forensic diperlukan untuk membuktikan bahwa semua barang bukti yang diajukan sah demi hukum. Dalam ranah dijital, pembuktian keaslian bisa melalui informasi mendasar tentang darimana email itu dikirim, alamat email si pengirim dan yang dituju, serta apakah email tersebut dapat dibuktikan dikirim oleh si tersangka pengirim. Ini jelas butuh keahlian dijital yang lebih lanjut. Dalam artikel lain tentang Digital Forensic Prita [pdf] bisa dibaca penjelasannya.

Dari sisi lainnya, dalam aplikasi email ada tiga entry dimana kita bisa memasukkan alamat email tujuan; To, CC, dan BCC. ‘To’ biasanya adalah alamat langsung yang kita tuju, sedangkan ‘CC’ atau Carbon Copy, adalah alamat kepada siapa kita ingin mengirimkan salinan atau tembusan email tersebut secara terbuka. Catatan, dalam dunia surat menyurat, pengiriman “Tembusan” lazim dilakukan, dan fitur ‘CC’ berfungsi persis seperti itu. Sedangkan ‘BCC’ atau Blind Carbon Copy, biasanya merujuk pada alamat yang kepadanya kita kirimkan salinan email tersebut, tanpa sepengetahuan yang lainnya.

Dalam etika berkirim surat, tentu ada banyak alamat email yang kita kenal, tetapi mereka tidak mengenal satu sama lain. Misalnya, tetangga Anda mungkin bukan teman sekantor atau yang berkenaan dengan pekerjaan Anda. Kalau kita mengirimkan sesuatu kepada mereka semua, maka sebaiknya fitur BCC ini digunakan, karena kita akan melindungi alamat email yang sifatnya pribadi kepada ‘publik’ yang lebih luas tanpa seijin empunya. Dan tentu saja, pastikan bahwa topik dan isi email yang Anda kirim itu layak untuk dipublikasikan secara luas.

Dalam kasus Prita, email yang dikirim kepada teman-temannya meluas karena dipublikasikan oleh seseorang. Hingga hari ini siapa yang pertama kali mempublikasikan email ini tidak diketahui. Bahkan email  yang digunakan sebagai bukti di pengadilan, adalah email Lanjutan (Forward) yang diragukan keasliannya karena rentan manipulasi. Prita sendiri menggunakan fitur ‘To’ untuk mengirim email tersebut kepada 20 temannya.

Pelajaran yang bisa kita ambil adalah, bagaimana menggunakan fitur email ini sebagaimana mestinya. Sebagai alat komunikasi digital pengganti surat-menyurat via pos, etika umum bisa kita gunakan. Etika sederhana seperti tidak membuka surat yang ditujukan untuk orang lain, atau tidak menyebarluaskan surat yang tidak ditujukan untuk umum tanpa seijin pengirimnya, tentu masih bisa berlaku. Dalam hal literasi dijital, aturan umum ini masih harus digunakan.

Melek dijital, berarti kita harus memahami dan mematuhi aturan-aturan atau etika yang lazim berlaku meski dengan perkembangan teknologi saat ini, godaan untuk melanggarnya sangat besar. UU ITE yang mencoba mengatur beberapa perilaku dalam dunia dijital, meski masih diperdebatkan secara luas, perlu kita tengok isinya. Sejak kasus Prita ini mencuat, UU ITE menjadi kontroversi yang seolah tak ada habisnya. Ada pihak yang menyatakan undang-undang ini layak dicabut, atau paling tidak direvisi. Sedangkan pihak pemerintah, tampaknya bersikukuh mempertahankannya.

Semoga kita dapat belajar dari berbagai kasus, dan jangan sampai terulang kembali. Mengenai protes terhadap UU-ITE, kami sepakat bahwa UU itu harus dibongkar ulang. Kentalnya aroma pembatasan terhadap kebebasan berekspresi sangat berbahaya bagi demokrasi di masa depan. Apalagi dalam kasus Prita ini, suara konsumen bisa dianggap pencemaran nama baik, padahal konsumen punya hak menyuarakan keberatan jika ada yang tidak sesuai dengan janji si penyedia layanan/produk. Dengan melek dijital, paling tidak kita bisa memanfaatkan media di dunia digital dengan efektif dan efisien, tanpa harus melanggar etika dan hukum yang berlaku. Dengan catatan, hukumnya tidak ‘cacat’.

Komentar Anda?


Topik

Komentar

Gabung Melekmedia!


Hosting oleh: